RESHUFFLE KABINET

Gantikan Purbaya Jadi Menkeu, Suahasil Prioritaskan APBN yang Kredibel

Suahasil Nazara dilantik sebagai Menkeu ketiga dalam 23 bulan masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subainto. Program kerja apa saja yang ia prioritaskan?

14 Sep 2026 16:54 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Oleh Kurnia Yunita Rahayu, Nino Citra Anugrahanto

JAKARTA, KOMPAS — Untuk kedua kalinya, Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih. Setelah mengganti Sri Mulyani Indrawati, kini Presiden juga mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta menjaga defisit di bawah 3 persen menjadi prioritas kerja tokoh tersebut.

Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026) sore. Suahasil dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 97 P 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan Kabinet untuk Sisa Jabatan 2024-2029 yang ditetapkan pada 14 September 2026. Pelantikan dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, para anggota Kabinet Merah Putih, serta Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Sufmi Dasco Ahmad.

Suahasil yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan menjadi tokoh ketiga yang menjabat sebagai menkeu di 23 bulan masa pemerintahan Prabowo. Sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati menjabat selama 11 bulan. Sri Mulyani digantikan Purbaya yang menduduki posisi tersebut selama 12 bulan.

Quote

Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel. Jadi, saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya, komunikasi publik yang dapat dipercaya, dan juga akan memastikan bahwa apa yang dilakukan melalui APBN mendukung program prioritas pemerintah.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara seusai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Seusai pelantikan, Suahasil berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Presiden kepada dirinya untuk mengemban jabatan tersebut. Ia mendapatkan kabar dari Istana pada Selasa pagi, lalu diminta untuk bersiap dilantik pada sore harinya. Beberapa menit sebelum pelantikan digelar, ia pun menemui Presiden.

”Arahan khusus dari Bapak Presiden adalah untuk menjaga keuangan negara. Artinya, menjaga kesehatan, menjaga kredibilitas dari keuangan negara tersebut. Jadi, APBN sebagai bagian dari keuangan negara harus bisa menjalankan program-program pemerintah,” ungkap Suahasil mengenai pesan yang disampaikan dari Prabowo kepada dirinya.

Ke depan, kata Suahasil, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus sehat dan kredibel. Defisit APBN juga akan dijaga untuk tetap di bawah 3 persen.

Untuk itu, pihaknya akan melanjutkan kerja-kerja di Kementerian Keuangan yang selama ini telah dilakukan demi menumbuhkan APBN yang bisa benar-benar menstabilkan perekonomian nasional. Ia meyakini dengan dukungan lebih dari 77.000 pegawai, Kementerian Keuangan bisa mencapai target tersebut.

Neraca Transaksi Berjalan Indonesia dan Tren Surplus/Defisit APBN Indonesia

”Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel. Jadi, saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya, komunikasi publik yang dapat dipercaya, dan juga akan memastikan bahwa apa yang dilakukan melalui APBN mendukung program prioritas pemerintah,” kata Suahasil.

Selain itu, lanjutnya, efisiensi juga akan terus dilakukan terhadap belanja negara. Efisiensi dimaksud tidak sekadar memotong anggaran, tetapi juga menggunakan anggaran belanja yang ada untuk menghasilkan capaian yang maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat.

Suahasil meyakini, transisi kepemimpinan dari Purbaya kepada dirinya akan berjalan mulus. Setelah dilantik, ia akan segera kembali ke kantor Kementerian Keuangan untuk melanjutkan pekerjaan seperti biasanya.

Ia tidak memungkiri, pergantian jabatan Menkeu terjadi secara mendadak dan berpotensi memunculkan sentimen negatif dari pasar. Namun, menurut Suahasil, pasar memang memiliki logika sendiri. Ia pun lebih melihat pergantian ini sebagai sebuah kelanjutan, bukan perubahan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan paparan saat jumpa pers tentang APBN KiTa edisi Juni 2026 di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Menteri Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencetak defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia dan kinerja APBN KiTa hingga Mei 2026 tetap aman serta terkendali di tengah tingginya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi nasional terus menunjukkan tren perbaikan yang positif, ditandai dengan pencapaian gemilang pada lonjakan penerimaan pajak hingga 22,1 persen di bulan Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dalam kesempatan tersebut, Purbaya mengumumkan capaian realisasi pendapatan negara, penyerapan belanja, hingga perkembangan terkini indikator fiskal nasional dalam menghadapi dinamika ekonomi global serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

”Menurut saya, ini bukan perubahan yang apa, ya, ini adalah kelanjutan saja, bukan perubahan. Selama ini saya berada di dalam Kementerian Keuangan. Jadi, kita akan terus bekerja, kita akan melanjutkan menjaga keuangan negara dengan cara yang lebih baik,” tutur Suahasil.

Menanti reformasi fiskal

Menanggapi pergantian Menkeu, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengatakan, masyarakat menantikan komitmen dan pembuktian dari Suahasil untuk melakukan reformasi fiskal. Indikatornya, antara lain, keberanian untuk merombak belanja terkait sejumlah program prioritas yang berbiaya mahal, yakni program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Selain itu, komitmen Suahasil untuk mencapai defisit APBN di bawah 3 persen juga dinantikan.

”Apakah Suahasil berani atau menjadi yes man di tengah ambisi program mahal Prabowo?” kata Bhima yang juga didapuk kelompok masyarakat sipil sebagai Menteri Keuangan Negara ”Kabinet Bayangan”.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara

Ia pun menantang Suahasil untuk bisa mewujudkan reformasi fiskal itu dalam waktu dua bulan. Menurut Bhima, Suahasil semestinya bisa mencapai target tersebut mengingat dia adalah pejabat senior di Kementerian Keuangan yang sudah memahami birokrasi serta memiliki rekam jejak panjang dalam bernegosiasi dengan kreditor.

”Kalau reformasi fiskal bisa dilakukan oleh Suahasil, ya, berarti cocok. Sebaliknya, jika dalam dua bulan tidak ada hasil signifikan, sebaiknya mundur,” tutur Bhima.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati