Banjir bandang atau galodo yang melanda permukiman di Malalak, Agam, menyebabkan dua orang tewas dan satu orang hilang. Ratusan keluarga mengungsi.
27 Nov 2025 11:29 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI WARGA
PADANG, KOMPAS — Banjir bandang atau galodo melanda permukiman di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025) sore. Dua orang tewas dan satu orang hilang serta ratusan keluarga harus mengungsi di beberapa tempat.
Galodo menghantam permukiman di Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Rabu sekitar pukul 16.30 WIB. Laporan sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam menyebutkan, dua warga tewas dan satu orang belum ditemukan.
”Dua korban meninggal ini sudah ditemukan, tapi belum bisa kami evakuasi keluar. Cuaca tadi malam hujan deras dan tidak ada penerangan. Operasi SAR tidak memungkinkan dilakukan malam hari,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam Rahmad Lasmono ketika dihubungi dari Padang, Kamis (27/11/2025).
Rahmad melanjutkan, Kamis pagi, tim SAR gabungan dari Basarnas, BPBD, dan Brimob sedang berupaya mengevakuasi korban tewas dan hilang. Meski demikian, hujan lebat jadi kendala petugas di lapangan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/d7092f2416f4110fc8f3fb1996dfbab6-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_11.09.10.jpeg)
Menurut Rahmad, petugas BPBD masih menghimpun data dampak banjir bandang ini. Walakin, sementara diperkirakan ada 160 keluarga terdampak. Korban terdampak mengungsi ke empat lokasi pengungsian.
Dari empat lokasi itu, kata Rahmad, baru satu tempat pengungsian yang dapat dijangkau BPBD Agam, yaitu Masjid Nurul Iman. ”(Tiga titik) Yang lain belum bisa kami jangkau karena jalan terkena longsor dan jembatan putus,” ujarnya.
Rahmad mengimbau warga memantau informasi cuaca setiap saat. Jika cuaca buruk, lebih baik tidak bepergian dan menghindari tempat-tempat rawan longsor dan banjir.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan status tanggap darurat atas berbagai bencana akibat cuaca ekstrem di sejumlah daerah dalam sepekan terakhir. Setidaknya ada 13 daerah di Sumbar yang dilanda bencana, mulai dari banjir, banjir bandang, longsor, hingga angin kencang.
Status tanggap darurat itu ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 360-761-2025 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, dan Angin Kencang di Wilayah Provinsi Sumbar Tahun 2025. Keputusan ini berlaku pada 25 November-8 Desember 2025 dan dapat diperpanjang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/27/77985e659c9d630088f08ff260c5decc-WhatsApp_Image_2025_11_27_at_11.09.34.jpeg)
BPBD Sumbar mencatat, 13 daerah dilanda bencana hidrometeorologi basah, yaitu Padang Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Agam, Tanah Datar, Kabupaten Solok, Kota Solok, Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, Pasaman, Lima Puluh Kota, Padang Panjang.
BMKG mengingatkan potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di Sumbar. BMKG mengidentifikasi adanya bibit siklon tropis 95B sejak 21 November 2025 di wilayah Selat Malaka sebelah timur perairan Aceh.
Kondisi itu memicu pola pertemuan arus angin/massa udara di Sumbar serta Indian Ocean Dipole (IOD) bernilai negatif sehingga meningkatkan suplai uap air dan kelembaban. Dampaknya, kondisi atmosfer labil serta terjadi pertumbuhan awan-awan hujan yang tebal dan luas sehingga menimbulkan hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang di Sumbar dalam sepekan terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/25/d2d3d8ca-3354-4aa1-a6c8-e0ab455ff3ba_jpg.jpg)
Berdasarkan perkembangan dinamika atmosfer aktual, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. ”Potensi cuaca ekstrem diprakirakan masih dapat terjadi hingga 29 November 2025, terutama berupa hujan lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Sumbar,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau BMKG Desindra Deddy Kurniawan, Rabu.
Peningkatan potensi pertumbuhan awal hujan dan aktivitas Gunung Marapi, kata Desindra, meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem yang dapat berdampak menjadi bencana hidrometeorologi di Sumbar, seperti genangan, jalan licin, pohon tumbang, banjir, tanah longsor, banjir bandang, hingga banjir lahar Gunung Marapi.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi di kabupaten/kota di Sumbar, antara lain Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Padang Panjang, Padang Pariaman, Pasaman, Padang, Pesisir Selatan, dan sekitarnya.
”Masyarakat juga diimbau untuk selalu mengenali titik-titik rawan bencana, melakukan pembaruan informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas, mencari lokasi yang aman apabila kondisi hujan terjadi dalam intensitas yang tinggi dan durasi lama, serta selalu mengikuti arahan petugas dan instansi terkait kebencanaan,” katanya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti