Jika berhasil, gencatan senjata akan diawali dengan penghentian pertempuran di Jalur Gaza. Gencatan senjata ini dapat menurunkan ketegangan di Timur Tengah.
15 Jan 2025 09:44 WIB · Internasional
KAIRO, RABU — Gencatan senjata Israel-Hamas segera disepakati sesudah perundingan maraton di Qatar. Mesir menyatakan, kesepakatan akan dicapai dalam beberapa jam ke depan.
Setelah pertemuan selama delapan jam di Doha, Qatar, pada Rabu (15/1/2025) tercatat hasil positif yang membahas rincian gencatan senjata di Jalur Gaza dan diikuti pembebasan para sandera. Namun, pada saat yang sama Israel masih terus melancarkan serangan ke Jalur Gaza yang mengakibatkan 35 orang tewas, termasuk ibu hamil dan anak balita.
Sudah lebih dari 46.000 warga Gaza tewas, didominasi perempuan dan anak-anak sejak Israel membalas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas ke Israel mengakibatkan hampir 1.200 orang tewas, sebagian akibat salah sasaran serangan balik Israel.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari menjelaskan dalam jumpa pers, kedua belah pihak (Hamas dan Israel) sudah menerima rincian gencatan senjata dan pembahasan sedang berlangsung.
Seorang pejabat senior Hamas kepada Reuters, Selasa (14/1/2025) malam, mengatakan, mereka belum memberikan tanggapan karena menunggu penjelasan terkait dengan penarikan mundur pasukan Israel dari Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/14/9a4e3a1fb29cfcdceff18662948d5ff0-000_36TH2PE.jpg)
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Joe Biden yang akan mengakhiri masa jabatan menyatakan, kesepakatan gencatan senjata segera dicapai antara Israel dan Hamas. Selama ini, Pemerintah AS mendukung Israel dengan pasokan senjata dan berbagai dukungan politik.
Biden dalam komunikasi melalui telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi membahas perundingan gencatan senjata Israel-Hamas, Selasa (14/1/2025).
”Para pemimpin dua negara berkomitmen berkoordinasi langsung di antara tim mereka dalam beberapa jam mendatang. Mereka menekankan pentingnya melakukan gencatan senjata,” kata juru bicara Gedung Putih seusai percakapan Biden-Sisi.
Kita sudah dekat (mencapai kesepakatan), tetapi belum sampai pada kesepakatan akhir.
Hamas mengatakan, perundingan kali ini sudah mencapai tahap akhir dan diharapkan tercapai kesepakatan. Sementara seorang pejabat Israel yang terlibat dalam perundingan mengatakan, negosiasi memasuki fase kritis. ”Kita sudah dekat (mencapai kesepakatan), tetapi belum sampai pada kesepakatan akhir,” katanya.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar yang mengunjungi Roma, Italia, Selasa (14/1/2025), meyakini sebagian besar koalisi pemerintahan Israel mendukung gencatan senjata Gaza meskipun ditentang sekelompok ekstrem kanan anggota koalisi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/12/386ee5775f4ec75445aa9a5e04dfa8e8-000_36LU64C.jpg)
Kelompok Jihad Islam yang terpisah dari Hamas dan juga memegang sejumlah sandera di Gaza mengatakan telah mengirim utusan ke Doha, Qatar, pada Selasa (14/1/2025) untuk terlibat dalam rancangan akhir gencatan senjata.
Jika berhasil mencapai kesepakatan, gencatan senjata diawali dengan menghentikan pertempuran di Jalur Gaza. Israel juga akan menerima pembebasan sekitar 100 sandera tersisa dan jenazah sandera yang meninggal.
Gencatan senjata di Jalur Gaza dapat menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Selain di Gaza, dalam beberapa waktu belakangan terjadi rangkaian konflik dan perang di kawasan, mencakup daerah pendudukan Israel di Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yaman, dan Irak. Ada pula kekhawatiran perang terbuka Israel-Iran.
Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken dalam pidato di Washington DC membawa wacana pemerintahan Palestina pascaperang. Menurut dia, keputusan akhir ada di tangan Hamas.
Gencatan senjata pada tahap pertama akan dimulai dengan pembebasan sandera perempuan dan anak-anak yang berada di tangan Hamas dan kelompok lainnya di Jalur Gaza.
”Pembebasan sandera, penghentian perang, penyediaan keamanan bagi Israel, dan pemberian bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang menderita akibat perang yang dimulai Hamas,” kata Biden.
Keluarga para sandera di Israel kini berharap cemas atas perkembangan perundingan Israel-Hamas. ”Ini kesempatan terakhir kita membebaskan para sandera,” kata Hadas Calderon, yang suaminya, Ofer, serta dua anaknya, Sahar dan Erez, disandera Hamas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/05/17/TOPSHOT-ISRAEL-PALESTINIAN-ANNEXATION-PROTEST_89262579_1589689992.jpg)
Seorang pejabat Israel mengatakan, pada tahap pertama, sebanyak 33 orang sandera perempuan dan anak-anak akan dibebaskan, termasuk lima prajurit perempuan dan pria berusia di atas 50 tahun. Di antara mereka termasuk sandera yang sakit dan terluka. Mereka akan ditukar 50 tahanan Palestina dari penjara Israel, termasuk 30 pejuang Palestina yang dijatuhi penjara seumur hidup.
Israel meyakini, 33 sandera tersebut masih hidup dan berjanji akan menarik mundur pasukan secara bertahap.
Dalam tahap pertama yang berlangsung 42 hari, Israel akan menarik mundur pasukan militer (Tzahal). Warga Palestina diizinkan kembali ke sisa-sisa permukiman mereka di utara Jalur Gaza. Bersamaan dengan proses itu, truk bantuan kemanusiaan sebanyak 600 truk tiap hari diizinkan masuk ke Jalur Gaza.
Rancangan tahap kedua gencatan senjata akan dibahas seiring pelaksanaan tahap pertama gencatan senjata. Rincian gencatan senjata tahap kedua berlangsung alot karena tidak ada jaminan gencatan senjata dilanjutkan hingga kesepakatan tercapai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/14/7bf150a3a37b17b149d3954ca68893a8-000_36TM9XE.jpg)
Hal itu berarti Israel bisa kembali menyerang Gaza setelah gencatan tahap pertama berakhir. Para perunding dari Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat memberikan jaminan verbal kepada Hamas bahwa perundingan akan berlanjut untuk mencapai gencatan senjata tahap kedua dan tahap ketiga sebelum berakhir pelaksanaan gencatan senjata tahap 1.
Dalam gencatan senjata tahap 1, Israel akan menguasai Koridor Philadelhi yakni garis perbatasan Gaza-Mesir. Semula Hamas menuntut Israel mundur dari posisi strategis itu. Israel akan mundur dari koridor Netzarim, yakni garis pertahanan di pusat Gaza, untuk memudahkan pengawasan senjata di Jalur Gaza jika warga Palestina kembali ke wilayah utara.
Dalam rancangan gencatan senjata tahap 2, Hamas akan membebaskan sandera tersisa, termasuk para prajurit pria Tzahal untuk ditukar tahanan Palestina dari Israel dan penarikan seluruh serdadu Tzahal dari Gaza.
Hamas menegaskan tidak akan membebaskan sisa sandera tanpa penghentian tuntas serangan Israel dan penarikan mundur Tzahal dari Gaza.
Dalam tahap 3 gencatan senjata, sisa jenazah sandera akan dipulangkan dengan kompensasi pembangunan kembali Gaza dalam tiga hingga lima tahun di bawah pengawasan internasional.
Sejauh ini Hamas menolak kesepakatan yang tidak diikuti penghentian serangan Israel secara permanen. Di pihak lain, Israel bersikeras meneruskan perang hingga Hamas berhasil dihabisi. (Reuters/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik W