KRISIS IKLIM

Bumi Terasa Panas? Lima Tahun ke Depan Bakal Mencapai Rekor

Panas ekstrem bakal berlanjut. El Niño yang melanda tahun ini bakal menjadikan 2027 menjadi tahun rekor panas berikutnya.

30 Mei 2026 08:01 WIB · Lingkungan

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Oleh Ahmad Arif

Pekan ini, negara-negara Eropa mengalami panas ekstrem yang memecahkan rekor. Italia mengeluarkan peringatan merah untuk Roma, sementara Perancis dan Portugal mencatat suhu tertinggi untuk bulan Mei. Diperkirakan suhu rata-rata global periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat celsius di atas tingkat era Pra-Industri (1850-1900).

Fenomena kubah panas (heat dome) dari Afrika Utara memerangkap udara panas di atas Eropa Barat, mendorong suhu lebih mirip pertengahan musim panas daripada akhir musim semi.

Di Inggris, suhu lebih dari 35 derajat celsius, mejadikannya rekor baru untuk bulan Mei. Perancis mengalami suhu hingga 39 derajat celsius di sejumlah wilayah. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal di Perancis terkait gelombang panas, sebagian karena tenggelam saat mencoba mencari kesejukan di pantai dan sungai.

Kepala Urusan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Simon Stiell mengatakan, penyebab utama gelombang panas yang tiba lebih awal di Eropa tahun ini adalah pembakaran batubara serta minyak dan gas oleh manusia.

”Ilmu pengetahuan jelas menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia membuat gelombang panas ini lebih sering dan ekstrem,” kata Stiell dalam sebuah pernyataan pada Rabu (27/5/2026).

Ia juga mencatat, kondisi ekstrem kini melanda India sehingga memicu kebakaran hutan di sejumlah lokasi. Kematian akibat serangan panas juga berjatuhan seiring suhu yang mencapai rekor. Platform pemantauan kualitas udara internasional AQI mencatat bahwa 45 kota terpanas di dunia semuanya berada di India pada siang hari, Rabu lalu, dan semuanya di atas 43 derajat celsius.

Rekor panas

Panas ekstrem yang melanda kali ini diprediksi bakal berlanjut di tahun-tahun mendatang. World Meteorological Organization (WMO) pada Kamis (28/5/2026) merilis peringatan baru bahwa dunia kemungkinan besar akan kembali mencetak rekor suhu global dalam lima tahun ke depan.

Dalam laporan yang disusun bersama Met Office, WMO memperkirakan suhu rata-rata global periode 2026-2030 akan berada 1,3 hingga 1,9 derajat celsius di atas tingkat era Pra-Industri (1850-1900).

Peluang munculnya tahun terpanas baru sebelum 2030 mencapai 86 persen. Bahkan, kemungkinan bahwa suhu global sementara melampaui ambang 1,5 derajat celsius mencapai 91 persen. ”Prediksi menunjukkan kecenderungan El Niño pada akhir 2026, yang meningkatkan kemungkinan 2027 menjadi tahun rekor panas berikutnya,” kata penulis utama laporan, Leon Hermanson.

Melebihi angka 1,5 derajat berarti kemungkinan besar akan meningkatkan risiko kematian, bahaya, dan hilangnya spesies. Meskipun hanya beberapa persepuluh derajat, beberapa ekosistem planet ini, seperti terumbu karang dan gletser, tidak akan dapat menahan tekanan tersebut.

Analisis terbaru menunjukkan, suhu Bumi diprediksi terus memanas dan El Nino yang melanda tahun ini bakal memicu rekor panas pada tahun 2027.

Laporan WMO juga menunjukkan kawasan Arktik memanas lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Suhu musim dingin di Arktik dalam lima tahun ke depan diperkirakan mencapai 2,8 derajat celsius di atas rata-rata 1991-2020. Es laut terus menyusut di Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk.

Apa yang terjadi di kutub mungkin terasa jauh dari Indonesia. Namun, perubahan itu memengaruhi seluruh sistem iklim dunia karena mengubah pola hujan, mempercepat kenaikan muka laut, memperbesar peluang cuaca ekstrem, termasuk memperkuat intensitas dan frekuensi El Niño.

Fenomena El Niño menjadi perhatian besar karena biasanya memperparah panas global dan mengacaukan pola hujan di banyak negara. Dan, bagi Indonesia, ancaman itu terasa sangat dekat.

Diperparah El Niño

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, laporan terbaru WMO ini sejalan dengan laporan sebelumnya, yaitu State of the Global Climate. Namun, laporan WMO kali ini menekankan peran El Niño pada lonjakan suhu global tersebut.

Warga menggunakan payung untuk melindungi diri dari cuaca panas terik saat berjalan di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (27/4/2026). Cuaca panas terik saat siang hari dirasakan warga Jakarta beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu mengingatkan potensi kemarau panjang sejak April 2026 hingga Oktober 2026. Potensi kemarau panjang ini tak lepas dari ancaman gelombang El Nino ekstrim atau disebut dengan istilah El Nino Godzilla yang melanda pada rentang waktu tersebut.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
27-4-2026

Laporan tahunan sebelumnya menyoroti El Niño 2023/2024 sebagai faktor utama lonjakan suhu. Kali ini WMO, konsisten dengan itu, memprediksi El Niño akhir 2026 yang bisa menjadikan 2027 tahun terpanas berikutnya.

Sebagaimana banyak wilayah lain di dunia, Indonesia juga diprediksikan oleh BMKG akan menghadapi dampak langsung dari El Niño berupa kemarau panjang dan lebih kering. Berdasarkan analisis BMKG, tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga di Indonesia dengan suhu rata-rata global mencapai lebih panas 1,44 derajat celsius di atas suhu era Pra-Industri (1850—1900).

”Tiga tahun terakhir, yaitu 2023-2025, merupakan tiga tahun terpanas menurut delapan data suhu udara global,” kata Siswanto.

Rata-rata suhu periode tiga tahun 2023-2025 sebesar 1,48 derajat celsius ± 0,13 derajat celsius di atas era Pra-Industri. Sebelas tahun terakhir (2015-2025) merupakan periode terpanas dalam sejarah pencatatan, menunjukkan tren pemanasan global yang konsisten.

Dalam catatan BMKG, 2025 tercatat sebagai tahun terpanas keenam sepanjang sejarah pengamatan, dengan suhu rata-rata 27,05 derajat celsius dan anomali lebih panas 0,38 derajat celsius terhadap normal 1991-2020. Jika dibandingkan dengan era Pra-Industri (1850-1900), anomali suhu rata-rata di Indonesia adalah 0,95 derajat celsius ± 0,04 derajat celsius, masih lebih rendah dibandingkan dengan anomali suhu global yang mencapai 1,44 derajat celsius ± 0,13 derajat celsius.

Prakiraan anomali suhu wilayah Nino3.4 untuk September 2026 dari 637 simulasi model oleh 13 kelompok pemodelan. Panel atas menunjukkan kepadatan estimasi yang diberi bobot model, di mana setiap model diberi bobot yang sama terlepas dari jumlah anggota ensemble. Panel bawah menunjukkan median dan rentang ensemble untuk setiap model individual. Data diperoleh dari Copernicus C3S, CFSv2 NOAA, CanSIPS, dan NMME.

Suhu muka laut tahun 2025 di Indonesia juga merupakan yang terpanas kelima sepanjang sejarah, dengan rata-rata sebesar 29,3 derajat celsius dan tren kenaikan 0,2 derajat celsius per dekade. Tinggi muka laut berdasarkan data satelit menunjukkan tren naik 4,4 ± 0,4 mm per tahun.

”Mengacu pada Climate Outlook BMKG, El Niño akan menjadi faktor penentu utama dinamika iklim Indonesia 2026,” ucap Siswanto.

Suhu udara dan curah hujan di Indonesia selama tahn ini diproyeksikan mengalami variasi spasial, dengan beberapa wilayah berpotensi lebih kering atau lebih basah dibandingkan normal. ”Perbandingan dengan 2025 menunjukkan adanya pergeseran pola iklim sehingga adaptasi kebijakan perlu disesuaikan,” lanjutnya.

BMKG sebelumnya telah mengingatkan potensi El Niño pada tahun ini yang dapat memicu musim kemarau lebih kering dan panjang di berbagai wilayah. Pengalaman masa lalu menunjukkan bagaimana El Niño dapat mengubah lanskap Indonesia.

Pada 2015, jutaan hektar hutan dan lahan terbakar, asap menyelimuti Sumatera dan Kalimantan selama berbulan-bulan, sekolah ditutup, dan kerugian ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah. Pada 2023, kemarau panjang kembali memicu kekeringan dan kebakaran di banyak daerah.

Quote

Malam hari terasa lebih panas. Ruang terbuka hijau menyusut. Beton dan aspal menyimpan panas lebih lama.

Indonesia memang tidak mengalami gelombang panas dalam definisi meteorologis seperti Eropa atau India. Namun, suhu yang semakin gerah mulai menjadi bagian dari keseharian banyak kota. Malam hari terasa lebih panas. Ruang terbuka hijau menyusut. Beton dan aspal menyimpan panas lebih lama.

Pada saat yang sama, krisis iklim di Indonesia tidak hadir hanya lewat panas ekstrem, tetapi juga melalui cuaca yang semakin sulit diprediksi. Ketika kemarau menjadi lebih panjang, musim hujan justru datang lebih intens dan merusak.

Di pesisir utara Jawa, banjir rob makin sering terjadi akibat kenaikan muka laut dan penurunan tanah. Di banyak daerah pertanian, petani kesulitan menentukan waktu tanam karena pola musim berubah. Nelayan menghadapi cuaca laut yang semakin ekstrem.

Jadi, dampak krisis iklim sebenarnya sedang berlangsung sekarang di sekitar kita. Dan, tahun ini, ketika dunia terus memanas, kita juga akan menghadapi rekor panas baru dan bersiap dengan musim kemarau yang panjang dan kering.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Nasrullah Nara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul