Tim ”Garuda Muda” Tepis Ilusi Kemenangan atas Brunei Darussalam

Kemenangan di laga pertama memang selalu melenakan. Vanenburg menyadari pesta gol ke gawang Brunei belumlah bisa disebut sebagai versi terbaik Indonesia.

16 Jul 2025 07:52 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

JAKARTA, KOMPAS — Tim sepak bola U-23 Indonesia punya banyak alasan kuat untuk jemawa seusai mengalahkan Brunei Darussalam, 8-0, pada laga penyisihan Grup A Kejuaraan ASEAN U-23 2025, Selasa (15/7/2025), di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Namun, tim ”Garuda Muda” segera menyadari bahwa kemenangan telak itu bisa berakhir sebagai ilusi apabila rasa cepat berpuas diri sudah menguasai para pemain.

Kejutan sebagaimana Filipina menjungkalkan Malaysia pada laga Grup A lainnya tidak menimpa Indonesia. Tim asuhan Pelatih Gerald Vanenburg tersebut mempertegas prediksi bahwa kualitas Brunei memang masih di bawah para kontestan lainnya. Perbedaan kualitas Indonesia kontra Brunei begitu kontras bak bumi dan langit seiring begitu dominannya Indonesia sejak babak pertama.

Menghadapi Brunei, lini pertahanan Indonesia tidak mendapat perlawanan dan ujian berarti. Panggung pertunjukan justru lebih tertuju pada lini serang Indonesia yang diperkuat Jens Raven, Rayhan Hanan, dan Rahmat Arjuna. Raven menjadi bintang di laga ini setelah mencetak double hattrick berkat ketajamannya dalam penyelesaian akhir.

Meskipun menang telak, Indonesia semestinya bisa mencetak gol lebih banyak apabila tampil lebih tajam pada babak kedua. Setelah unggul tujuh gol di babak pertama, performa Indonesia menurun setelah jeda.

Muhammad Ferarri dan rekan-rekannya seakan sudah puas setelah unggul tujuh gol tanpa balas. Seketika, kreativitas tim dalam mengkreasikan peluang jadi amat monoton, yaitu hanya mencoba menciptakan peluang dengan mengeksploitasi ruang di antara bek dan kiper serta mengandalkan manuver pemain sayap.

Pemain Tim Sepakbola Indonesia U-23 Muhammad Rayhan Hanan menyundul bola saat menyerang Tim Sepakbola Brunei Darussalam U-23 dalam kualifikasi ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 Grup A di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (15/7/2025). Indonesia menekuk Brunei Darussalam dengan skor telak 8-0.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-07-2025

”Saya pikir kami bermain bagus pada babak pertama. Lalu, pada babak kedua kami tidak tampil sebaik di babak pertama. Namun, saya pikir Brunei Darussalam juga bermain bagus. Pada babak pertama saya senang, tetapi pada babak kedua kita harusnya bisa lebih berkembang,” kata Vanenburg seusai pertandingan.

Pernyataan Vanenburg tersebut menyiratkan bahwa timnya tidak boleh cepat berpuas diri meski sudah unggul banyak di babak pertama. Di samping itu, Brunei bukanlah lawan sepadan untuk Indonesia sehingga kemenangan besar ini sebaiknya jangan sampai melenakan para pemain.

Antisipasi Filipina

Raven mengakui timnya seharusnya tidak mengendurkan fokus sehingga kesulitan berkembang di babak kedua. Hal seperti ini akan sangat berbahaya jika terulang saat menghadapi Filipina dan Malaysia yang punya kualitas jauh di atas Brunei.

”Pada babak kedua (performa) kami menurun karena (merasa) sudah unggul 7-0. Jadi, saya pikir ini pembelajaran agar kami jauh lebih baik di babak kedua, tetap fokus, tetap mempertahankan performa seperti babak pertama,” kata Raven.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PSSI Erick Thohir pun menyebut kemenangan atas Brunei tidak bisa menjadi tolok ukur kekuatan Indonesia lantaran disparitas kualitas kedua tim sangat berbeda jauh. Erick meminta Garuda Muda tidak lekas besar kepala setelah membantai Brunei.

Pelatih Tim Sepakbola Indonesia U-23 Gerald Marvin Vanenburg memberikan arahan ke tim asuhnya saat melawan Tim Sepakbola Brunei Darussalam U-23 dalam kualifikasi ASEAN Mandiri U-23 Championship Mandiri Cup 2025 Grup A di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (15/7/2025). Indonesia menekuk Brunei Darussalam dengan skor telak 8-0.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

15-07-2025

Ujian sesungguhnya bagi Indonesia baru akan tersaji saat menghadapi Filipina pada Jumat (18/7/2025). Konstelasi persaingan Grup A sedikit berubah menyusul kemenangan mengejutkan Filipina, 2-0, atas Malaysia. Filipina yang sebelumnya kurang diperhitungkan lantaran diperkuat tujuh pemain semiprofesional ternyata lebih berbahaya dari yang diperkirakan.

”Saya rasa (laga melawan Brunei) tidak bisa menjadi ukuran bahwa kemenangan besar ini menjadi patokan yang baik karena kan kita tahu tadi, tim Filipina, mengalahkan Malaysia 2-0,” kata Erick.

Hanya juara dari tiga grup yang berhak atas tiket otomatis ke semifinal. Satu tiket lainnya jadi hak tim peringkat kedua terbaik. Regulasi ini turut mempertegas bahwa kemenangan besar atas Brunei hanyalah ilusi jika tidak dibarengi peningkatan performa pada laga kontra Filipina dan Malaysia.

Belajar dari pengalaman turnamen sebelumnya, tim peringkat dua terbaik akan ditentukan dari klasemen mini para runner up tiap grup. Khusus Grup A yang terdiri dari empat tim, poin yang diperoleh dari tim peringkat terbawah, dalam hal ini kemungkinan besar Brunei, tidak akan dihitung.

Maka, jika Indonesia terpeleset saat melawan Filipina dan Malaysia hingga harus berjibaku berebut peringkat dua terbaik, kemenangan besar atas Brunei pun tidak akan berarti apa-apa. Oleh sebab itu, menyapu bersih kemenangan melawan Filipina dan Malaysia adalah jalan teraman Indonesia untuk lolos ke semifinal.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto