Francesco Acerbi berperan besar menghadirkan kemenangan heroik Inter Milan di Liga Champions musim ini. Sebelum itu, kisahnya sudah menginspirasi lebih dulu.
13 Mei 2025 17:06 WIB · Tokoh
Bek veteran Inter Milan, Francesco Acerbi (37), mencuri perhatian dunia. Saat laga semifinal Liga Champions melawan Barcelona di San Siro, Milan, Italia, Rabu (7/5/2025), ia memperpanjang nyawa timnya. Menjadi penyerang dadakan, Acerbi melesakkan gol pada menit perpanjangan waktu, 90+3.
Saat merayakan gol pertamanya di Liga Champions itu, Acerbi sangat emosional. Dia membuka baju. Foto dari belakang saat ia melompat memperlihatkan tato sayap di punggungnya. Acerbi bak malaikat penolong bagi Inter.
Gol itu memompa semangat pemain Inter. Ujungnya, gol penentu dicetak Davide Frattesi pada menit ke-99. Inter menang dengan agregat gol 7-6. ”Nerazurri”, julukan Inter, masuk final. Kandidat juara, Barcelona, pulang dengan tangan hampa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/7c0adc17-fca9-491e-a9db-f736ff560a51_jpg.jpg)
Acerbi memang tidak menjadi pemain terbaik pada laga itu. Kiper Yann Sommer, yang berulang kali menyelamatkan gawang, dianggap lebih layak. Namun, Acerbi tetap dianggap menginspirasi. Kisah hidupnya ramai lagi dibicarakan oleh para penggila bola.
Ia pernah dianggap sebagai masa depan Italia, tetapi kemudian jatuh depresi. Hidupnya pernah hanyut dalam pesta ketimbang di lapangan bola. Acerbi juga penyintas kanker dua kali yang kariernya justru bersinar di usia senja.
Acerbi tumbuh sebagai pendukung AC Milan, rival sekota Inter. Dia mengaku bagian dari Fossa dei Leoni, kelompok ultras Milan.
Memelihara mimpi bergabung dengan tim impiannya, Acerbi memulai kontrak profesionalnya di divisi keempat bersama Pavia. Ketika itu, umurnya sekitar 20 tahun. Dia lalu bergabung bersama Reggina di Serie B, dua tahun kemudian.
Setahun kemudian, di usia ke-23, ia memainkan pertandingan Serie A pertamanya untuk Chievo Verona. Di sana, permainannya mulai memikat tim besar.
Tawaran pun datang dari klub idolanya, AC Milan. Saat itu, Milan butuh pengganti Alessandro Nesta. Dia setuju bergabung pada 2012. Acerbi bahkan memilih nomor 13. Nomor itu sama seperti Nesta. Dia mempersembahkan semua prestasinya untuk ayahnya, Roberto.
”Saya melakukannya untuk ayah saya, bukan untuk saya. Kami memiliki hubungan cinta dan benci. Ia terus-menerus menantang saya,” kata Acerbi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/11/2d6e3cf2-82d4-4122-8735-6f808ddd5d50_jpg.jpg)
Akan tetapi, pada tahun yang sama, Acerbi juga kehilangan motivasi. Sejak lama, Roberto memiliki jantung yang lemah. Ia selamat dari tujuh kali stroke, tetapi meninggal, empat bulan sebelum Acerbi menandatangani kontrak dengan Milan.
Kondisi itu membuat Acerbi terpuruk saat bergabung dengan Milan. Acerbi lebih suka berpesta daripada latihan. Dia bisa minum apa saja dan datang dalam kondisi mabuk ke kamp pelatihan. Acerbi bahkan benar-benar mempertimbangkan untuk berhenti bermain sepak bola.
”Sejak saat itu semuanya memburuk. Saya sombong. Sampai akhirnya saya terkena kanker,” kata Acerbi yang pindah ke Sassuolo pada tahun 2013 setelah bergabung bersama Genoa dan sempat dipinjamkan ke Chievo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/11/501cd391-8a50-45a8-9d3e-671f89f968ad_jpg.jpg)
Pada bulan Juli 2013, selama pemeriksaan medis pramusim bersama Sassuolo, Acerbi didiagnosis menderita kanker testis. Tumor itu diangkat. Namun, tak lama tumor itu muncul lagi. Akibatnya, Acerbi dipaksa menjalani kemoterapi selama tiga bulan.
”Tidak mungkin untuk tidak takut. Tetapi, mungkin tanpa rasa takut, saya pasti sudah pensiun. Hingga akhirnya, lewat mimpi, rasanya ada ayah dan Tuhan yang membantu mendorong saya menjadi lebih baik. Oke, saya akan menghadapinya (pengobatan kanker), seperti pertandingan sepak bola,” tuturnya.
Kehidupan baru pun dimulai. Semua kehidupan malamnya berganti menjadi gaya hidup sehat. Setelah latihan, ia pulang ke rumah. Hidupnya mulai tanpa alkohol, hanya air, sayur, buah, nasi, dan bresaola. Bresaola adalah daging sapi yang dikeringkan (aged) di udara, penganan khas Italia.
”Kanker menyelamatkan hidup saya. Tanpa kanker, saya akan pensiun di usia 28 tahun. Kanker memberi saya kesempatan kedua,” kata Acerbi.
Sassuolo juga membantunya untuk lebih baik. Dia selalu mendapat dukungan untuk berbagai hal, termasuk melakukan kegiatan sosial yang menenangkan hatinya.
Acerbi, misalnya, bisa menghabiskan waktu berjam-jam dengan difabel dan anak-anak penderita kanker. Hampir setiap Kamis pagi, dia mengenakan baju kerja, merakit pelampung pancing, dan membuat model dari tanah liat dengan para pekerja difabel.
”Mereka membantu saya melihat kehidupan dari perspektif yang benar,” katanya.
Kebiasaan sosialnya bahkan ia bawa saat pindah ke Lazio pada tahun 2018 atau saat berumur 30 tahun. Pengagum Karol Wojtyla, Paus Yohanes Paulus II, ini masih secara teratur melihat anak-anak yang sakit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/05/11/501cd391-8a50-45a8-9d3e-671f89f968ad_jpg.jpg)
Foto profil Whatsapp-nya adalah foto dia bersama Elia, seorang anak laki-laki kecil yang tidak selamat dari kanker. ”Dia adalah singa saya, dia meninggal saat berjuang,” tulis Acerbi.
Singa menjadi simbol baginya. Ada tato singa di dadanya. Di lengan kanan tertulis ”Leone” atau singa dalam bahasa Italia.
Saat hidupnya lebih baik, karier Acerbi kian moncer. Di usia tidak muda, ia mulai mengoleksi piala bersama Lazio. Acerbi mempersembahkan Piala Italia pada musim 2018-2019 dan Piala Super Italia 2019-2020.
Mimpinya masuk tim nasional Italia juga terwujud. Dia bahkan menjadi bagian dari juara Eropa 2020 pada tahun 2021. Diasuh Roberto Mancini, Acerbi menjadi pelapis bek utama Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci.
Saat Simone Inzaghi, pelatihnya di Lazio, pindah ke Inter, Acerbi kembali ke kota Milan pada tahun 2022. Namun, statusnya masih pinjaman dengan opsi kontrak permanen setahun kemudian.
Tidak melewatkan kesempatan itu, Acerbi jadi juara. Inter dibawa merebut Piala Italia dan Super Italia pada musim 2022-2023. Pada tahun itu, Acerbi nyaris merebut trofi Liga Champions pertamanya.
Di partai final, Inter berhadapan dengan Manchester City. Di laga itu, tugasnya berat. Acerbi mesti mengawal penyerang muda yang naik daun, Erling Haaland.
Acerbi berhasil menunaikan tugasnya. Perbedaan umur di antara keduanya yang mencapai 13 tahun tidak menjadi masalah. Haaland gagal mencetak gol.
Namun, City tetap keluar sebagai juara. Gelandang bertahan sekaligus pemain terbaik versi Ballon d’Or tahun 2024, Rodri, mencetak satu-satunya gol pada laga itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/18/823b8bd4-cef6-4db3-8b04-50a8d87fd20a_jpg.jpg)
Meski gagal, Inter tetap tidak ingin menepikan Acerbi. Pada 2023-2024, ia permanen menjadi bagian dari tim ”Biru Hitam”. Di musim itu, untuk pertama kalinya, Acerbi menjadi juara Liga Italia. Dia juga kembali mempersembahkan Piala Super Italia pada tahun yang sama.
Kini, mimpi meraih piala Liga Champions pertamanya kembali ada di depan mata. Inter, salah satu tim dengan rata-rata usia pemain tertua, akan berhadapan dengan Paris Saint-Germain yang diisi anak-anak muda di final di Jerman pada 1 Juni 2025.
Duetnya bersama Alessandro Bastoni akan menghadapi permainan kolektif tim asuhan Luis Enrique. Tidak ada Haaland yang kuat di udara, tetapi kaki-kaki Acerbi mesti mengimbangi kecepatan Ousmane Dembele, pencetak delapan gol di Liga Champions musim ini.
Apa pun hasilnya nanti, Acerbi adalah contoh pesepak bola yang enggan menyerah. Banyak tantangan sudah dia jalani dan dijadikan pelajaran berharga untuk hidup lebih panjang dan berani. (Gazzetta Dello Sports/Guardian)
Biodata
Nama: Francesco Acerbi
Lahir: Vizzolo Predabissi, Italia, 10 Februari 1988
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Sarie FebrianePenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar