Perdagangan global sedikit tenang setelah AS-Uni Eropa mencapai kesepakatan. Apabila AS-China tak kunjung sepakat, rantai pasok global bisa menghadapi gejolak baru.
28 Jul 2025 16:15 WIB · Internasional
STOCKHOLM, SENIN — Amerika Serikat dan China melanjutkan perundingan kesepakatan dagang di Stockholm, Swedia, Senin (28/7/2025). Kedua negara berencana memperpanjang gencatan perang tarif.
Pada Mei 2025, AS-China sepakat untuk gencatan perang tarif. Bea masuk impor (BMI) atau tarif AS terhadap China turun dari 145 persen menjadi 30 persen, sedangkan tarif China atas AS berkurang dari 125 persen menjadi 10 persen. Tenggat tarif sementara itu adalah 12 Agustus 2025.
Dengan perundingan itu, ada peluang Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu. Sejumlah pihak di AS-China menyebut, pertemuan bisa jadi sebelum atau sesudah Konferensi Tingkat Tinggi APEC di Korea Selatan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng akan bertemu di Stockholm. Pertemuan mereka menandai pembicaraan putaran ketiga di antara kedua pihak setelah di Swiss dan Inggris.
”Kesepakatan dengan China sudah sangat dekat. Kita benar-benar telah mencapai semacam kesepakatan dengan China. Akan tetapi, kita lihat saja nanti,” tutur Trump sebelum bertemu Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Skotlandia, Minggu (27/7/2025).
Pembicaraan Bessent dan He Lifeng kali ini bakal mencakup pemaparan pandangan masing-masing tentang poin-poin perdebatan. AS khawatir mengenai ekspor barang murah dan aliran fentanil dari China, sedangkan China mengeluhkan kontrol ekspor AS yang bertujuan menghambat pertumbuhan ekonominya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/28/83849f83-51bb-4d9a-b5b4-96b145057250_jpg.jpg)
Bessent telah mengisyaratkan perpanjangan tenggat di antara kedua negara. Dia ingin agar China menyeimbangkan kembali perekonomian sehingga tidak lagi hanya mengandalkan ekspor, tetapi juga konsumsi domestik.
Sejauh ini belum ada terobosan berarti mengenai pembicaraan AS-China. Sejak mengumumkan tarif ke banyak negara, AS baru mencapai kesepakatan bilateral dengan Inggris, Vietnam, Indonesia, Filipina, dan Jepang. Pada Minggu, AS dan Uni Eropa akhirnya setuju dengan tarif 15 persen.
Tanpa kesepakatan AS-China, rantai pasok global bisa menghadapi gejolak baru sebab tarif AS akan melejit lagi ke level tiga digit. Angka itu setara dengan embargo perdagangan bilateral.
”Pembicaraan di Geneva dan London memulihkan hubungan kedua negara agar dapat bernegosiasi. Saya akan terkejut jika ada hasil awal dari pembicaraan-pembicaraan itu, tetapi perpanjangan gencatan selama 90 hari adalah hasil yang paling mungkin,” tutur Scott Kennedy, pakar ekonomi China Center for Strategic and International Studies di Washington.
Menurut South China Morning Post (SCMP), Minggu, seorang sumber anonim mengatakan, Beijing dan Washington bakal memperpanjang gencatan tarif mereka selama tiga bulan. Selama itu, kedua negara berkomitmen untuk tidak mengenakan tarif tambahan atau memicu perang dagang.
Kabar kemungkinan perpanjangan gencatan tarif bisa memperkuat peluang pertemuan antara Trump dan Xi. Pada 20 Juli 2025, SCMP mengabarkan spekulasi bahwa kedua pemimpin akan bertemu antara 30 Oktober 2025 dan 1 November 2025.
Trump bisa saja mengunjungi China sebelum menghadiri pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2025 di Korea Selatan. Opsi lainnya, keduanya akan bertemu di sela-sela acara APEC.
Trump akan segera memutuskan tentang perjalanan ke China. Baru-baru ini, ia berkata China tidaklah jauh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/05/13/4e04baef-433f-40e8-b631-5f0d1df6c847_jpg.jpg)
Sun Chenghao, peneliti di Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua di Beijing, mengatakan, pertemuan puncak Trump-Xi dapat menjadi kesempatan AS untuk menurunkan tarif 20 persen atas China karena fentanil. Sebagai imbalan, China bisa memenuhi janji tahun 2020 untuk meningkatkan pembelian produk pertanian dan produk AS lainnya.
”Prospek pertemuan puncak para kepala negara di masa mendatang sangat bermanfaat bagi negosiasi. Sebab, semua pihak ingin mencapai kesepakatan atau membuka jalan menuju kesepakatan,” ujar Sun.
Pada 2024, AS mencatat defisit neraca perdagangan dengan China sebesar 295,5 miliar dollar AS. Defisit AS mulai menurun beberapa tahun terakhir. Sebagai perbandingan, AS mencatat defisit 418 miliar dollar AS pada 2018.
Apabila Trump menerapkan tarif serta kontrol ekspor yang baru, rencana pertemuan kedua kepala negara bisa buyar. Lebih-lebih, pemerintahan Trump tampaknya siap memberlakukan tarif baru kepada China dalam beberapa minggu, termasuk pada semikonduktor, farmasi, derek kapal-ke-pantai, dan produk lainnya.
AS akhirnya berhasil mencapai kesepakatan dengan UE terkait tarif. Kedua pihak sepakat atas tarif AS sebesar 15 persen untuk produk-produk ekspor UE, termasuk otomotif.
Pengumuman ini muncul setelah Ursula von der Leyen bertemu Trump selama satu jam di lapangan golfnya di Skotlandia bagian barat, Minggu. Kesepakatan keduanya bisa mencegah pertikaian di antara dua pihak yang menguasai hampir sepertiga perdagangan global.
”Saya pikir ini adalah kesepakatan terbesar yang pernah dibuat,” ujar Trump.
Von der Leyen menambahkan, kesepakatan itu akan membawa stabilitas dan prediktabilitas. Sebagai ganti tarif yang lebih rendah, UE akan berinvestasi di AS senilai 600 miliar dollar AS serta membeli peralatan energi dan militer AS senilai 750 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/28/58a65128-f43e-40c3-b0f0-09b8fb6be98d_jpg.jpg)
Namun, hasil itu tidak sepenuhnya mendapat sambutan hangat. Ambisi awal UE adalah mencapai kesepakatan tarif nol persen, turun drastis dari ancaman Trump sebesar 30 persen.
Menteri Perancis untuk Urusan Eropa Benjamin Haddad, mengatakan, kerangka perjanjian perdagangan AS-UE memiliki beberapa manfaat. Salah satunya, pengecualian untuk beberapa sektor utama Perancis, misalnya minuman alkohol.
”Perjanjian perdagangan yang dinegosiasikan oleh Komisi Eropa dengan AS akan membawa stabilitas sementara bagi para pelaku ekonomi yang terancam oleh eskalasi tarif Amerika, tetapi perjanjian tersebut tidak seimbang,” tulis Haddad di pelantar X. (AP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji