Gaya Komunikasi Baru Trump, dari Ruang Oval untuk Dunia

Trump dengan senang hati membuka Ruang Oval hampir setiap hari bagi wartawan yang diberi hak bertanya agar dapat dilihat oleh dunia.

17 Feb 2025 17:07 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Selamat tinggal ruang pers yang penuh sesak dengan wartawan. Sejak berkuasa kembali di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebulan terakhir menerapkan gaya komunikasi baru kepada publik. Saban hari, dia cukup tampil dari Ruang Oval.

Ruang Oval menggantikan Ruang Briefing Pers James S Brady sebagai titik kontak bagi wartawan. Sudah beberapa kali dia menyampaikan pengumuman mendadak dari sana. Dunia jadi bisa melihat kemegahan kantornya yang terletak di Sayap Barat Gedung Putih itu.

”Penggunaan kantor oleh Trump dalam masa jabatan keduanya tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah siniar terbesar dari semuanya: siaran langsung dari Ruang Oval,” kata Douglas Brinkley, sejarawan kepresidenan kepada Reuters edisi Minggu (16/2/2025).

Pakar kepresidenan, Martha Joynt Kumar, mencatat, sejauh ini, Trump sudah melakukan 34 sesi bersama wartawan. Sebanyak 16 di antaranya berlangsung di Ruang Oval. Jumlah ini tiga kali lipat dari awal masa jabatan Trump (2017-2021) sebab dia hanya menggelar lima jumpa pers di Ruang Oval.

WASHINGTON, DC - FEBRUARY 04: U.S. President Donald Trump, accompanied by (L-R) Israeli Minister of Strategic Affairs Ron Dermer, Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu, U.S. National Security Adviser Michael Waltz, and U.S. Vice President JD Vance, speaks during a meeting in the Oval Office of the White House on February 04, 2025 in Washington, DC. Netanyahu is the first foreign leader to visit Trump since he returned to the White House last month.   Anna Moneymaker/Getty Images/AFP (Photo by Anna Moneymaker / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Dari balik meja Resolute yang gagah dengan latar bendera AS dan bendera presiden, Trump sering kali berpidato atau menyampaikan pengumuman. Staf-staf andalan Trump mendampingi di dekatnya. Foto-foto presiden AS, seperti George Washington, Thomas Jefferson, dan Ronald Reagan, ikut menjadi saksi. 

Sudah banyak pengumuman yang keluar di Ruang Oval, termasuk masalah Ukraina dan Gaza. Trump juga curhat tentang ketidaksukaannya pada sedotan kertas di sana.

Langkah presiden menyampaikan berita secara langsung merupakan strategi komunikasi pemerintahan Trump. ”Presiden adalah juru bicara terbaik yang dimiliki Gedung Putih, dan saya yakinkan Anda akan mendengar darinya dan saya sebanyak mungkin,” tutur Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam jumpa pers perdana pada 28 Januari 2025.

Ketika ditanya soal seringnya Trump tampil dari Ruang Oval, Leavitt berkata, Trump dengan senang hati membuka Ruang Oval hampir setiap hari bagi wartawan yang diberi hak bertanya agar dapat dilihat oleh dunia.

Sebagai orang yang seharusnya berurusan dengan pers, Leavitt justru mengurangi jadwal jumpa pers, hanya empat kali pada waktu itu.

Elon Musk, ketua bersama Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), CEO Tesla , dan miliarder, bersama putranya , X Musk, mendampinngi Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) selama penandatanganan perintah eksekutif di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC, Selasa (11/2/2025). Trump akan menandatangani perintah eksekutif yang menerapkan inisiatif pengoptimalan tenaga kerja dari DOGE. (Foto oleh AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/Andrew Harnik)

Pamer wibawa

Salah satu sumber yang dekat Trump mengatakan, Trump adalah orang yang suka dengan panggung. Jumpa pers di Ruang Oval adalah momen baginya untuk bebas berkreasi. Oleh karena itu, tidak heran dia suka membahas segala macam topik, bahkan memberi komentar tak terduga.

Pada Kamis (13/2/2025), misalnya, Trump dari balik mejanya mengumumkan, dia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka juga berencana untuk mengadakan pertemuan guna mengakhiri perang Ukraina-Rusia. Ini mengejutkan Ukraina dan para pemimpin Eropa.

Sebelumnya, Trump mengatakan pula hal mencengangkan soal Jalur Gaza di ruangan itu. Dia mengusulkan untuk memindahkan secara permanen 1,7 juta warga Palestina dari Gaza karena daerah itu sudah hancur oleh serangan militer Israel.

”Trump menggunakan Ruang Oval untuk menyorot dan menekankan otoritasnya sebagai presiden. Tidak ada yang lebih berwibawa daripada Sang Presiden menggunakan Ruang Oval,” kata Alan Schwartz, sejarawan kepresidenan dari Universitas Vanderbilt.

Banyaknya penampilan Trump di Ruang Oval berbeda dengan pendahulunya, Presiden Joe Biden dari Demokrat. Biden lebih terpaku pada pidato yang dibaca dari telepromter di Ruang Roosevelt, Ruang Timur, dan area publik lainnya. Ia juga mendapat kritik karena jarang berinteraksi dengan wartawan.

Jika Trump sudah menggelar 34 jumpa pers, Biden mengadakan 22 sesi tanya jawab singkat dalam periode waktu yang sama. Kumar menyebutkan, sembilan dari 22 jumpa pers terjadi di Ruang Oval.

US President Joe Biden meets with US President-elect Donald Trump in the Oval Office of the White House in Washington, DC, on November 13, 2024. (Photo by SAUL LOEB / AFP)

Koordinasi dadakan

Biasanya, acara Trump di Ruang Oval ditandai sebagai acara ”tertutup untuk pers” pada jadwal harian. Dengan demikian, wartawan tidak boleh dibawa masuk. Namun, beberapa menit sebelum setiap acara, ajudan akan memeriksa apakah Trump ingin membukanya untuk wartawan. Trump biasanya mau-mau saja.

Kebiasaan itu kerap memicu keributan dari para wartawan. Pekan lalu, misalnya, Trump membawa wartawan yang mendapat kabar dadakan untuk merekam dirinya mendesak Raja Jordania Abdullah II untuk menerima pengungsi Palestina dari Gaza. Namun, Raja Abdullah bersikukuh menolak.

Namun, namanya Trump, meski mengaku terbuka, ada-ada saja yang terjadi. Dia lebih agresif memutus informasi bagi media-media yang tidak sejalan. Ini sedikit miris, untuk negara yang mengaku menjunjung tinggi demokrasi.

Pekan lalu, dia melarang wartawan Associated Press masuk ke ruangan karena kantor berita tersebut terus menggunakan istilah Teluk Meksiko. Trump telah mengeluarkan perintah eksekutif yang mengubah nama kawasan itu menjadi Teluk Amerika.

Asosiasi Koresponden Gedung Putih dan media lainnya, termasuk Reuters, telah menyatakan keberatan terhadap pembatasan akses itu dengan dasar keputusan editorial.

Mengingat baru sebulan dia menjabat, publik akan lebih banyak lagi menyaksikan Trump dari Ruang Oval. Seperti seorang impresario televisi, Trump suka membuat akhir yang menegangkan guna menarik perhatian penonton untuk jumpa pers berikutnya. Suatu kali, dia pernah bercanda dengan pengumuman mendatang tentang tarif.

”Saya mungkin melakukannya hari ini. Jika saya melakukannya hari ini, saya hampir dapat melakukannya sekarang juga. Apakah Anda ingin terkejut?” kata Trump. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan