Pupus sudah harapan timnas sepak bola putri Indonesia ke semifinal Kejuaraan ASEAN pertama kali sejak 2004. Kekalahan telak, 0-7, meneguhkan dominasi Vietnam.
10 Agt 2025 15:55 WIB · Olahraga
Kecewa. Kata itu kembali keluar dari mulut Joko Susilo, pelatih interim timnas sepak bola putri, setelah anak-anak asuhannya kembali kalah di Kejuaraan ASEAN 2025. Dua laga, dua kekalahan telak.
Namun, memang kondisi tim kami sedikit kurang bagus, saya pikir, sehingga kami banyak kebobolan.
Selepas kalah 0-7 dari Thailand pada pertandingan perdana, Rabu (6/8/2025), Indonesia menelan kekalahan lagi dengan skor serupa pada laga kedua kontra Vietnam. Bermain di Stadion Lach Tray, Hai Phong, Vietnam, Sabtu (9/8/2025), Indonesia terbenam dalam dominasi tuan rumah.
”Secara hasil tentu kami kecewa, tapi sebetulnya para pemain sudah menjalankan instruksi dengan baik pada 20 menit awal,” kata Joko.
”Namun, memang kondisi tim kami sedikit kurang bagus, saya pikir, sehingga kami banyak kebobolan,” ucapnya lagi.
Thailand dan Vietnam memang masih terlalu tangguh bagi Indonesia. Dua tim putri ini adalah raksasa Asia Tenggara. Level permainan mereka pun sebenarnya sudah berada di tingkat Asia dan dunia.
Di atas kertas, Indonesia kalah segala-galanya dari Vietnam. Sebagai tuan rumah, Vietnam jelas mendapatkan motivasi tambahan untuk menang dan melangkah jauh di turnamen tersebut. Target mereka adalah menembus final.
Vietnam juga sedang dalam kepercayaan diri tinggi setelah pesta gol ke gawang Kamboja. Tim berjulukan ”Golden Star Women Warriors” ini menang 6-0.
Tak hanya itu, sejarah pun berpihak pada Vietnam. Dalam 14 tahun terakhir, mereka bergitu dominan atas Indonesia. Bahkan, Vietnam pernah menaklukkan Indonesia 0-14 pada Kejuaraan ASEAN 2011.
Dari total empat pertemuan, Vietnam selalu menang dengan keunggulan telak. Itu termasuk kekalahan 0-6 saat pertemuan terakhir yang sudah berlalu enam tahun di panggung SEA Games 2019.
Segala keunggulan itu nyatanya juga bisa diwujudkan Vietnam di lapangan. Tim asuhan pelatih Mai Duc Chung ini mencatatkan penguasaan bola hingga 77 persen.
Dari segi peluang, Vietnam mampu melepaskan 41 tembakan dengan 19 di antaranya tepat sasaran. Sementara itu, Indonesia hanya menciptakan satu peluang dengan tembakan mengarah ke gawang.
Vietnam sukses mengonversi banyak peluang itu menjadi tujuh gol. Pesta gol itu diciptakan Nguyen Thi Bich Thuy pada menit ke-25, Hoang Thi Loan (28'), Pham Hai Yen (69', 85'), Ngan Thi Van Su (71'), Tran Thi Thu Thao (81'), dan Nguyen Thi Tuyet Dung (89').
Dengan kekalahan dari Vietnam, Indonesia sudah bisa dipastikan gagal melaju ke semifinal seperti edisi perdana pada 2004. Hanya dua tiket semifinal yang tersedia untuk tiap grup. Pemuncak dan peringkat kedua klasemen sementara Grup A, yakni Vietnam dan Thailand, mendapatkan tiket itu.
Indonesia tak hanya terbenam dalam dominasi Vietnam, tetapi juga dalam klasemen sementara Grup A. ”Garuda Pertiwi” hanya jadi juru kunci dengan 0 poin. Meski sama-sama nirpoin, Kamboja lebih unggul selisih gol.
Indonesia dan Kamboja adalah tim yang lolos ke Kejuaraan ASEAN setelah menembus final turnamen kualifikasi, Piala AFF Putri, akhir tahun lalu. Indonesia bahkan berstatus sebagai juara Piala AFF.
Namun, status itu tak serta-merta membuat Vivi Oktavia Riski dan kawan-kawan bisa bersaing ketika bertemu lawan yang lebih tangguh di Asia Tenggara. Apalagi, mereka juga datang dalam kondisi tidak ideal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/e1b548e319d99dd4ff26d42ccf30ede3-20250702YGA18.jpg)
Timnas putri baru saja gagal lolos ke Piala Asia 2026 setelah kalah dua kali di turnamen kualifikasi, Juli lalu. Di sisi lain, skuad timnas dirombak. Pelatih juga diganti.
Padahal, selepas kualifikasi Piala Asia 2026, manajer timnas putri, Galih Dimuntur, mengatakan, Kejuaraan ASEAN adalah turnamen yang jadi tujuan utama tahun ini. Namun, perombakan di timnas putri seolah menunjukkan tidak ada persiapan yang matang.
Beberapa pemain diaspora, seperti Isa Warps dan Noa Leatomu, juga tidak bisa menunjukkan performa maksimal. Alasannya, kata Joko, mereka kurang waktu adaptasi karena baru bergabung dengan timnas beberapa hari menjelang turnamen.
Ketika menghadapi persaingan yang sesungguhnya di Asia Tenggara, sulit hanya mengandalkan skuad yang baru dibentuk dalam waktu singkat. Terlebih, para pemain Indonesia tak terwadahi kompetisi dalam negeri yang memungkinkan mereka aktif berlatih kendati tak masuk timnas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/1dd551a491ebbcc1b73ddd9553f6b7ab-cropped_image.jpg)
Apalagi, lawan yang dihadapi sudah sekelas Vietnam dan Thailand. Dua negara ini telah memetik hasil dari keseriusan membangun sepak bola putri dari level akar rumput dan menggelorakan kompetisi dalam negeri, bukan lewat upaya instan.
Kini, Indonesia dinanti satu laga terakhir melawan Kamboja pada Selasa (12/8/2025). Pertandingan ini sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi nasib kedua tim di Kejuaraan ASEAN. Namun, setidaknya, kemenangan akan jadi pelipur lara bagi mereka.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto