Pendidikan perwira harus dikembangkan tidak hanya memperkuat jiwa keprajuritan, tetapi juga keakraban dengan teknologi serta etos kerja yang ditumbuhkan sejak dini.
12 Okt 2025 08:00 WIB · Artikel Opini
Laut selalu memanggil bangsa ini pulang. Di tiap riak ombak Nusantara, ada gema sejarah yang menegaskan siapa kita sesungguhnya: bangsa pelaut, petarung sejati, pengawal samudra.
Bagi saya, sejak pertama kali berdiri di geladak kapal perang sebagai perwira muda tahun 1969 hingga dipercaya memimpin TNI Angkatan Laut pada 1999, laut bukan sekadar bentangan air belaka—ia adalah darah, jiwa, dan takdir bangsa Indonesia.
Saya tumbuh bersama generasi pelaut yang hidup dari peluh dan gelombang. Kami berlayar meronda perairan dan siap bertempur dengan kapal yang tertinggal zaman, tetapi dengan keyakinan teguh suatu hari Indonesia akan menjadi kekuatan maritim sejati.
Saat memimpin satuan tugas pengambilalihan kapal-kapal armada Jerman Timur pada awal 1990-an, saya belajar bahwa kekuatan laut tidak hanya lahir dari teknologi, tetapi dari pandangan jauh ke depan—keberanian untuk memimpikan sesuatu yang belum ada, lalu berjuang mewujudkannya.
Dulu, setiap kali kapal induk asing melintas damai di lautan kita, dada kami bergetar. Ada rasa kagum, tetapi juga perih yang membuncah. Mengapa negeri sebesar Indonesia, yang lautnya membentang lebih luas dari daratan Eropa, belum juga memiliki satu kapal induk? Mengapa kita belum hadir dengan simbol kebanggaan maritim yang sepadan dengan sejarah dan potensi kita sendiri?
Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, gema impian itu kembali bergelora. Dunia sedang bergeser. Samudra Hindia dan Pasifik menjadi panggung baru persaingan kekuatan global. Laut bukan lagi sekadar lalu lintas pelayaran—ia kini menjadi ruang perebutan pengaruh, supremasi teknologi, dan kekuatan ekonomi dunia.
Di titik silang itulah Indonesia hadir. Presiden Prabowo, dengan naluri geopolitik yang tajam, memahami bahwa kedaulatan tidak cukup dijaga hanya dengan diplomasi, tetapi juga harus ditegaskan dengan kehadiran yang berwibawa.
Rencana akuisisi kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia adalah langkah strategis yang melampaui zamannya. Ini adalah pernyataan diri: bahwa Indonesia telah siap menatap masa depan sebagai salah satu kekuatan maritim yang diperhitungkan. Bahwa bangsa ini tidak lagi sekadar menjaga pantai, selat, dan teluk, tetapi siap hadir di samudra raya.
Kapal induk bukan sekadar besi raksasa yang mengapung di laut. Ia adalah universitas bergerak—tempat teknologi, inovasi, disiplin, dan kepemimpinan berpadu. Di atas geladaknya, ratusan prajurit belajar mengelola sistem kompleks yang menuntut etos kerja, presisi, dan kerja sama tanpa cela. Di sanalah lahir generasi pelaut baru: tangguh, berani, cerdas, dan petarung sejati.
Tentu saja, suara pro dan kontra selalu ada. Ada yang menilai terlalu mahal, terlalu mewah, belum waktunya, bahkan terlalu jauh dari prioritas. Namun, dalam urusan mempertahankan martabat bangsa, hitungannya tak bisa hanya dalam angka. Kapal induk memberi lebih dari sekadar daya gempur: ia menanamkan kepercayaan diri nasional, keyakinan bahwa bangsa ini mampu berdiri sejajar dengan kekuatan maritim dunia lainnya.
Saya percaya, Presiden Prabowo tidak sedang membeli kapal. Ia sedang membangun kesadaran strategis bangsa. Kapal itu adalah metafora dari keberanian melangkah melampaui keraguan, kepicikan, dan kerendahdirian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/28/3007f2715db31fabf6d4c61a9799f349-20250928_Opini_Perlukah_Indonesia_Punya_Kapal_Induk.jpg)
Pergeseran geopolitik dunia menuntut perubahan orientasi politik luar negeri yang adaptif dan dinamis, diimbangi strategi pertahanan yang progresif. Diktum klasik ”politik mendikte strategi” kini menemukan relevansinya.
Namun, kapal secanggih apa pun akan kosong tanpa jiwa manusia yang mengawakinya. Setiap kapal memiliki roh, dan setiap pelaut percaya akan hal ini.
Tantangan kita kini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang sepadan dengan ambisi maritim besar ini. Pendidikan perwira harus dikembangkan tidak hanya memperkuat jiwa keprajuritan, tetapi juga keakraban dengan teknologi serta etos kerja yang ditumbuhkan sejak dini.
Sesungguhnya laut bukan hanya ruang strategis tempat gerak, waktu, dan kekuatan saling bertaut, tetapi juga cermin mental bangsa. Selama kita memunggunginya, kita akan kehilangan arah.
Ketika nanti Garibaldi berlayar dengan Sang Saka Merah Putih di tiang puncaknya, biarlah ia menjadi lebih dari sekadar kapal induk. Biarlah ia menjadi penanda zaman, saat Indonesia menegakkan kepala dan menatap cakrawala dengan keyakinan baru.
Bahwa di tengah gelombang dunia yang tak menentu, bangsa ini telah menemukan kembali jati dirinya—bangsa pelaut, petarung sejati, yang siap menjaga, mengayomi, dan menghidupi lautnya dengan kebanggaan cinta dan kehormatan.
Achmad Sutjipto, Kepala Staf TNI AL (1999–2000); Pemerhati Pertahanan dan Kemaritiman
Penulis:
Achmad SutjiptoEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul