Perubahan geopolitik dan perkembangan tarif perdagangan mendorong banyak perusahaan untuk mencari strategi baru guna mengoptimalkan rantai pasok.
16 Jan 2025 08:00 WIB · Ekonomi
Di akhir tahun 2024, Dana Moneter Internasional (IMF) telah memproyeksi bahwa perang dagang dalam wujud saling balas penerapan tarif barang antarnegara dapat membuat ekonomi dunia tersungkur dalam situasi suram pada tahun ini.
Tak cuma perang dagang, konflik geopolitik juga meningkatkan biaya, mengganggu rantai pasok, yang berujung pada terhambatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan.
Padahal, di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap jasa transportasi barang ekspor dan impor asing cukup besar sehingga defisit neraca jasa sektor itu semakin melebar.
Setidaknya, dalam tujuh tahun terakhir, 2018-2024, rantai pasok dan logistik global tertekan akibat gempuran beruntun sejumlah persoalan. Dimulai dari perang dagang Amerika Serikat (AS)-China, pandemi Covid-19, hingga berlanjut ke perang Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.
Negara-negara yang terlibat konflik, baik secara langsung maupun tidak langsung, berbondong memindahkan perdagangan dan investasi, baik ke negara-negara yang memiliki kesamaan pandangan politik-ekonomi maupun ke negara tetangga atau wilayah terdekat.
Kondisi ini sejalan dengan laporan hasil survei bertajuk ”Supply Chain Resilience” yang dikeluarkan organisasi nirlaba di bidang penelitian ekonomi dan manajemen bisnis The Conference Board. Untuk menghasilkan laporan ini, The Conference Board melakukan survei terhadap 1.700 perusahaan global dari berbagai sektor di seluruh dunia.
Berdasarkan hasil survei, terlihat bahwa sekitar 75 persen dari seluruh perusahaan yang disurvei mengatakan perlu mengubah atau mengalkulasi ulang keterlibatan mereka dalam rantai pasok yang sudah lama dijalani secara mapan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/05/4d58efa9-3d2f-46d0-99e9-f4228f451bc8_jpg.jpg)
Mengomentari laporan tersebut, dalam sebuah forum di Jakarta yang berlangsung Rabu (15/1/2025), Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengatakan, pengusaha global dihadapkan pada tantangan merombak dan mendiversifikasi rantai pasok untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik dan tarif dagang.
Ia menambahkan, bukan hanya ketegangan geopolitik yang memecah perdagangan global, melainkan juga dampak perubahan iklim terhadap kedua sektor tersebut semakin nyata. Musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino menyebabkan Danau Gatun, sumber air Terusan Panama, susut. Jumlah kapal yang melalui jalan pintas Benua Amerika itu dibatasi.
”Sebanyak 75 persen dari 1.700 perusahaan global yang disurvei mengatakan mereka harus mencari atau mengubah supply chain (rantai pasok) agar bisa lebih resilient (berdaya tahan) terhadap geopolitik, terhadap macam-macam ketidakpastian yang terjadi,” ujar Mari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/03/760f3125-d31e-4804-b583-ebc5ab15a434_jpg.jpg)
Perubahan geopolitik dan tarif perdagangan mendorong banyak perusahaan untuk mencari strategi baru guna mengoptimalkan rantai pasok. Terpecahnya perdagangan global yang menyebabkan transformasi rantai pasok dan pergeseran rute logistik barang ekspor dan impor lambat laun akan mendorong penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) di sektor logistik secara masif.
Teknologi AI, menurut Mari, bermanfaat untuk menciptakan efisiensi dan mempercepat diversifikasi lokasi produksi. Dengan AI, perusahaan dapat lebih mudah merancang ulang sumber pasokan dan produksi, serta menentukan lokasi baru yang lebih strategis.
”Saya lihat AI dan digital sebagai salah satu perubahan yang niscaya-lah yang sudah terjadi. Ternyata menggunakan AI dan digitalisasi lebih banyak, untuk memperbaiki supply chain, membuat meningkatkan lebih efisien dan seterusnya," ujar Mari.
Menurut dia, AI dapat membantu perusahaan memantau potensi hambatan dalam supply chain, seperti tarif atau risiko geopolitik, serta mempercepat pengambilan keputusan terkait sourcing dan produksi.
Dengan AI perusahaan bisa lebih antisipatif dan efisien dalam menganalisis, misalnya di sini berpotensi terkena tarif, di sana lagi dihambat karena masuk BRICS, jadi lebih terantisipasi,” ucapnya.
Di sisi lain, Mari menilai, tantangan global ini juga membawa peluang besar bagi Indonesia, terutama dalam menarik investasi pada sektor manufaktur dan rantai pasok. Sebagai contoh, ia menyebut strategi Vietnam yang sukses menarik investor besar, seperti Apple, berikut seluruh ekosistem rantai pasoknya.
Keuntungan hanya bisa diraih bila Indonesia tak berhenti menggali sejumlah peluang, seperti mempercepat diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas.
Namun, di luar itu, ia mengingatkan bahwa Indonesia masih perlu memperbaiki iklim investasi, termasuk melalui deregulasi dan reformasi kebijakan. ”Karpet merah kita belum lengkap dibandingkan Vietnam. Ini yang perlu dipercepat," lanjutnya.
Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani optimistis Indonesia bisa menangkap peluang dari fenomena fragmentasi perdagangan dan investasi dunia. RI yang berada di posisi netral bisa masuk ke berbagai kubu atau kelompok negara dan menangkap peluang investasi.
Adanya fragmentasi ia akui memang memengaruhi pola perubahan perdagangan dan investasi global. Kondisi ini dapat merugikan, tetapi juga bisa menguntungkan Indonesia. Keuntungan hanya bisa diraih bila Indonesia tak berhenti menggali sejumlah peluang, seperti mempercepat diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas.
”Selain itu, RI juga dapat mengembangkan sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi, seperti teknologi, manufaktur, dan jasa serta pengembangan industri strategis lainnya,” ujarnya.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Muhammad Fajar Marta