Kepanikan sempat melanda masyarakat Aceh karena mengira listrik padam dipicu bencana. Warga panik karena takut kembali terisolasi oleh bencana.
24 Mei 2026 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Gangguan listrik di Aceh tidak hanya berdampak terhadap aktivitas kehidupan dan ekonomi. Gangguan listrik pun telah mengungkit kembali trauma bencana Sumatera yang terjadi akhir tahun 2025. Kepanikan sempat melanda masyarakat Aceh karena mengira listrik padam dipicu bencana. Tak sedikit pula warga yang panik karena takut kembali terisolasi oleh bencana.
Hal itu yang dirasakan oleh pengelola warung kopi Sirnagalih di kawasan Batoh, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, Aceh, Reza (40). Gangguan sistem kelistrikan Sumatera menyebabkan listrik padam total (blackout) di seluruh Aceh sejak Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Hingga Sabtu (23/5/2026) malam, masih terjadi pemadaman bergilir di Aceh.
Menurut Reza, pemadaman listrik itu cukup berdampak secara ekonomi. Setidaknya, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan menyediakan 5 liter BBM jenis Pertalite untuk menyalakan listrik menggunakan mesin genset dari Jumat sekitar pukul 21.00 hingga Sabtu sekitar pukul 02.00.
Tanpa listrik, pengelola warung kopi tidak bisa menyalakan sejumlah alat untuk membuat kopi ataupun minuman lainnya. Selain itu, pelanggan pun enggan datang ke warung kopi karena biasanya pelanggan datang sekalian untuk memanfaatkan colokan listrik dan jaringan internet.
Kalau sehari, secara nilai, biaya menyediakan 5 liter Pertalite itu tidak terlalu membebani. Namun, kalau terjadi berhari-hari, barulah situasi tersebut sangat membebani. ”Sejauh ini, kami belum terbebani untuk menyediakan 5 liter Pertalite tersebut. Tapi, kalau sudah berhari-hari, kami bisa tekor,” ujar Reza saat dihubungi dari Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu.
Namun, Reza mengatakan, ada dampak gangguan listrik yang lebih membebani. Hal itu adalah ketakutan, keresahan, kekhawatiran, dan kepanikan masyarakat saat tiba-tiba padam listrik serentak se-Aceh. Reza sempat panik karena mengira listrik padam dipicu bencana, seperti akhir tahun lalu. ”Sebab, saat bencana kemarin terjadi, listrik di seluruh Aceh juga tiba-tiba padam serentak,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/19/a5486d6aaac4302319e527fd55335efd-WhatsApp_Image_2025_12_19_at_12.32.14_AM_1_.jpeg)
Karena kepanikan tersebut, Reza langsung berusaha menghubungi keluarganya di kampung di Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Keluarganya tersebut turut menjadi korban bencana ekologis berupa banjir bandang kala itu.
Reza semakin panik saat jaringan komunikasi turut terganggu akibat gangguan listrik. Pikirannya langsung terbawa kembali saat putus komunikasi dengan keluarga di Idi Rayeuk pada awal-awal bencana terjadi.
Perasaan Reza baru mulai lega saat dua jam kemudian atau sekitar pukul 21.00 muncul informasi resmi dari PLN bahwa gangguan listrik itu terjadi karena ada gangguan pada sistem transmisi saluran udara tegangan ekstra-tinggi (SUTET) 275 kilovolt (kV) Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi, Jumat sekitar pukul 18.44 WIB. Tak lama kemudian, Reza mendapatkan kabar dari keluarganya di Idi Rayeuk bahwa kondisi mereka baik-baik saja.
”Sebelum dapat informasi resmi dari PLN dan kabar dari keluarga di kampung, pikiran saya tidak bisa tenang dan perasaan saya kalut. Saya takut bencana kembali terjadi di Aceh. Apalagi, beberapa hari lalu, ada informasi bahwa Aceh akan kembali dilanda cuaca buruk berupa badai. Setelah dapat informasi resmi dari PLN dan kabar dari keluarga di kampung, barulah saya lega,” tutur Reza.
Reza menuturkan, kepanikan karena takut kembali terjadi bencana turut memicu kepanikan di antara warga. Itu tampak dari antrean panjang pembelian BBM segala jenis, baik yang subsidi maupun nonsubsidi, di hampir semua SPBU yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya.
Karena itu pula, Reza tidak membeli 5 liter Pertalite untuk gensetnya di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU), melainkan dari menyedot tangki sepeda motor pribadi. ”Kemarin, antrean beli BBM bisa mencapai 100-an meter di setiap SPBU. Paling cepat bisa dapat BBM sekitar 15 menit. Sedangkan jadwal operasionalisasi SPBU di sini hanya sampai pukul 22.00 WIB. Jadinya, kami putuskan ambil Pertalite dari kuras tangki sepeda motor,” ungkap Reza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/f782bb334ba2227a7780f4dab540ee9d-IMG_20251213_WA0194.jpg)
Kepanikan karena takut kembali terjadi bencana ikut dirasakan oleh warga Kampung Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Raihal Fajri (45). Lagi pula, Raihal baru saja pulang dari melakukan kegiatan sosial di kawasan terdampak bencana di Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
Saat perjalanan pulang, Raihal sempat melihat longsor masih terjadi di sekitar kawasan Samarkilang. Tak lama dari sekembali ke rumah, Raihal mendapati terjadi padam listrik. Sejurus kemudian, ada informasi bahwa padam listrik terjadi serentak di seluruh Aceh.
Karena itu, Raihal langsung mengira bahwa bencana kembali melanda Aceh. Perkiraan itu diperkuat dengan informasi akan ada cuaca buruk di Aceh. ”Kemarin, saat padam listrik, saya sudah panik sekali karena mengira Aceh kembali dilanda bencana seperti akhir tahun lalu,” ujar Raihal.
Raihal mengatakan, gangguan listrik itu sangat berdampak untuk ibu rumah tangga. Sebab, saat gangguan listrik, dia belum sempat menampung air di bak mandi dan tidak sempat memasak nasi menggunakan alat penanak nasi. Bahan makanan yang disimpan di lemari pendingin, seperti ikan, menjadi busuk.
Beruntung, Raihal menyimpan persediaan air bersih untuk minum di drum. Belajar dari pengalaman padam listrik berhari-hari karena bencana, Raihal akhirnya memasak nasi dan air minum menggunakan kayu bakar. ”Untungnya kami pengalaman masak dengan kayu bakar saat padam listrik berhari-hari saat bencana. Kayunya juga tidak beli, tetapi mengambil kayu-kayu sisa di kebun,” kata Raihal.
Akan tetapi, dampak gangguan listrik tidak sebatas itu. Padam listrik membuat kipas angin di rumah tidak menyala. Itu menyebabkan tiga anak Raihal yang terbiasa tidur menggunakan kipas angin tidak bisa tidur nyenyak. Situasi lebih menyiksa karena cuaca di Aceh sedang panas-panasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/23/c1e7ee42-3fab-44bc-ac28-b92430c1daa8.jpg)
Demi membuat anak-anak terlelap, Raihal berkorban mengipasi anak-anaknya secara manual sepanjang malam. ”Anak-anak jadi rewel karena kepanasan. Apalagi cuaca di sini lagi panas-panasnya. Kami terpaksa tidur di ruang tamu dan saya harus mengipasi anak-anak secara manual,” tutur Raihal.
Sabtu pagi, saat anak-anak Raihal akan berangkat sekolah, ternyata seragam sekolah mereka belum tersetrika. Hal itu membuat anak-anak Raihal nyaris tidak berangkat sekolah. Padahal, mereka harus sekolah untuk mempersiapkan diri menjalani ujian pada 2 Juni nanti.
Beruntung, pada Sabtu sekitar pukul 06.46, listrik di kawasan tempat tinggal Raihal kembali nyala. Dia buru-buru menyetrika seragam anak-anaknya. ”Anak-anak ngotot untuk sekolah karena harus mempersiapkan diri menghadapi ujian yang tidak lama lagi. Untunglah, listrik kembali nyala sebelum anak-anak ke sekolah. Jadinya, saya masih sempat menyetrika semua seragam anak-anak,” ujar Raihal.
Hingga Sabtu sekitar pukul 19.00, listrik di Aceh belum sepenuhnya pulih. Listrik masih nyala terbatas atau nyala secara bergilir. Hal itu turut menyebabkan sinyal komunikasi belum sepenuhnya stabil. Reza dan Raihal pun masih diliputi keresahan karena padam listrik sangat berdampak terhadap keluarga ataupun anak-anak mereka.
”Kami harap gangguan listrik ini jadi bahan evaluasi menyeluruh PLN. Jangan sampai, situasi seperti ini terus berulang. Sebab, dampaknya sangat besar untuk aktivitas sehari-hari, terutama bagi anak-anak,” kata Raihal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/30/8d4f890b8f4c5acf69b59a957bce144b-Des15.jpg)
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, dalam keterangan pers, mengatakan, sejauh ini, gangguan sistem transmisi SUTET 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai diduga karena cuaca buruk. Hal itu menyebabkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino, khususnya padam total (blackout) dari Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Namun, PLN langsung bergerak cepat memeriksa dan memulihkan sistem kelistrikan yang terganggu tersebut. Dalam waktu sekitar dua jam, jaringan yang terganggu berhasil dipulihkan. Selanjutnya, PLN berupaya mengoperasikan kembali pembangkit-pembangkit yang sebelumnya terdampak untuk diselaraskan kembali dengan jaringan yang sudah siap.
”Proses penyalaan pembangkit dilakukan secara sistematis dan bertahap dengan tetap mengutamakan keamanan sistem. Pembangkit berbasis hidro dan gas dapat langsung membantu menyuplai sistem sebagai respons cepat untuk mempercepat pemulihan awal atau tahap pertama. Namun, untuk pembangkit thermal, seperti PLTU, itu butuh waktu lebih lama, 15 hingga 20 jam, mulai dari penyalaan, sinkronisasi, hingga beroperasi penuh,” ujar Darmawan.
Darmawan menjelaskan, pemulihan listrik Sumatera dilakukan secara simultan mulai dari transmisi, gardu induk, hingga pembangkit. Untuk mendukung proses tersebut, PLN menerjunkan ratusan personel yang bekerja 24 jam di berbagai wilayah terdampak mulai dari Jambi, Riau, Sumbar, Sumut, hingga Aceh.
Melalui segala upaya tersebut, hingga Sabtu pukul 10.00, lebih dari 3.192 megawatt (MW) pasokan listrik telah berhasil disalurkan dari total 5.334 MW yang sebelumnya terdampak. Selain itu, 157 gardu induk dari total 176 gardu induk terdampak telah beroperasi kembali.
Dengan begitu, sekitar 8,3 juta pelanggan kembali mendapatkan pasokan listrik dari total 13,1 juta pelanggan yang terdampak. ”Seluruh petugas dan tim teknis PLN masih bekerja penuh selama 24 jam di lapangan. Kami terus berusaha agar pasokan listrik kepada masyarakat dapat segera pulih sepenuhnya secara bertahap dan aman,” kata Darmawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/05/3e5b511c-c7b7-4c19-a1f1-08aaf6bde6b3_jpg.jpg)
Darmawan menyampaikan, bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pihaknya pun berkomitmen mengevaluasi secara komprehensif peristiwa yang terjadi saat ini. ”Kami akan memperkuat sistem kelistrikan Sumatera agar kejadian serupa tidak terulang,” tuturnya sebagaimana siaran Kompas TV.
Gangguan listrik bukan sekali ini dialami oleh masyarakat di Sumatera. Dua tahun lalu, gangguan yang nyaris sama pernah terjadi di kawasan Sumatera Bagian Selatan dan menimbulkan dampak besar. Hal itu sangat dilematis karena Sumatera yang sejatinya memiliki sejumlah kantong sumber energi justru masih sangat rentan terhadap gangguan listrik.
PLN diharapkan bisa betul-betul mengevaluasi sistem kelistrikan Sumatera agar gangguan yang sama tidak kembali ataupun terus terulang. Sebab, bagi masyarakat, gangguan listrik bukan hanya berdampak terhadap aktivitas kehidupan dan ekonomi. Gangguan itu pun bisa mengungkit luka lama dari trauma bencana, seperti yang dialami oleh Aceh, Sumut, dan Sumbar akhir tahun lalu.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Retma Wati