Ada warga yang berhemat demi kemandirian finansial hingga terpaksa karena penghasilan berkurang. Ada juga warga yang rela mengeluarkan uang lebih demi konser.
14 Mar 2025 06:00 WIB · Investigasi
Masyarakat penganut hidup frugal atau hemat cenderung menggunakan uangnya dengan pertimbangan. Sebaliknya, mereka yang merasa takut ketinggalan tren atau fear of missing out alias FOMO cenderung rela mengeluarkan uang demi mengikuti arus tertentu. Seperti apa sentimen di media sosial terkait kedua gaya hidup itu?
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah data sentimen terkait gaya hidup hemat dan FOMO dari Monitoring Media Litbang Kompas sepanjang November 2024 hingga pertengahan Februari 2025. Ada 4.733 konten media sosial yang memuat kata frugal living serta 70.584 konten dengan kata FOMO dan YOLO (you only live once atau kamu hidup hanya sekali). Mayoritas konten berasal dari media sosial X.
Hasil olahan menunjukkan, sebanyak 76,9 persen dari konten frugal living bernada positif. Artinya, mayoritas warganet tertarik dengan gaya hidup hemat. Konten frugal living dengan sentimen netral sebesar 22,5 persen dan sisanya negatif.
Sejak masa pacaran, pasangan suami istri Samuel Ray (36) dan Claudya (36) sudah menjalankan gaya hidup hemat atau frugal. Warga Tangerang Selatan, Banten, itu ingin menggapai kemandirian finansial tanpa harus bekerja atau financial independence retired early (FIRE).
Gaya hidup hemat demi kemandirian finansial pun membuahkan waktu yang lebih banyak untuk dihabiskan dengan anaknya. ”Kami bisa antar-jemput anak di siang hari. Bahkan, kami juga bisa makan bareng sama anak,” ujar Samuel saat ditemui pada pertengahan Februari 2025.
Demi mengumpulkan uang untuk menikah, Maskel (26) menjalani hidup frugal dengan menghemat anggaran makan sehari-hari hingga pakaian. Perawat di sebuah rumah sakit swasta di Kabupaten Tangerang, Banten, itu membatasi uang untuk makan hanya Rp 800.000 per bulan.
Tiap hari, Maskel memasak untuk sarapan dan makan malamnya. Setiap siang, dia memanfaatkan jatah makan siang dari rumah sakit. Saat akhir pekan, dia dan pasangan memilih untuk memasak. ”Kalau ada sisa Rp 200.000-Rp 300.000, aku simpan untuk seserahan,” katanya saat ditemui akhir Februari lalu.
Dia bercerita, berhemat dan menabung sudah menjadi kebiasaannya. Sejak dia kecil, keluarganya sudah menerapkan membeli barang sesuai kebutuhan. Beranjak dewasa, dia tak segan mengencangkan ikat pinggang untuk mencicil rumah. Setiap bulan, dia perlu merogoh Rp 2,1 juta untuk cicilan rumah. Angka itu hampir setara separuh penghasilannya.
Maskel juga mengajak calon istrinya untuk hidup frugal demi menambah pundi-pundi modal pernikahan. Menurut Maskel, tidak mudah untuk mengajak pasangannya tersebut untuk menghemat pengeluaran bulanan.
”Lumayan sulit untuk mengajak dia ikut berhemat. Namun, setelah saya terangkan tujuannya untuk modal menikah, dia akhirnya ’manut’. Selain itu, dia juga harus menanggung biaya sekolah adiknya yang masih SD,” kata Maskel.
Kalau ada sisa Rp 200.000-Rp 300.000, aku simpan untuk seserahan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/27/749dd459-f60b-41c8-9523-c4da5b132082_jpg.jpg)
Sejumlah masyarakat terpaksa hidup hemat karena pemutusan hubungan kerja (PHK). Alia (36), warga Jakarta, yang terkena PHK sejak Oktober 2024. Imbasnya, penghasilannya kini menjadi sekitar Rp 5 juta per bulan karena menjadi pekerja lepas. Sebelum PHK, gajinya sebagai business development manager menyentuh belasan juta rupiah setiap bulannya.
Mau tidak mau, dia mengubah gaya hidupnya, salah satunya dengan memangkas pengeluaran untuk hiburan. Anggaran untuk makan di luar pun benar-benar dihemat. ”Kalau dulu aku cari kesenangan yang berbayar, sekarang cari yang gratis saja,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/09/14e36cc3-1715-4fcf-b74a-751b9e07e3ff_png.png)
Alia tak sendiri. Iyus (40), ayah dua anak yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, menjual salah satu rumah dari dua hunian yang dimiliki setelah kena PHK pada Mei 2024. Sebelumnya, dia bekerja sebagai manajer proyek digital di bidang teknologi informasi. Dia juga menjual mobil dan beralih ke angkutan massal demi menjaga anggaran pendidikan bagi anak-anaknya.
Kalau dulu aku cari kesenangan yang berbayar, Sekarang cari yang gratis saja.
Di sisi lain, olahan Kompas menunjukkan, sebanyak 53,6 persen konten FOMO dan YOLO justru memiliki sentimen negatif yang menandakan warganet tak tertarik dengan gaya hidup tersebut. Di posisi kedua, sebesar 24,8 persen konten bernada positif, netral (20,8 persen), serta campuran (0,8 persen).
Menurut Maskel, gaya hidup ”ikut-ikutan” atau FOMO perlu dilawan. Dengan tidak mengikuti tren yang sedang berkembang, dia bisa menjalani hidup hemat.
Meskipun demikian, ada pula masyarakat yang penasaran mengikuti tren, salah satunya makanan viral. Maria (28), karyawan swasta di Jakarta Barat, berupaya tak pernah absen mencicip makanan yang diulas penutur kuliner. ”Setelah food blogger posting ulasannya tentang sebuah restoran di media sosial, aku merasa tidak boleh ketinggalan (untuk mencobanya),” ujarnya saat ditemui awal Maret 2025.
Dia mewujudkan rasa penasaran itu demi tak ingin merasa ketinggalan dengan teman-temannya yang sudah mencicipi makanan viral dan mengunggahnya di media sosial mereka. Antre berjam-jam pun tak masalah baginya.
Sementara itu, Reza (30) jungkir-balik mengelola uang agar tidak ketinggalan konser Seventeen dan Blackpink. Dengan penghasilan Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, buruh pabrik asal Banjarnegara, Jawa Tengah, itu menabung selama enam bulan sebelum konser.
Dia mewujudkan rasa penasaran itu demi tak ingin merasa ketinggalan dengan teman-temannya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/16/d478453c-60ef-4d9d-b71e-69eac8abcd92_jpg.jpg)
Biaya yang dikeluarkan untuk menonton Seventeen pada Februari 2025 sekitar Rp 1,7 juta sedangkan Blackpink Rp 3 juta pada 2023. Belum lagi, dia mesti menyediakan uang sekitar Rp 1,5 juta untuk biaya transportasi Banjarnegara-Jakarta serta penginapan.
Demi menonton konser, Reza rela menekan biaya nongkrong hingga peralatan mendaki gunung yang menjadi hobinya. Pengorbanan agar tak ketinggalan konser itu dilakoni karena dia merasa khawatir tidak dapat menonton langsung pentas idolanya dalam sepuluh tahun ke depan.
Untuk mengikuti liputan tema ini selengkapnya, kami mengajak Anda bergabung dalam grup Whatsapp Pembaca Kompas ”Investigasi & Jurnalisme Data” dengan mengeklik tautan ini.
Kami juga ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei berikut ini:
Penulis:
Maria Paschalia Judith Justiari, M Puteri Rosalina, Albertus Krisna, Pandu WiyogaEditor:
Andy Riza Hidayat, Margaretha Puteri Rosalina