Dalam Nestapa, Gaza Rayakan Hari Kemenangan

Pascagencatan senjata, Israel menyerang lagi Jalur Gaza, bahkan saat Idul Fitri. Duka merundung warga Gaza saat Idul Fitri, sementara persediaan makanan tipis.

31 Mar 2025 11:32 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Hari Minggu (30/3/3025) sebagian besar umat Islam dunia termasuk warga di Jalur Gaza merayakan Idul Fitri. Hari kemenangan yang seharusnya penuh sukacita, kenyataannya tidak demikian bagi mereka.

Sama seperti Idul Fitri pada tahun lalu, tahun ini Idul Fitri kembali menyapa warga Gaza saat perang antara Israel dan Hamas masih berkecamuk. Di hari kemenangan itu, warga Gaza justu merayakan Idul Fitri dalam duka dan kesedihan mendalam. Mereka kehilangan anggota keluarga akibat serangan Israel.

”Perayaan Idul Fitri ini menyedihkan,” kata Adel al-Shaer setelah menghadiri shalat di tengah reruntuhan di kota pusat Deir al-Balah. ”Kami kehilangan orang-orang yang kami cintai, anak-anak kami, kehidupan kami, dan masa depan kami,” kata Al-Shaer sambil menangis.

Dua puluh anggota keluarga besar Al-Shaer, termasuk empat keponakannya yang masih muda, tewas akibat serangan Israel beberapa hari lalu. Di saat perayaan Idul Fitri, warga Gaza juga tidak bisa merasakan sukacita. Pada Minggu pagi kemarin, Israel kembali menyerang wilayah selatan Jalur Gaza.

A bracelet is wrapped around the hand of 10-year-old Dana Abu Sultan, who, along with her sister, brother, parents, uncle, and aunt, was killed when an Israeli army strike hit their tent, as their bodies lie on the floor at a hospital in Khan Younis, southern Gaza Strip, awaiting burial preparation on the first day of the Muslim holiday of Eid, Sunday, March 30, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Rumah Sakit Nasser di kota Khan Younis menginformasikan, serangan Israel itu menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk sembilan anak-anak dan tiga perempuan. Dari korban tewas, terlihat dua gadis tampak mengenakan pakaian baru yang dibeli dan sepatu kets yang bersih.

Pada Minggu malam, serangan Israel menghantam sebuah tenda di Deir al-Balah. Serangan itu menewaskan sedikitnya dua orang. ”Terjadi pembunuhan, pengungsian, kelaparan, dan pengepungan,” kata Saed al-Kourd, seorang jemaah. ”Kami keluar untuk merayakan Idul Fitri agar anak-anak bahagia. Namun, bagaimana dengan kegembiraan Idul Fitri? Tidak ada Idul Fitri,” kata Al-Kourd.

Di pengujung bulan Ramadhan, warga Gaza menyambut Idul Fitri dalam kesederhanaan, tanpa pakaian baru dan makanan seadanya. Banyak warga Palestina di Gaza menjalankan shalat Id di luar masjid yang hancur.

Tekanan Israel

Sejak gencatan senjata Israel dan Hamas berakhir pada 1 Maret 2025, Israel melanjutkan lagi perang yang sudah berlangsung 17 bulan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, perang selama itu sudah menewaskan 50.000 lebih warga.

TOPSHOT - Palestinians queue outside a bakery during Eid al-Fitr, which marks the end of the holy fasting month of Ramadan, in Gaza City on March 30, 2025. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Israel kembali menyerang wilayah Gaza setelah Hamas menolak menerima perubahan gencatan senjata. Serangan Israel itu menewaskan ratusan warga Palestina.

Bahkan serangan Israel juga menewaskan 14 petugas tanggap darurat di selatan kota Rafah. Jenazah mereka ditemukan seminggu setelah serangan Israel.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyebut serangan Israel itu sebagai serangan paling mematikan terhadap pekerja Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di seluruh dunia sejak 2017. PRCS menyatakan, penargetan kepada petugas medis dipandang sebagai kejahatan perang.

Israel juga menutup akses pada bantuan kemanusiaan ke Gaza saat gencatan senjata berakhir. Langkah Israel itu membuat warga Gaza memiliki sedikit saja persediaan makanan, bahan bakar, juga bantuan kemanusiaan dalam sebulan terakhir.

Hassan Abu Sultan mourns over the body of her son Jehad, who, along with his wife and three children, was killed when an Israeli army strike hit their tent, as heir bodies lie on the floor at a hospital in Khan Younis, southern Gaza Strip, awaiting burial on the first day of the Muslim holiday of Eid, Sunday, March 30, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Gencatan senjata

Terus memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza mendorong mediator Arab terus berusaha mengembalikan gencatan senjata ke jalur yang benar. Hamas mengatakan pada hari Sabtu, mereka menerima usulan baru dari Mesir dan Qatar.

Pemimpin Hamas Khalil al-Hayyah mengumumkan, pihaknya menyetujui rencana gencatan senjata yang disusun Mesir dan Qatar. Mereka akan membebaskan lima sandera yang masih hidup. Sebagai pertukaran, Israel mengizinkan masuknya bantuan sosial.

Sementara Israel mengatakan, mereka tengah berkoordinasi dengan Amerika Serikat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih berkoordinasi dengan AS untuk menyusun usulan tersebut.

Netanyahu mengatakan, Israel tetap akan melanjutkan serangan militer sambil bernegosiasi. Ia menolak anggapan bahwa Israel tidak ingin mengakhiri perang.

Pada perundingan gencatan senjata, AS merupakan mediator bagi Israel. Namun, rincian usulan belum diketahui.

Palestinians transport water back to their family during Eid al-Fitr, which marks the end of the holy fasting month of Ramadan, in Gaza City on March 30, 2025. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Sejauh ini, Israel kerap menetapkan syarat-syarat yang jauh melampaui perjanjian gencatan senjata. Hal itu membuat Hamas menolak syarat-syarat tersebut.

”Hamas akan melucuti senjata. Para pemimpinnya akan diizinkan keluar. Kami akan menjaga keamanan umum di Jalur Gaza dan memungkinkan terwujudnya rencana (Presiden Donald) Trump,” kata Netanyahu dalam rapat Kabinet.

Trump telah mengusulkan agar penduduk Gaza dimukimkan kembali di negara lain. Dengan begitu, AS dapat membangun kembali Gaza untuk warga lain.

Warga Palestina mengatakan, mereka tidak ingin meninggalkan tanah air mereka. Para pakar hak asasi manusia mengatakan, rencana Trump itu berpotensi melanggar hukum internasional.

Warga Gaza sangat menginginkan perang segera diakhiri. Mereka muak dan frustrasi sehingga menggelar aksi unjuk rasa pada pekan lalu di kota-kota wilayah utara Gaza. Mereka meminta Hamas keluar dari Gaza. Mereka menginginkan kehidupan. Setidaknya supaya mereka bisa merayakan hari kemenangan dengan sebenar-benarnya, tidak hanya sekadar bertahan hidup. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H