Keberhasilan Real Madrid dan Atletico Madrid di panggung domestik dan internasional mengangkat kota Madrid menjadi salah satu pusat sepak bola terpenting di Eropa.
21 Mei 2025 14:14 WIB · Olahraga
Inggris boleh saja dikenal sebagai pencipta aturan sepak bola modern. Akan tetapi, Madrid akan selalu dikenang sebagai ibu kota sepak bola. Di kota ini, sepak bola berkelindan dengan napas para penduduknya. Banyak klub sepak bola tumbuh di Madrid.
Lewat iklim sepak bola yang mengalir deras, Spanyol dan Real Madrid berjaya di Eropa dan dunia. Trofi-trofi bergengsi pun secara bergantian menjadi ”penghuni” kota Madrid.
Madrid menjadi rumah bagi dua klub sepak bola besar Eropa, Real Madrid dan Atletico Madrid. Kedua klub LALIGA Spanyol ini berjasa mengangkat nama Madrid ke kancah Eropa.
Hingga saat ini, belum ada satu pun kota lain yang pernah mengirim wakil pada laga final Liga Champions Eropa sesering Madrid. Tim rival sekota itu pernah dua kali bertemu pada final, yaitu pada musim 2013-2014 dan 2015-2016.
Real menjadi pemenang pada dua final tersebut. Kedua laga final itu pun berlangsung menegangkan lantaran pemenang tidak bisa ditentukan lewat waktu normal. Keberhasilan dua kali menjungkalkan Atletico pada final mempermulus jalan ”El Real” sebagai tim pengoleksi gelar Liga Champions terbanyak, yaitu 15 kali.
Belum ada klub lain yang pernah memenangi trofi Liga Champions sebanyak Real. Satu-satunya kota yang mendekati pencapaian Madrid di Liga Champions hanyalah Milan, yaitu lewat AC Milan, yang tujuh kali menjadi juara. Hal ini menyebabkan kota Madrid selalu terlintas dalam ingatan para penggemar sepak bola setiap kali mendengar tentang Liga Champions.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/03/6b402038-2fca-4e5a-a279-aa655a51ab6f_jpg.jpg)
Selain di kancah Eropa, Real juga membawa kota Madrid melambung tinggi berkat pencapaian sebagai klub dengan koleksi gelar LALIGA terbanyak, yaitu 36 kali. Pencapaian itu mulai tersaingi oleh Barcelona yang mewakili wilayah Catalan dengan koleksi 28 gelar juara LALIGA. Barca pada musim ini mengukuhkan diri sebagai pesaing berat Real seusai berhasil mengamankan gelar ke-28 di LALIGA Spanyol.
Meski baru saja mengamankan gelar LALIGA, pencapaian Barcelona tetap saja masih belum dapat menandingi Madrid di Spanyol. Sebab, selain Real, Atletico juga mengukuhkan diri sebagai salah satu klub tersukses di LALIGA.
Atletico tercatat pernah 11 kali juara sekaligus menjadi klub urutan ketiga dengan koleksi trofi LALIGA terbanyak. Bila dijumlahkan, trofi LALIGA sudah pernah ”singgah” 47 kali di Madrid, menghitung kesuksesan Real dan Atletico menjuarai LALIGA.
Inilah Plaza Cibeles, tempat terkenal di mana Real sering merayakan gelar juara.
Sedemikian identiknya kota Madrid dengan sepak bola, secara tidak langsung, telah mendorong UEFA beberapa kali memercayakan perhelatan final Liga Champions di kota tersebut. Dalam sejarahnya, sejak 1955, Madrid telah mendapat kehormatan menjadi tuan rumah final sebanyak lima kali.
”Kota Madrid identik dengan sepak bola. Tanpa para penggemar, sepak bola tidak akan memiliki darah kehidupan. Mereka menciptakan suasana khusus yang memeriahkan setiap acara besar,” ujar Presiden UEFA Aleksander Ceferin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/04/439ca4461f91b234b1d7574b20e236b9-AFP_38YX7XQ.jpg)
Saat mengunjungi Madrid, para wisatawan tidak bisa melewatkan dua tempat ikonik yang menjadi pusat perayaan sepak bola, yaitu Plaza Cibeles dan Air Mancur Neptuno yang terletak di jantung kota. Dua tempat itu menjadi lokasi perayaan juara bagi Real dan Atletico.
Saat Real memenangi trofi, mereka akan merayakannya di Plaza Cibeles. Sebaliknya, Atletico akan mengadakan pawai kemenangan di Air Mancur Neptuno. Dua lokasi itu hanya berjarak sekitar 500 meter.
Saking seringnya Real memenangi trofi Eropa, guratan wajah patung Dewi Cibeles, dewi bumi atau tanah, dalam mitologi Yunani terpatri jelas di ingatan. Perayaan juara Real kerap disiarkan secara langsung di Plaza Cibeles sehingga kita akan dengan mudah mengingat lokasi ikonik tersebut.
Pertama kali mengunjungi Madrid berkat undangan dari LALIGA, saya termasuk awam dengan segala hal di kota ini. Dalam perjalanan dari Bandara Adolfo Suares Barajas di utara Madrid, bangunan di kanan dan kiri terasa begitu asing. Namun tidak dengan Plaza Cibeles. Saya bisa langsung mengenali lokasi itu dengan sekali pandang.
Sopir yang mengantar pun agaknya bisa membaca pikiran saya. Dia memperhatikan wajah saya yang serius mengamati Plaza Cibeles dari dekat. Kebetulan saat itu lalu lintas di bundaran Plaza Cibeles agak padat sehingga mobil berhenti di dekat patung.
”Anda sepertinya tahu lokasi ini. Iya inilah Plaza Cibeles, tempat terkenal di mana Real sering merayakan gelar juara,” kata sang sopir menyadarkan saya dari lamunan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/9bb9d80b0a881626e387b80c112e5bbe-4768195E_DF78_4C5A_A77E_E8EA2AF24B68_55553_0000069E0748C671.JPG)
Di tepi jalan, beberapa wisatawan memotret Patung Dewi Cebeles. Mereka, seperti saya, agaknya tertegun menyaksikan keindahan tata kota serta kemegahan Patung Dewi Cibeles di tengah keramaian lalu lintas. Atau mereka mungkin sekadar ingin merasakan betapa meriahnya suasana di sana ketika Real merayakan gelar.
Selain Plaza Cibeles, lokasi lain yang menjadi favorit wisatawan di Madrid sudah tentu kandang Real, Stadion Santiago Bernabeu, dan markas Atletico, Stadion Metropolitano. Di dua stadion itu, pengunjung bisa menikmati kemegahan serta paket tur stadion.
Santiago Bernabeu dan Metropolitano sudah seperti kuil sepak bola Madrid, tempat para ”peziarah” melakukan ritual, mengagumi dua klub yang berjasa mengangkat nama Madrid di kancah dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Madrid, SpanyolEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari