Latihan rutin, napas terengah, hingga risiko cedera adalah hal yang mesti dibayar para pelari jarak jauh. Walakin, sensasi finis setelahnya membuat mereka ketagihan.
24 Nov 2024 08:15 WIB · Gaya Hidup
Lari maraton punya daya yang membuat orang ketagihan walau dibayar dengan napas ngos-ngosan, kepanasan, dan cedera kalau sedang sial. Tapi, semua terbayar saat kaki menapak garis finis. Luapan adrenalin, euforia, dan rasa bangga atas pencapaian tubuh membuat pelari berpikir, ”Hm… Lari ke mana lagi, ya?”
Pelari yang pernah mengikuti Borobudur Marathon di Magelang, Jawa Tengah pasti akrab dengan ”Tanjakan Cinta”. Nama tanjakan ini memang manis, tapi awas… Jangan terlena! Banyak pelari nyaris tumbang di tanjakan ini.
”Tanjakan Cinta” biasanya ditemui di sekitar Kilometer 17 untuk kategori setengah maraton (half marathon) dan sekitar Kilometer 35 untuk maraton penuh (full marathon). Mental yang sudah dibangun sekuat baja bisa runtuh pelan-pelan di tanjakan ini.
Wahyu Adhitya (31) ingat betul momen berjuang melawan kelelahan usai melewati ”Tanjakan Cinta” di Borobudur Marathon 2023. Walakin, dukungan dari warga membuat dia semangat.
”Kaki sebenarnya udah pegal, ya. Kaki kanan sama kaki kiri rasanya mau kita putar aja,” kenang pelari asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini pada Jumat (22/11/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/2869119d-2688-44ac-9c93-f8fdbfd2b543_jpg.jpg)
Salah satu momen kritis adalah saat Wahyu melintas di Kilometer 39. Pria yang serius menekuni lari sejak 2020 ini sebetulnya sudah nyaris kehabisan tenaga. Seorang warga lantas dengan santainya menawarkan Wahyu duduk di teras rumahnya. ”Katanya, ’Mas, ngapain lari capek-capek? Mampir dulu. Santai aja.’”
Tawaran itu memang menarik, tapi sensasi mencapai garis finis di bawah batas waktu yang ditentukan (cut off time/COT) rasanya lebih menggiurkan. Wahyu pun tetap melaju sampai finis.
Bagi dia, menyelesaikan maraton bukan perkara mengejar medali semata, tetapi juga meninggalkan jejak untuk menginspirasi orang lain. Dengan gaya santai dan penuh humor, ia sering berbagi cerita tentang perjalanan larinya di akun Instagram @pelarifullsenyum. Ia berbagi antara lain tips latihan, rekomendasi event lari, dan motivasi. Kisah Wahyu sedikit banyak menginspirasi pelari pemula maupun yang sudah berpengalaman.
Ia menambahkan, ia sebetulnya sudah lama mengenal olahraga lari. Setelah terpapar Covid-19, ia sadar betapa pentingnya menjaga kebugaran dan imunitas tubuh. Ia pun jadi rutin berlari.
Wahyu memulai dengan berlari 5-10 kilometer secara konsisten. Kini, ia telah mengikuti berbagai ajang lari di Indonesia, baik di Bandung, Magelang, Surabaya, dan Jakarta. ”Keterusan sampai sekarang karena lari itu bikin nagih.”
Di buku What I Talk About When I Talk About Running, Haruki Murakami menyebut bahwa kebanyakan pelari didorong oleh tujuan personal. Ada yang ingin mencapai waktu terbaik (personal best) atau kecepatan terbaik. Ada juga yang tujuannya adalah finis dengan ceria tanpa cedera.
Motivasi tiap orang hampir selalu personal. Pelari didorong oleh motivasi senyap yang tak perlu divalidasi dunia luar. ”Dalam lari jarak jauh, satu-satunya lawan yang perlu Anda kalahkan adalah Anda sendiri, Anda yang dulu,” ujar novelis yang doyan lari itu.
Mungkin itu pula yang terjadi pada Azizah Alkhatami (25). Pekerja kantoran Jakarta yang akrab dipanggil Tami ini finis dengan penuh perjuangan pada Borobudur Marathon 2023. Catatan waktu di bawah COT mesti ia bayar dengan cedera di lutut kanan.
Cedera yang diperoleh usai melewati ”Tanjakan Cinta” itu membuat Tami kesulitan. Di sekitar Kilometer 35, Tami diam-diam kesal, marah, dan sedih pada diri sendiri.
”Mau nangis, tapi enggak bisa. Kalau mau berhenti, rasanya sayang banget karena sudah di kilometer 35,” kenangnya sambil tertawa. ”Pas di kilometer 40-an, panitia sudah memintaku stop saja demi keamanan. Tapi, kupikir tidak bisa. Ini maraton pertamaku. Aku masih idealis untuk finis.”
Dua kilometer terakhir dari maraton itu ditempuh Tami dengan menyeret kaki. Katanya, itu adalah 2 kilometer terpanjang yang pernah ia jalani, mana itu dilalui sambil menahan teriknya matahari jelang tengah hari pula.
Perjuangan Tami akhirnya terbayar. Ia berhasil finis dengan waktu 6 jam 30 menit atau di bawah COT sehingga berhak mendapat medali. ”Aku bersyukur sama tubuhku, kakiku, jantungku yang mampu dan mau finis sampai 42 kilometer. Aku bangga dan senang karena itu full maraton pertamaku.”
Pengalaman cedera itu jadi evaluasi bagi Tami. Ia sadar bahwa kekuatan tubuhnya kurang dilatih. Dara berkacamata itu lantas getol melatih kekuatan tubuh di pusat kebugaran, juga mengikuti kelas pilates. Hasil latihannya dibuktikan dengan finis dalam waktu 5 jam di Maybank Marathon 2024 tanpa cedera.
”Aku pengin ikut full marathon lagi dengan versi yang lebih baik,” ujarnya.
Athifa Azka (23) juga menjadikan lari sebagai tantangan pribadi melawan kemalasan. Demi mengikuti half marathon di Borobudur Marathon tahun ini, warga Bekasi itu mesti disiplin berlatih, beristirahat, serta makan protein dan karbohidrat.
Rencana latihan sudah tersusun sejak ia menerima undian empat bulan lalu. Program latihannya dirancang oleh ahli bersertifikat dan disesuaikan dengan tingkat kebugaran tubuhnya.
Athifa berlari rata-rata lima kali seminggu dengan berbagai jenis latihan. Biasanya Athifa memulai dengan speed session (sesi kecepatan), dilanjutkan latihan kekuatan yang dikombinasikan dengan latihan di pusat kebugaran. Setelahnya, ia berlari santai dan akhirnya istirahat. Saat istirahat pun Athifa tetap aktif melakukan peregangan dan ikut kelas pilates.
Sementara di akhir pekan, ia menjalani long run 10 kilometer untuk membangun ketahanan fisik dan mental. Ia juga mesti menjaga pola makan dan tidur selama 6-7 jam. Agar jam tidurnya cukup, tak jarang Athifa mengorbankan waktu berkumpul dengan keluarga atau teman.
Walau kadang dianggap ”menyiksa diri”, pelari yang pernah mencicipi nomor maraton umumnya akan mau mencoba ajang maraton lain di masa depan. Euforia saat mencapai garis finis begitu tak tergantikan. Inilah daya magis dari berlari.
Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ria Lestari mengatakan, berlari dapat mengurangi stres dan kecemasan. Berlari juga membuat otak melepaskan hormon endorfin yang membuat bahagia. Selain meningkatkan suasana hati, lari juga meningkatkan kepercayaan diri.
”Ini namanya runner’s high. Jadi, habis lari itu bawaannya senang terus,” ucap Ria yang juga pelari dan pernah mengikuti ajang lari 10 kilometer di Jerman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/19/95c2e050-3fed-47cf-990d-964d202ed075_jpg.jpg)
Itu pula yang dirasakan Tami. Berlari adalah salah satu sumber kebahagiaan buatnya. Saat pikirannya runyam atau suasana hatinya buruk, berlari bisa membuatnya senang kembali. Hal serupa juga dirasakan Athifa.
Euforia tersebut rupanya menjalar ke sebagian orang. Tren berlari pun tumbuh, terutama di masa pandemi Covid-19. Lari semula adalah olahraga murah dan mudah, kemudian menjelma jadi olahraga berlabel ”mahal” dan ”elite”.
Menurut Wahyu, ada fenomena pelari FOMO (fear of missing out, istilah kasarnya mungkin kebelet eksis). Salah satu indikator fenomena ini adalah mendaftar ajang lari jadi makin sulit. Para pelari berebut slot undian. Slot acara lari bergengsi di kota-kota besar bisa ludes dalam hitungan menit, bahkan detik.
Masalah di fenomena ini adalah ada orang yang terburu-buru melangkah ke jenjang lebih tinggi tanpa persiapan yang memadai. Padahal, lari jarak panjang tidak bisa dilakukan dengan instan. Tanpa persiapan, risiko cedera akan sangat besar.
Pelari pemula juga tak perlu terburu-buru membeli perlengkapan ini-itu dengan harga selangit. Pilih saja yang nyaman dan sesuai kebutuhan dulu. Masalah gaya bisa dipikirkan nanti. Yang penting, Anda selamat tiba di garis finis! Catatan:Artikel ini adalah hasil kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas:
Penulis:
Sekar GandhawangiEditor:
Moh. Hilmi Faiq