Di tengah gencatan senjata di Gaza, militer Israel menggencarkan gempuran pada Palestina di Tepi Barat. Apa yang diincar Israel di wilayah pendudukan itu?
05 Feb 2025 08:00 WIB · Internasional
1. Apa yang terjadi di Tepi Barat?
2. Mengapa Israel menyerang Tepi Barat?
3. Mengapa Jenin kerap digempur Israel?
4. Apa respons pejabat Palestina dan komunitas internasional?
5. Bagaimana AS dan dunia Barat bersikap?
Baru dua hari setelah berlakunya gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza mulai 19 Januari 2025, militer Israel melancarkan operasi besar-besaran di Tepi Barat dengan sandi operasi ”Tembok Besi”. Tepi Barat adalah wilayah pendudukan terpisah dari Jalur Gaza.
Bersama Jerusalem Timur, wilayah itu diduduki Israel sejak perang Arab-Israel tahun 1967. Ada 700.000 pemukim Yahudi tinggal di Tepi Barat dan Jerusalem Timur di antara 2,7 juta warga Palestina.
Sejak 7 Oktober 2023, awal perang Hamas-Israel, ratusan warga Palestina dan belasan pemukim Yahudi tewas di Tepi Barat. Selain itu, ribuan orang Palestina di Tepi Barat ditahan tentara Israel.
Tak hanya dilancarkan militer Israel, serangan terhadap Palestina di Tepi Barat juga dilakukan para pemukim Yahudi. Pada 21 Januari 2025, dengan kawalan tentara Israel, mereka membakar rumah, kebun, bengkel, dan kendaraan warga Palestina di Jinsafut, Fanduq, Masafer Yatta, selatan Kota Hebron, Desa Sinjil (Ramallah), Desa Ein Siniy, Turmus Aya,
Kementerian Kesehatan Palestina, Minggu (2/2/2025), mengatakan, serangan Israel ke Tepi Barat sejak awal tahun ini telah menewaskan 70 orang. Israel mengakui, sedikitnya 50 anggota militan Palestina tewas sejak operasi tersebut dilancarkan di teritorial itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/03/a4efdd58c584ff8756dac3886e160717-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_127213386.jpg)
PM Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, operasi ”Tembok Besi” digelar dalam skala besar dan penting. Sasarannya, kata dia, ”poros Iran yang memasok senjata di Gaza, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Yudea serta Samaria.”
Istilah ”Yudea” dan ”Samaria” kerap digunakan pejabat Israel dalam menyebut wilayah pendudukan Tepi Barat. Salah satu target serangan paling brutal adalah kamp pengungsi di Jenin.
Namun, seperti dikutip Al Jazeera, Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) menyebut serangan militer Israel ke Tepi Barat akhir-akhir ini merupakan ”upaya menjadikan Jenin sebagai Gaza berikutnya”.
Serangan ke Tepi Barat dipandang sebagai upaya Netanyahu menata kembali kekuasaannya yang mulai goyah pascagencatan senjata di Gaza, terutama dari kelompok sayap kanan yang pernah mendukungnya.
Juru Bicara Kepresidenan Palestina Nabil Abu Rudeineh, dalam pernyataan yang dilansir kantor berita Palestina, Wafa, Senin (3/2/2025), menyebut langkah Israel saat ini bagian dari rencana mengusir bangsa Palestina dan tindakan pembersihan etnis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/22/fc06a4bcf1bcd97490f11952c8a3be63-Israel_Palestinians_126945831.jpg)
Dalam serbuan Israel berkode sandi operasi ”Tembok Besi” akhir-akhir ini, Kota Jenin menjadi salah satu target utama. Sejak lama Kota Jenin dikenal sebagai simbol persatuan gerakan perlawanan Palestina. Di kota itu, semua gerakan Palestina dari Fatah, Hamas, dan faksi lain bersatu di bawah bendera Palestina tanpa menonjolkan faksi masing-masing.
Terletak di Tepi Barat bagian utara dengan penduduk sekitar 40.000 jiwa (terdiri dari mayoritas Muslim dan minoritas Kristen), kamp pengungsi Jenin dihuni sekitar 10.000 pengungsi. Kamp pengungsi Jenin dibangun pada awal tahun 1950-an untuk menampung warga Palestina yang terusir dari kota-kota Palestina di tepi Laut Tengah, seperti kota Haifa, Jaffa, Hadera, dan Acre, yang jatuh ke tangan Israel pada perang Arab-Israel tahun 1948.
Guru besar ilmu politik dan hubungan internasional pada Universitas Hebron, Jalal Shubky, kota Jenin mewarisi sejarah perlawanan Palestina sejak tahun 1930-an, melawan kolonial Inggris hingga era pendudukan Israel saat ini. Kota itu menjadi tempat lahirnya Brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer faksi Hamas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/26/aa0da5a1-8005-4781-b79d-cbb863cce96a.jpg)
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras tindakan brutal penghancuran bangunan di Jenin oleh Israel dalam operasi ”Tembok Besi” akhir-akhir ini. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mendesak digelar sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) demi menghentikan penghancuran kamp pengungsi Palestina di Jenin dan Tulkarm oleh Israel.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menyatakan kekhawatirannya atas ancaman eksistensial terhadap wilayah Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat, di tengah perluasan permukiman ilegal warga Yahudi. Apalagi, sejumlah pejabat senior Israel secara terbuka berbicara tentang pencaplokan resmi seluruh atau sebagian wilayah Tepi Barat dalam beberapa bulan mendatang.
”Pencaplokan semacam itu akan menjadi pelanggaran paling serius terhadap hukum internasional,” kata Guterres.
Tak lama setelah dilantik pada 20 Januari 2025, Presiden AS Donald Trump menyatakan mencabut sanksi terhadap pemukim Yahudi ilegal di Tepi Barat yang melanggar hukum internasional. Sebelumnya, pemerintahan Presiden Joe Biden menegaskan keberadaan pemukim Yahudi sebagai gerakan pemukim ekstremis.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, yang berasal dari ekstrem kanan, memuji langkah Trump mencabut sanksi terhadap pemukim ilegal Yahudi yang melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Ia gembira menyatakan siap bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk memperluas pemukiman Yahudi di tanah pendudukan Tepi Barat.
Perancis menyatakan keprihatinan serius pada eskalasi di Tepi Barat dan menyerukan otoritas Israel agar menahan diri. Hal senada disampaikan Kanada. Uni Eropa, seperti dikutip kantor berita Wafa, menyebut situasi di Tepi Barat menjadi alarm peringatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/05/aa892759ab970f5748e6752656e7ea18-1000000154.jpg)
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari