PASAR KEUANGAN

Gejolak Rupiah dan IHSG Belum Mereda

Gejolak di pasar keuangan domestik belum mereda dan bahkan diperkirakan berlanjut hingga akhir Juni 2026.

08 Jun 2026 13:42 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah masih melanjutkan tren pelemahan. Kondisi ini ikut memicu tekanan terhadap pasar saham domestik. Gejolak yang melanda pasar keuangan domestik tersebut diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir Juni 2026.

Mengutip data Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS dibuka di level Rp 18.106 pada perdagangan Senin (8/6/2026). Hingga sesi perdagangan siang, rupiah masih bertengger di sekitar Rp 18.182 per dolar AS, melemah 0,81 persen secara harian dan terdepresiasi 9 persen secara tahun kalender berjalan.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi pertama hari ini ditutup di level 5.434,31 atau melemah 2,87 persen dibanding penutupan sebelumnya. Dengan demikian, secara tahun kalender berjalan, IHSG melemah sebesar 37,88 persen.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh konflik geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

”Dari internal, kita melihat bahwa harga minyak mentah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Artinya, kebutuhan dolar akan terus meningkat. Ini akan memengaruhi neraca berjalan dan defisit anggaran,” katanya.

Infografik Pergerakan IHSG (Per Tahun) 2026

Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap penilaian pasar Indonesia oleh MSCI menjadi frontier market. Padahal, pengumuman penilaian tersebut baru akan dirilis pada pertengahan Juni 2026.

Ibrahim menambahkan, investor turut mencermati berbagai program prioritas pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Program ini terus berjalan di tengah meningkatnya beban subsidi akibat lonjakan harga minyak yang harus ditanggung oleh pemerintah.

”Kemungkinan besar kurs rupiah akan menembus level Rp 19.000 pada akhir bulan ini. Demikian juga dengan IHSG yang kemungkinan akan menuju level terkritis, yakni 4.000 pada akhir bulan Juni ini,” ujarnya.

Quote

Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi sentimen negatif sehingga masih memicu aksi jual masif.

Dihubungi secara terpisah, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, IHSG terus-menerus diterpa berbagai sentimen negatif. Tekanan global datang dari pergerakan harga komoditas dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sementara itu, dari dalam negeri, pergerakan IHSG cenderung dipengaruhi oleh penurunan bobot investasi, serta penurunan peringkat dan proyeksi terhadap Indonesia oleh berbagai lembaga internasional.

”Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi sentimen negatif sehingga masih memicu aksi jual masif,” katanya.

Karyawan menyiapkan uang kertas rupiah di tempat penukaran valuta asing Dolarindo di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (4/6/2026). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah Rp 18.039 per dolar AS, melemah 108 poin dibandingkan dengan kurs sehari sebelumnya.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
04-06-2026 *** Local Caption *** 18.039

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) telah mencatatkan jual neto sebesar Rp 15,43 triliun dalam periode akhir 2025 hingga Mei 2026. Ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang justru mencatatkan beli neto sebesar Rp 49,62 triliun.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat, telah terjadi arus modal keluar oleh investor asing di pasar saham sebesar Rp 53,97 triliun secara tahun kalender berjalan hingga akhir Mei 2026. Angka ini lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 45,34 triliun.

Reza menambahkan, penurunan terdalam dialami oleh emiten-emiten sektor keuangan dan transportasi. Di sektor keuangan, sentimen cenderung digerakkan oleh kenaikan suku bunga acuan yang dipandang akan memicu naiknya suku bunga kredit dan menahan ekspansi masyarakat.

Di sisi lain, tekanan yang dialami oleh sektor transportasi utamanya datang dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, menguatnya dolar AS juga dipandang berdampak terhadap biaya transportasi dan operasional emiten.

Warga mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina di kawasan Jalan Letjen S Parman, Jakarta, Senin (4/5/2026). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada April 2026 sebesar 0,13 persen. BBM menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi April.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
04-05-2026

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan