Derita warga Palestina yang terusir dan tetap berdesakan di separuh wilayah Gaza saat musim hujan.
26 Nov 2025 09:14 WIB · Internasional
AP/Abdel Kareem Hana
Fayyad, seorang anak berusia 7 tahun, mencoba membersihkan air dari tenda keluarganya yang kebanjiran di sebuah kamp sementara di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Selasa (25/11/2025). Menggunakan sekop berukuran kecil, ia berkali-kali menghalau air dari dalam tenda. Usahanya tampak sia-sia, genangan air di atas mata kaki orang dewasa itu terlalu banyak dihalau dengan sekop kecilnya.
Di luar tenda, tak berapa jauh dari tenda Fayyad, empat anak bermain di genangan air yang terkumpul di cekungan. Mereka asyik bermain di kedalaman air yang hampir mencapai dengkul mereka. Wajah riang terlihat di raut muka anak-anak itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/26/edd99068-0a3c-4364-b58e-2f052e95a62f_jpg.jpg)
Sementara beberapa orang tua sibuk menyelamatkan barang-barang berharga dari tenda. Barang-barang itu adalah yang tersisa dari dua tahun perang di Gaza. Musim hujan yang mulai memasuki daerah Gaza membawa penderitaan baru bagi para pengungsi yang tinggal di tenda-tenda yang tidak antiair. Situasi ini diperparah dengan musim dingin.
Menjelang malam, nyala kecil api unggun terlihat dari sudut-sudut bangunan rumah yang hancur. Warga Palestina membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Mereka duduk berdesakan mengelilingi api unggun sambil bercerita, menunggu kantuk.
Hampir seluruh penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari 2 juta jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka selama perang. Sebagian besar tinggal di tenda atau tempat penampungan. Beberapa di antaranya dibangun di atas rumah yang hancur, tanpa fasilitas pembuangan limbah yang memadai. Untuk toilet, mereka bergantung pada lubang pembuangan limbah yang digali di dekat tenda yang meluap saat hujan deras.
Organisasi-organisasi bantuan khawatir bahwa musim dingin dan musim hujan akan memperburuk situasi yang parah. Selain mencoba memaksimalkan pasokan bantuan kemanusiaan, mereka juga berupaya keras untuk mengurangi banjir dan memulihkan infrastruktur yang hancur akibat pertempuran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/26/8b3fcc48-478e-499b-8c31-7533441367e4_jpg.jpg)
Jalan-jalan di Deir al-Balah berubah menjadi sungai-sungai dangkal berair keruh. Seorang pria melewati sungai sambil menggendong seorang putri kecil di lengannya. Beberapa keluarga berlutut di tanah, mencoba menyerap air dengan potongan kain.
Kantor kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan lalu mengatakan, hujan deras telah merusak setidaknya 13.000 tenda dan menghancurkan tempat berlindung serta harta benda yang tersisa. Walaupun berhasil mendistribusikan lebih dari 3.600 tenda, 129.000 terpal, dan 87.000 selimut awal bulan ini, kantor tersebut menyatakan bahwa upaya tersebut terhambat oleh lambatnya masuknya bantuan. Pengiriman ke wilayah tersebut masih sangat dibatasi oleh otoritas Israel.
”Semua tenda hancur, di mana Hamas?” kata Assmaa Fayad di Deir al-Balah, Gaza tengah, yang tempat penampungannya rusak akibat hujan deras. Meskipun pertempuran harian telah berhenti di Gaza, Israel terus menyerang sebagian wilayah tersebut sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran oleh Hamas. Banyak warga Palestina yang terusir tetap berdesakan di separuh wilayah Gaza yang tidak dikuasai pasukan Israel. (AP/AFP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan