SEPAK BOLA

Gelang Portugal, Ikan Salmon Norwegia, hingga Sajadah Senegal

Tidak hanya persiapan taktik dilakukan tim demi bertarung di Piala Dunia. Ada kebiasaan khusus yang dilakukan tim demi melecut spirit tim.

15 Jun 2026 10:42 WIB · Olahraga

AP Photo/Marta Lavandier

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Sepak bola hari ini bukan lagi sekadar urusan sebelas melawan sebelas di atas lapangan hijau. Sebelum tim menjalani peluit sepak mula laga perdana di Piala Dunia 2026 ditiup, sudah ada persiapan khusus untuk menopang tim demi ambisi agung.

Di balik gemerlap adu taktik dan aksi para bintang, ada ritual-ritual unik dan esensial yang dibawa oleh setiap kontestan sebagai bekal utama mereka menaklukkan turnamen paling megah di Bumi ini.

Bagi tim nasional Portugal, perjalanan ke Amerika Utara bukan sekadar misi berburu gelar juara. Ada ruang kosong di hati setiap pemain yang harus mereka bawa bersama ke atas lapangan.

Ruang itu milik Diogo Jota, penyerang sayap yang secara tragis berpulang akibat kecelakaan mobil di Spanyol pada Juli 2025. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam yang tak pernah benar-benar pulih di kalangan pencinta sepak bola Portugal.

Namun, alih-alih membiarkan duka itu melumpuhkan konsentrasi, Portugal mengubahnya menjadi sebuah simbol persatuan yang sakral. Sebelum skuad asuhan Roberto Martínez terbang melintasi Atlantik, Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro memberikan sebuah hadiah khusus dalam acara pelepasan resmi di Istana Sao Bento, Lisabon, Portugal.

Hadiah itu berupa sebuah gelang khusus yang dirancang sedemikian rupa agar bisa dipakai para pemain, bahkan saat pertandingan resmi berlangsung di bawah regulasi ketat FIFA. Gelang khusus itu berbahan karet elastis yang berwarna merah marun dan hijau. Warna identik Portugal.

Quote

Tidak ada imbauan untuk kami menggunakannya, tetapi kami sepakat untuk mengenakan ketika tiba di sini (Piala Dunia 2026).

Portugal WCup Soccer

Di permukaan gelang terukir nama 26 pemain yang masuk ke dalam skuad resmi Piala Dunia 2026 di sisi gelang berlatar hijau. Pada sisi berwarna merah marun, hanya satu nama tertulis: Diogo Jota.

Konsep gelang ”26+1” ini menjadi jangkar emosional bagi Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan untuk membangun motivasi serta mempererat persatuan tim. Gelang itu sudah dikenakan ”Selecao das Quinas” pada sesi latihan tim di Palm Beach Gardens, Florida, Amerika Serikat, jelang pertandingan pertama kontra Republik Demokratik Kongo, Kamis (18/6/2026) pukul 00.00 WIB, di Stadion Houston, AS.

Gelandang Portugal asal Paris Saint-Germain, Vitinha, menyebut gelang istimewa itu memiliki makna bagi skuad Portugal. Itu yang membuat seluruh pemain sepakat mengenakan di pergelangan tangan mereka selama bertarung di Piala Dunia 2026.

”Pada dasarnya, cerita tentang gelang ini dimulai saat kami bertemu dengan Perdana Menteri. Ia menawarkan gelang ini kepada kami,” ujar Vitinha dilansir A Bola.

Ia menambahkan, ”Tidak ada imbauan untuk kami menggunakannya, tetapi kami sepakat untuk mengenakan ketika tiba di sini (Piala Dunia 2026).”

Stiker Panini berukuran besar bergambar penyerang Norwegia, Erling Haaland, terpasang di San Pedro Garza Garcia, Monterrey, Meksiko, Selasa (9/6/2026).

Dapur Viking

Jika Portugal bertumpu pada kekuatan memori dan hati, tim nasional Norwegia memilih pendekatan yang sangat praktis sekaligus presisi untuk menjaga performa mereka.

Menembus putaran final Piala Dunia untuk pertama kali dalam 28 tahun terakhir membuat Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) tidak ingin menyia-nyiakan sekecil apa pun peluang. Bagi mereka, adaptasi performa tidak hanya soal aklimatisasi cuaca, tetapi apa yang masuk ke dalam perut Erling Haaland dan kolega setiap hari.

Langkah ekstrem pun diambil demi mengejar konsistensi fisik dan menjaga nutrisi yang akrab dengan tubuh para pemain. Skuad Norwegia memutuskan membawa ”dapur” mereka sendiri dari rumah. Itu lengkap dengan kargo logistik raksasa yang dipenuhi oleh bahan makanan pokok khas Skandinavia.

Manifes penerbangan tim mencatat komoditas luar biasa, mulai dari 300 kilogram ikan salmon Atlantik premium dan kod putih, 116 kilogram brunost atau keju kambing tradisional, serta 6.000 butir jeruk segar.

Tiga bahan makanan itu adalah hasil alami bumi Norwegia. Tim Norwegia datang ke Amerika Utara serupa bangsa Viking yang hendak menaklukkan dunia beberapa abad silam.

Operasi kuliner raksasa ini dipimpin langsung oleh koki kenamaan Aron Espeland, seorang peraih medali emas Culinary Olympics yang sudah mendampingi timnas Norwegia selama puluhan tahun.

Bagi Espeland, membawa bahan makanan sendiri adalah cara terbaik mempertahankan zona nyaman psikologis pemain. Ketika tubuh mereka dipaksa bekerja keras beradaptasi dengan kelembaban tinggi dan cuaca ekstrem di Amerika Serikat, lidah dan pencernaan mereka tidak boleh ikut stres karena makanan asing.

Norway's midfielder #20 Antonio Nusa (C) celebrates scoring the 2-0 goal with his teammates including Norway's defender #26 Julian Ryerson during the friendly match between Norway and Sweden at Ullevaal Stadium, on June 1, 2026 ahead of the 2026 FIFA World Cup football tournament. (Photo by Lise �serud / NTB / AFP) / Norway OUT

”Kami menyiapkan bahan-bahan terbaik dari Norwegia. Bisa menyajikan nutrisi di momen yang sangat krusial seperti (Piala Dunia) ini adalah sesuatu yang kami banggakan,” ujar Espeland kepada media Norwegia, VG.

Espeland juga tidak menampik bahwa secara logistik, rencana ini sempat membuat dahi para pengurus federasi berkerut karena tidak mudah terbang menuju Amerika Serikat dengan membawa setengah ton ikan di bagasi.

Namun, demi target melangkah jauh di Amerika Utara, rintangan itu mampu diatasi. Alhasil, skuad ”Lovene” bisa tetap makan masakan rumah meski berada di benua berbeda.

Shalat berjemaah

Di wilayah New Jersey, kisah yang tidak kalah menyentuh datang dari juara Afrika, Senegal.

Di bawah asuhan Pelatih Pape Thiaw, Senegal datang ke AS dengan membawa satu identitas yang tidak bisa ditawar oleh keadaan apa pun, yaitu ketaatan spiritual. Sejak Piala Afrika 2025, Thiaw mewajibkan anak asuhnya menjalani shalat berjemaah dalam shalat wajib lima waktu serta shalat Jumat.

Mereka sudah menjalani shalat Jumat berjemaah di New Jersey, 12 Juni lalu. Menggunakan bus, skuad ”Singa Teranga” memadati masjid kecil milik komunitas Muslim lokal.

Bagi Senegal, shalat berjemaah bukan sekadar menunaikan kewajiban sebagai Muslim. Kebiasaan itu adalah tiang utama untuk melestarikan kerekatan emosional setiap pemain.

Pemain timnas Senegal berpose sebelum pertandingan persahabatan melawan Arab Saudi di Stadion Toyota Field, San Antonio, Texas, AS, Selasa (9/6/2026).

Kalidou Koulibaly, bek tengah dan kapten tim, menyebut ritual spiritual itu menjadi fondasi yang mengikat ego setiap pemain menjadi satu kesatuan yang kokoh di atas lapangan.

”Iman dan solidaritas kami adalah hal yang membuat kami kuat,” kata Koulibaly yang membela tim Arab Saudi, Al Hilal.

Dari gelang emosional milik Portugal, kargo logistik makanan raksasa khas Norwegia, hingga ketaatan ibadah tim Senegal merupakan wajah manusiawi dari sepak bola.

Tak diragukan lagi, aspek psikologis, nutrisi, dan spiritual memiliki peran penting untuk mendorong performa terbaik secara individu pemain dan kolektif tim demi mengukir historis monumental di Piala Dunia 2026. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan