Foden atau Palmer, Pilihan Dilematis Tuchel untuk Piala Dunia

Dua talenta terbaik Inggris bersaing berebut satu tempat di skuad ”Tiga Singa”. Pelatih Thomas Tuchel dihadapkan pada dilema Phil Foden dan Cole Palmer.

02 Apr 2026 16:27 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Prasetyo Eko Prihananto

Kekalahan dari Jepang pada laga uji coba di Stadion Wembley, London, Selasa (31/3/2026), menjadi potret tantangan Inggris dalam menemukan peran paling efektif bagi sejumlah talenta terbaiknya menjelang Piala Dunia 2026. Dua gelandang serang terbaik, Phil Foden dan Cole Palmer, salah satunya terancam terdepak dari skuad.

Meski dua kali memercayai Foden sebagai pemain mula pada dua laga uji coba terakhir, Pelatih Inggris Thomas Tuchel menegaskan posisi Foden di skuad ”Tiga Singa” tidak pasti. Di luar hasil mengecewakan, kekalahan 0-1 dari Jepang menjadi sarana bagi Tuchel mematangkan strategi permainan tim serta evaluasi para pemain sebelum ia memutuskan 24 anggota skuad untuk dibawa ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Tuchel menurunkan Foden sejak menit awal dalam dua laga persiapan terakhir, bisa dibaca ia ingin menguji sang pemain. Sayangnya, dari performa menghadapi ”Samurai Biru”, mantan pemain terbaik Liga Primer Inggris musim 2023/2024 itu bisa dinilai gagal lolos ujian.

Ketika ditanya apakah ada tempat bagi sang pemain di skuad Piala Dunia, pelatih asal Jerman tersebut berkata: ”Tidak ada jaminan ia akan masuk,” jawab Tuchel.

Tuchel mengatakan, Foden tampil luar biasa saat latihan, tetapi kesulitan menunjukkannya saat pertandingan sesungguhnya. ”Jelas dia tidak mendapatkan banyak menit bermain bersama City belakangan ini, lalu dia datang ke pemusatan latihan dengan senyum paling cerah dan tampil sangat bagus saat latihan,” tambah Tuchel.

England Japan Soccer

Foden memang hanya menjadi starter dalam empat dari 15 pertandingan terakhir City dan belum mencetak gol sejak 14 Desember, setelah mencatatkan enam gol dalam lima laga. Didapuk menggantikan peran Harry Kane melawan Jepang, Foden ditempatkan sebagai penyerang false nine. Peran tersebut menuntut kecerdasan sepak bola sang pemain, ketepatan waktu, dan kepekaan terhadap dinamika permainan. Foden tak menunjukkan hal tersebut.

Secara teknis, Foden tetap memperlihatkan kualitas individu sebagai salah satu talenta terbaik Inggris, yaitu sentuhan halus, kelincahan, dan kemampuan bergerak di antara lini. Akan tetapi, semua itu tidak berkontribusi positif pada permainan tim.

Sebagai false nine, ia belum mampu menjadi pemantik serangan maupun poros ritme permainan. Inggris kehilangan titik target di lini depan, sementara Foden kerap terisolasi dari alur serangan yang banyak berkembang dari tengah dan sisi sayap.

”Saya pikir dia akan mengejutkan kami dan akan bermain dengan semangat dan antusiasme yang sama, tetapi, ya, dia kesulitan untuk memberikan dampak penuh,” tambah Tuchel. Foden pun ditarik keluar pada menit ke-60 digantikan Dominic Solanke.

Tuchel dihadapkan pada dilema sulit karena performa gelandang serang lainnya, Palmer, juga tidak lebih baik. Pemain yang memiliki kontribusi besar saat Inggris menjadi finalis Piala Eropa 2024 ini belakangan perfomanya menurun bersama Chelsea.

Gelandang Inggris Cole Palmer (kiri) berebut bola dengan gelandang Jepang Daichi Kamada pada laga uji coba di London, Selasa (31/3/2026).

Performa tersebut ternyata terbawa saat tampil membela timnas Inggris. Diberi keleluasaan berkreasi di lini tengah dengan peran Nomor 10, Palmer juga gagal memberikan kontribusi positif pada permainan Tiga Singa. Ia secara konsisten kehilangan bola, salah satunya berujung pada gol kemenangan Jepang yang dicetak oleh Kaoru Mitoma pada menit ke-23. Palmer pun ditarik keluar digantikan Jared Bowen.

Situasi Foden dan Palmer menghadirkan dilema sulit bagi Tuchel. Ia harus memilih opsi yang paling sedikit risikonya atau paling sedikit keburukannya. Bisa saja Tuchel memilih membawa keduanya, tetapi ia harus mengorbankan satu pemain lain yang bisa memberi dampak lebih pada permainan Inggris. Apalagi seperti terlihat pada laga lawan Jepang, keduanya sulit bermain bersama dalam satu tim.

Ketika dihadapkan pada pilihan Foden atau Palmer, penulis utama sepak bola BBC Inggris, Phill McNulty, dalam kolomnya soal siapa saja pemain yang akan masuk ke skuad Inggris, lebih memilih Palmer. Alasannya, Palmer menunjukkan kualitas, seperti goalnya pada final Euro 2024, yang bisa menjadi faktor X timnas Inggris di Piala Dunia.

”Saya akan memilihnya (Palmer) ketimbang Foden, yang performanya di level klub cenderung menurun musim ini dan tampil kurang meyakinkan saat menjadi starter dalam uji coba melawan Uruguay di Wembley. Namun, Foden tidak layak disalahkan atas minimnya kontribusi saat dipasang sebagai false nine melawan Jepang mengingat peran tersebut bukan posisi alaminya,” tulis McNulty.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel mendampingi pasukannya saat laga uji coba lawan Jepang di London, Selasa (31/3/2026).

Menurut McNulty, kedua tampil di bawah performa melawan Jepang, tetapi kemampuan Palmer untuk mengubah jalannya pertandingan—belum lagi keahliannya sebagai eksekutor penalti—membuatnya masuk ke dalam skuad. Sementara itu, Foden masih belum tampak benar-benar menyatu sebagai pemain timnas Inggris.

Foden akan kesulitan bersaing di lini tengah karena ada Jude Bellingham, Elliot Anderson, Morgan Rogers, Declan Rice, Adam Wharton, dan Kobbie Mainoo yang performanya terus menanjak. Sementara jika bermain sebagai penyerang, ia harus bersaing dengan Harry Kane, Marcus Rashford, Anthony Gordon, Bukayo Saka, Noni Madueke, Eberechi Eze, dan Palmer.

Tuchel harus menyerahkan daftar skuad final kepada FIFA paling lambat 30 Mei 2026, sebelum Inggris mengawali kiprah mereka di Piala Dunia dengan menghadapi Kroasia pada 17 Juni di Arlington, Texas. Tuchel harus tega mendepak sejumlah talenta terbaik Inggris. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase