Israel saat ini sedang membumihanguskan Tepi Barat, seperti yang mereka lakukan sebelumnya di Jalur Gaza.
28 Feb 2025 08:10 WIB · Opini
Nasib Tepi Barat kini segera menyusul Jalur Gaza yang telah luluh lantah akibat gempuran Israel selama lebih dari 15 bulan. Tak lama berselang setelah dimulai gencatan senjata di Jalur Gaza pada 19 Januari 2025, Israel mulai 21 Januari 2025 melancarkan operasi militer besar besaran dengan sandi Perisai Dinding Jilid II ke Tepi Barat.
Serangan militer Israel dilancarkan di berbagai titik di Tepi Barat. Ada tiga kamp pengungsi Palestina menjadi sasaran serangan terbesar: kamp pengungsi Jenin, kamp pengungsi Tul Karem, dan kamp pengungsi Nour as-Shams. Tiga kamp pengungsi Palestina ini dikenal sebagai ujung tombak perlawanan Palestina terhadap Israel di Tepi Barat sejak 1967.
Israel kini seperti melaksanakan kebijakan politik transaksi, yakni menghentikan operasi militer di Jalur Gaza dengan imbalan memulai operasi militer di Tepi Barat.
Presiden AS Donald Trump pun seperti memberi lampu hijau atas operasi militer Israel di Tepi Barat itu. Maka, tidak tertutup kemungkinan telah terjadi kesepahaman antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait operasi militer Israel di Tepi Barat dengan imbalan kesediaan Netanyahu menerima gencatan senjata di Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/77a5048671218d381259e252a11623fb-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_127600105.jpg)
Apa yang terjadi di Tepi Barat saat ini tidak kalah berbahaya dibanding aksi bombardir Israel selama 15 bulan atas Jalur Gaza. Israel saat ini sedang membumihanguskan Tepi Barat, seperti yang mereka lakukan sebelumnya di Jalur Gaza.
Israel kini mengerahkan 24 batalion pasukan infantri untuk menggempur Tepi Barat. Israel pada hari Rabu, 26 Februari 2025, mengerahkan tank-tank tambahan ke kamp pengungsi Jenin untuk mengepung dan menghancurkan kamp tersebut.
Israel seperti tengah melaksanakan kebijakan politik transaksi, yakni menghentikan operasi militer di Jalur Gaza dengan imbalan memulai operasi militer di Tepi Barat.
Sebelumnya, pada Senin, 24 Februari 2025, Israel mengerahkan tiga tank ke kamp pengungsi Jenin. Pengerahan tank-tank Israel ke Tepi Barat itu untuk yang pertama kalinya sejak operasi militer Perisai Dinding Israel ke Tepi Barat pada 2002.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan, operasi militer Israel ke Tepi Barat saat ini disebut operasi Perisai Dinding Jilid II setelah operasi Perisai Dinding Jilid I tahun 2002.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/72416af42a9a1a61693e75af72bc772a-Israel_Palestinians_127752948.jpg)
Netanyahu dalam konferensi pers saat acara wisuda para perwira baru di dekat kota Tel Aviv, Minggu (23/2/2025) menegaskan, Israel akan terus bertempur di Tepi Barat.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, operasi militer Israel secara besar-besaran di Tepi Barat yang dimulai sejak 21 Januari 2025 telah menelan korban 62 orang tewas, ribuan warga Palestina mengungsi, serta kehancuran secara luas rumah-rumah dan gedung umum di Tepi Barat, khususnya di kota Jenin dan Tulkarem.
Adapun korban warga Palestina di Tepi Barat, menyusul aksi perlawanan mereka sebagai solidaritas terhadap warga Jalur Gaza selama 15 bulan, mencapai jumlah 924 orang tewas, 7.000 orang luka-luka, dan 14.500 orang ditangkap.
Israel menjalankan kebijakan militer di Tepi Barat, persis seperti di Jalur Gaza. Mereka menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan kemudian mengevakuasi warga Palestina tersebut ke tempat lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/b4edab885562ca8383aa3b7cb9649720-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_127599322.jpg)
Katz telah mengeluarkan instruksi melarang warga Palestina yang dipaksa mengungsi dari kamp Jenin, Tulkarem, dan Nour as-Shams kembali ke kamp-kamp pengungsi tersebut. Disebutkan, ada sekitar 40.000 pengungsi dari kamp-kamp itu.
Maka, kebijakan politik yang diterapkan Israel di Tepi Barat saat ini adalah merelokasi warga Tepi Barat, seperti halnya Israel juga berusaha merelokasi 2,3 juta warga Palestina dari Jalur Gaza ke Mesir dan Jordania atau ke negara-negara lain yang mau menerimanya.
Kebijakan politik yang diterapkan Israel di Tepi Barat saat ini adalah merelokasi warga Tepi Barat, seperti halnya mereka juga berusaha merelokasi warga Palestina dari Jalur Gaza.
Situs Israel, Walla, mengungkapkan, Katz telah memerintahkan pasukan Israel yang kini berada di Tepi Barat untuk tetap bertahan selama mungkin sebelum ada perintah baru.
Langkah Israel menerapkan taktik seperti yang mereka lakukan di Jalur Gaza belakangan ini diistilahkan dengan ”Gazafikasi (Gazafication)”. Istilah ini dilontarkan di media The New York Times, 24 November 2024, oleh Nadav Weiman, Direktur Breaking the Silence, kelompok advokasi beranggotakan para mantan tentara Israel yang menentang pendudukan teritorial Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/f6955d82c138610c7486ba76c4cbe646-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_127599295.jpg)
Istilah tersebut juga digunakan lembaga Oxfam dalam laporan yang dirilis, 25 Februari 2025. Laporan itu menyebutkan, angka lebih dari 40.000 warga Palestina di Tepi Barat yang dipaksa mengungsi sejak 19 Januari 2025 adalah jumlah terbesar sejak Israel menduduki Teritorial Palestina, termasuk Tepi Barat, pada 1967.
”Kita saat ini tengah menyaksikan pemandangan sama, yang kita lihat melalui televisi terjadi di Gaza, Rafah, dan Deir Al-Balah. Kita sedang menyaksikan ‘Gazafikasi’ Tepi Barat,” kata Mustafa Tamaizeh dari Oxfam. ”Komunitas internasional seharusnya tidak tutup mata.”
Kita sedang menyaksikan ‘Gazafikasi’ Tepi Barat. (Mustafa Tamaizeh)
Menurut laporan Badan PBB untuk Pekerjaan dan Pemulihan Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara, seperti Jenin, Nablus, dan Tulkarem, sudah tidak layak dihuni lagi setelah beberapa pekan dibombardir Israel yang memaksa penghuninya mengungsi.
UNRWA juga mengklaim, Israel telah menduduki dan menghancurkan kantor-kantor UNRWA di Tepi Barat. Israel membangun pula 900 pos pemeriksaan militer di berbagai titik di Tepi Barat. Keberadaan pos-pos itu membuat warga Palestina sangat tersiksa jika ingin bepergian dari satu tempat ke tempat lain di Tepi Barat.
Selain melancarkan operasi militer, Israel juga terus memperluas pembangunan permukiman Yahudi ilegal di berbagai titik di Tepi Barat. Pada tahun 2024, Israel membangun 60 permukiman Yahudi baru di Tepi Barat. Ini jumlah terbesar pembangunan permukiman Yahudi sejak 1967.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/27/7c8f6e9de6f1159a199f787bd20f7a5d-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_DEMOLITION_127572279.jpg)
Sejak tahun 1997 hingga 2023 atau selama 26 tahun, Israel membangun 284 permukiman Yahudi di Tepi Barat. Pada tahun 2024 saja, ada 60 permukiman Yahudi yang dibangun.
Pembangunan gencar permukiman Yahudi baru di Tepi Barat atas restu pemerintah Israel, tentu, akan semakin memperkecil peluang bagi terwujudnya solusi dua negara.
Pakar Palestina untuk Urusan Israel, Muhammad Mostafa, mengatakan bahwa Israel ingin menduduki kembali Tepi Barat dan mengakhiri kesepakatan Oslo tahun 1993 yang melahirkan wilayah otonomi di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
_______
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Penulis:
MUSTHAFA ABD RAHMANEditor:
Muhammad Samsul Hadi