Menonton sepak bola bukan hanya soal hiburan, tetapi menjelema menjadi simbol identitas kebangsaan di tengah laga timnas Indonesia.
11 Jun 2025 06:00 WIB · Olahraga
”Yo, ayo/Ayo Indonesia/kuingin engkau harus menang.” Gemuruh tersebut sudah menjadi lagu wajib dielu-elukan suporter di tiap laga.
Seruan lain lebih seperti, ”Indonesia/Indonesia” disusul dengan tepuk tangan ataupun tabuhan drum berirama lima kali juga menggema berkali-kali.
Tribune stadion menjadi saksi gelora nasionalisme membuncah. Kemenangan timnas Garuda 1-0 atas China (05/06/2025), misalnya, disaksikan puluhan ribu penonton.
Tak kurang dari 80.000 tiket terjual habis hanya dalam dua hari. Antusiasme penonton tersebut dijawab dengan kepastian langkah timnas yang masih berlanjut ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia.
Meski digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, suporter timnas datang dari segala penjuru daerah. Di tengah hiruk pikuk politik ataupun ketidakpastian ekonomi, ruang tribune stadion senantiasa penuh energi dan harapan.
Laga sepak bola timnas selalu menarik tak hanya bagi penggila sepak bola. Mereka yang tidak pernah menonton sepak bola pun berbondong-bondong datang ke stadion untuk menyaksikan laga timnas.
Bahkan, ketika timnas harus bertandang ke Jepang di laga pamungkas putaran ketiga, meskipun akhirnya Indonesia kalah dari Jepang, sekitar 5.000 WNI di Jepang hadir di stadion. Jumlah yang dikonfirmasi oleh KJRI Osaka dan KBRI Jepang tersebut menunjukkan antusiasme penonton yang terjaga tinggi.
Dukungan terhadap timnas Indonesia kini meluas ke ranah digital, tidak hanya di stadion. Tribune digital telah menjadi perpanjangan dari tribune fisik, tempat para penggemar mengekspresikan dukungan, kritik, bahkan tekanan moral kepada federasi.
Sepanjang 3 hingga 10 Juni 2025, sejumlah tagar terkait timnas muncul dalam daftar tren nasional di platform X (Twitter) dan Tiktok. Tagar #DukungTimnas muncul lebih dari 120.000 kali disusul #GarudaFight (87.000)).
Tagar-tagar ini mungkin saja sekadar ungkapan emosi sesaat, tetapi tetap menjadi indikator opini publik terhadap kinerja tim dan kebijakan federasi sepak bola Indonesia.
Salah satu video koreografi dukungan di GBK yang diunggah di Tiktok pun ditonton lebih dari 620.000 kali dan mendapat 50.000 interaksi dalam kurun dua hari.
Video lain, yang memperlihatkan diaspora bernyanyi bersama di Osaka, telah ditonton 210.000 kali dalam waktu 24 jam.
Para pendukung timnas membentuk jaringan kritik dan solidaritas lintas lokasi melalui media sosial. Platform digital ini memungkinkan dukungan yang komprehensif dan terdokumentasi untuk tim nasional secara langsung, sekaligus mengingatkan para pendukung untuk tetap bertanggung jawab.
Fenomena suporter sepak bola Indonesia dalam perjalanan timnas menuju Piala Dunia 2026 menunjukkan bagaimana jati diri bangsa dibentuk tidak hanya oleh lembaga negara, tetapi juga oleh pengalaman emosional kolektif.
Melalui kehadiran fisik di stadion dan partisipasi digital mereka di media sosial, suporter berkontribusi signifikan terhadap rasa kebangsaan yang lebih fleksibel, partisipatif, dan otonom.
Membaca fenomena ini, teori nasionalisme banal Michael Billig dapat digunakan untuk menjelaskan. Menurut dia, nasionalisme sehari-hari sering kali muncul dalam bentuk yang halus, seperti bendera di tribune, lagu kebangsaan, atau atribut tim nasional.
Dalam konteks Indonesia, nasionalisme ini tidak lagi sekadar simbolis, tetapi secara aktif memanifestasikan dirinya melalui tindakan: membeli tiket, mengenakan merah putih, dan bersorak bersama. Ini adalah bentuk dari apa yang disebut Anthony D. Smith sebagai ”komunitas emosional” yang terikat pada simbol-simbol nasional.
Yang menarik, fenomena ini muncul di tengah skeptisme publik yang terus berlanjut terhadap lembaga resmi, seperti PSSI.
Alih-alih melemahkan nasionalisme, kritik terhadap asosiasi tersebut justru memperkuatnya dalam bentuk solidaritas horizontal di antara warga negara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/10/88132c1b-2a24-4b24-8408-f2751003e93f_jpg.jpg)
Pada momen seperti pertandingan melawan China dan Jepang pada bulan Juni 2025, para penggemar menunjukkan bahwa nasionalisme dapat tumbuh dari bawah— melalui solidaritas dalam bersorak, bukan melalui seremonial kenegaraan yang formal dan kaku.
Di tengah munculnya sinisme terhadap institusi-institusi negara, sepak bola menawarkan satu pengecualian: ruang di mana rakyat masih percaya bahwa perjuangan bersama bisa memberi hasil. Menjadi tidak mengherankan apabila suporter tetap datang, meski kecewa. Mereka marah, tapi masih ingin percaya.
Kepercayaan ini tentu makin tinggi di kala timnas Indonesia menunjukkan tren positif yang signifikan dalam ranking FIFA.
Setelah menang 1–0 atas China (5 Juni 2025), Indonesia melesat dari posisi 123 ke-117 dunia, bahkan sempat mencapai peringkat ke-116. Meskipun setelah kalah dari Jepang, akan ada sedikit penurunan, tren kenaikan tetap terjadi.
Tren kenaikan ini memperlihatkan momentum kebangkitan sepak bola nasional: dari peringkat stagnan, kini Indonesia bangkit melalui performa di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan dukungan suporter yang masif. Untuk menuju target yang lebih tinggi.
Negara, baik melalui Kemenpora maupun PSSI, sepatutnya mulai memandang serius antusiasme suporter sepak bola Indonesia.
Tekat yang habis terjual, stadion yang penuh, tagar-tagar yang menyuarakan harapan dan keresahan, menjadi indikator menjadi legitimasi sosial yang nyata.
Pengelolaan yang lebih baik ditambah dialog terus-menerus akan menjadi dasar yang baik untuk kebijakan mendatang terkait persepakbolaan nasional.
Langkah baik ini menjadi upaya konkret negara di tengah upaya timnas menggapai mimpi besar tampil di Piala Dunia 2026. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Vincentius GitiyarkoEditor:
Yohan Wahyu