Menunggu Tiga Sandera Terakhir

Jenazah Ran Gvili, Dror Or, dan Sudthisak Rinthalak masih ditunggu keluarganya.

19 Nov 2025 13:13 WIB · Internasional

AP/Jehad Alshrafi

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Tiga keluarga masih menunggu dengan setia kabar kerabat mereka yang masih belum pulang sejak serangan Hamas dan kelompok bersenjata lainnya ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. Kabar yang memastikan mereka tidak lagi hidup pun tidak menyurutkan penantian.

Sejak tercapainya genjatan senjata 10 Oktober lalu, Hamas telah membebaskan 20 sandera dalam kondisi hidup pada 13 Oktober 2025 lalu. Selain itu, secara bertahap juga dikembalikan jenazah sandera sebanyak 25. Israel juga mengembalikan 15 sandera untuk tiap sandera yang dibebaskan Hamas. Secara keseluruhan, jumlah jenazah warga Palestina yang telah diterima sejauh ini adalah 330.

Hamas dan pekerja Mesir yang didampingi anggota Komite Palang Merah Internasional mencari jenazah sandera, Kamis (13/11/2025).
Suasana penjagaan Hamas saat Komite Palang Merah Internasional mencari jenazah sandera, Kamis (13/11/2025).
Hamas menuju ke timur Kota Gaza untuk mencari jenazah sandera, Kamis (13/11/2025).
Hamas ditemani anggota Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menuju ke timur Kota Gaza untuk mencari jenazah sandera, Kamis (13/11/2025).

Rusaknya infrastruktur di Gaza membuat pencarian jenazah sandera yang tersisa memakan waktu lama. Tim bantuan dari Mesir dengan peralatan berat yang membantu pencarian sejauh ini belum membuahkan hasil.

Jenazah sandera terakhir yang dikembalikan Hamas diidentifikasi sebagai Meny Godard. Ia diculik saat serangan Hamas pada Oktober 2023 dari Kibbutz Be'eri di Israel selatan. Istrinya, Ayelet, tewas dalam serangan itu. Menurut data yang dikeluarkan, ada tiga nama yang masih belum ditemukan dan dikembalikan ke Israel.

Konvoi Palang Merah menuju penyeberangan perbatasan dengan Israel, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Kamis (13/11/2025).

Ran Gvili, yang berusia 24 tahun saat diculik, merupakan polisi yang bertugas di unit polisi elite. Ia sedang menjalani pemulihan dari patah bahu yang dialaminya dalam kecelakaan sepeda motor. Saat mendengar serangan Hamas, ia bergegas membantu rekan-rekan polisinya pada 7 Oktober. Setelah membantu orang-orang melarikan diri dari festival musik Nova, ia tewas dalam pertempuran di lokasi lain dan jenazahnya dibawa ke Gaza. Ia meninggalkan orangtua dan seorang saudara perempuan.

Dror Or, yang berusia 52 tahun, adalah ayah dari tiga anak yang bekerja di peternakan sapi perah di Kibbutz Be'eri selama 15 tahun, hingga mencapai posisi manajer. Dror ahli pembuat keju, menurut keluarga dan teman-temannya. Pada 7 Oktober, keluarganya sedang bersembunyi di ruang aman mereka ketika Hamas membakar rumah tersebut. Dror dan istrinya, Yonat, tewas. Dua anak mereka, Noam, yang saat itu berusia 16 tahun, dan Alma, yang saat itu berusia 13 tahun, diculik dan dibebaskan selama gencatan senjata pada November 2023.

Hamas dan pekerja Mesir mencari jenazah sandera Israel di lingkungan Shijaiyah di Kota Gaza, Rabu (5/11/2025).
Anggota Hamas berjaga saat timnya mencari jenazah sandera Israel di lingkungan Shijaiyah di Kota Gaza Rabu (5/11/2025).
Suasana pencarian jenazah sandera di sebelah timur Kota Gaza, Rabu (12/11/2025).
Hamas ditemani oleh anggota Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mencari jenazah sandera, Kamis (13/11/2025).
Konvoi Palang Merah yang membawa jenazah sandera yang diserahkan oleh militan Hamas menuju penyeberangan perbatasan dengan Israel, untuk dipindahkan ke otoritas Israel, di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Kamis (13/11/2025).

Sudthisak Rinthalak adalah buruh tani dari Thailand yang sedang bekerja di Kibbutz Be'eri. Ia bekerja di Israel sejak 2017. Sebanyak 31 pekerja dari Thailand diculik pada serangan 7 Oktober 2023. Ini menjadi kelompok warga negara asing terbesar yang ditawan. Sebagian besar dari mereka dibebaskan pada gencatan senjata pertama dan kedua. Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa selain para sandera, 46 warga negara Thailand juga tewas selama perang tersebut. 

Kegembiraan dan rasa syukur yang dirasakan para keluarga sandera kembali hidup ataupun yang pulang dalam peti mati masih dinantikan tiga keluarga. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto