Untuk pertama kalinya dalam 15 bulan, warga Gaza bangun pagi dengan segar karena bisa tidur nyenyak. Mereka semakin lega karena bantuan kemanusiaan terus mengalir.
21 Jan 2025 12:23 WIB · Internasional
Ammar Barbakh bangun tidur pada Senin (20/1/2025) dengan perasaan segar. Ia masih tidur di tenda, tetapi sudah tidak ada lagi serangan dari pasukan militer Israel.
”Ini pertama kalinya saya tidur dengan nyenyak dan tidak merasa takut. Kami tidak mendengar tembakan apa pun,” kata Barbakh (35).
Hari Senin itu adalah hari pertama setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza efektif berlaku. Untuk tahap pertama, disepakati gencatan senjata selama 42 hari dengan pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina.
Barbakh tinggal di Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan. Ia mendirikan tenda di atas reruntuhan rumahnya. Meski kerusakan rumah itu sangat parah, dia bersyukur bisa tidur dengan tenang. “Ini perasaan yang indah. Saya harap gencatan senjata berlanjut,” ujarnya.
Ribuan warga Palestina seperti Barbakh telah menuju kembali ke rumah mereka masing-masing di berbagai wulayah di Gaza. Samer Daloul juga menghabiskan malam dengan damai sejak jeda pertempuran pada November 2023 yang hanya berlangsung sepekan. ”Suara jet tempur dan drone masih terdengar sepanjang malam, tetapi serangan berhenti,” katanya.
Kedamaian baru itu memberi dia kesempatan merenung tentang kehilangan besar yang harus dialaminya sepanjang perang. Ia kehilangan 32 anggota keluarga dan kerabat akibat serangan militer Israel. ”Saya senang sekaligus sedih,” ujar Daloul.
Daloul mengungsi di sebuah gedung sekolah bersama 12 anggota keluarganya, lima di antaranya anak-anak. Pengungsi lain membuat hunian sementara atau mendirikan tenda dengan material apa pun yang bisa mereka temukan.
Suara jet tempur dan drone masih terdengar sepanjang malam, tetapi serangan berhenti.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, hampir seluruh penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta orang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi. Sebagian besar kini sudah kembali. Namun, mereka hanya menemukan kehancuran luar biasa pada bangunan tempat tinggal mereka.
Pada Senin di Gaza tengah, para pejalan kaki dan pengemudi bergerak leluasa di sepanjang jalan tepi Laut Mediterania. Di berbagai tempat, tampak warga mengais sisa-sisa barang milik mereka yang masih bisa digunakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/b1c0c956ab1e9e08c79b00e68b36d773-000_36UN8GW.jpg)
Di perkampungan Al Jenina di Kota Rafah yang berada di perbatasan dengan Mesir, Nawal Zanoun terenyak melihat sisa rumah tinggalnya. ”Ini bekas rumah saya dan keluarga. Kami punya kenangan indah di sini. Sekarang hanya reruntuhan seperti juga rumah tetangga kami,” kata Zanoun seperti dilaporkan BBC.
Salah seorang jirannya, Haitham Abu Ubaid, mendapati rumahnya sudah rata dengan tanah. Menurut dia, tenda darurat yang ditempatinya di kamp pengungsi Al Mawasi jauh lebih layak daripada harus membangun hunian darurat di bekas rumahnya.
”Tidak ada yang tersisa, hanya puing-puing. Bagaimana kami mau hidup. Rafah betul-betul dihancurkan Israel,” kata Ubaid.
Kejadian serupa dialami nyaris seluruh keluarga di Gaza. Menurut data satelit PBB UNOSAT, sekurangnya 60 persen bangunan di Gaza hancur rata dengan tanah.
Noha Abed (28) kembali bersama suami dan tiga anaknya ke rumah mereka di Rafah, sebelah selatan Jalur Gaza. Rumah itu hanya tersisa satu ruangan. ”Rumah kami dulu indah, dengan tiga ruangan. Kami kehilangan segalanya,” tuturnya.
Meski demikian, mereka berupaya membersihkan, menata kembali benda-benda yang tertinggal, dan akan tinggal di ruangan itu sampai rumah bisa dibangun kembali. Setelah itu mereka fokus mengamankan pasokan makanan, air, listrik, dan selimut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/20/f9b0bccbb2c992c09650862368a23768-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_CEASEFIRE_PRISONERS_126873150.jpg)
Abed dan warga Gaza lainnya boleh berlega hati soal pasokan kebutuhan hidup. Bantuan kemanusiaan mulai masuk sepanjang Senin. PBB melaporkan, lebih dari 900 truk mengangkut bantuan kemanusiaan ke Faza. Jumlahnya melampaui target harian sebanyak 600 truk.
Sepanjang perang Hamas-Israel, militer Israel membatasi dengan ketat bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Hal ini menyebabkan krisis kemanusiaan yang harus dialami para pengungsi.
”Bantuan kemanusiaan terus dikirim ke Jalur Gaza untuk membantu para penyintas. Hari ini ada 915 truk masuk ke Jalur Gaza berdasar informasi dari otoritas Israel dan para penjamin gencatan senjata,” kata Kantor Koordinasi PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Direktur OCHA Tom Fletcher di Rafah mengatakan, gelombang pertama bantuan sebanyak 630 truk memasuki Gaza dari Rafah. Sebanyak 300 truk lainnya menuju utara Gaza.
Deretan truk pengangkut bantuan terlihat antre di Mesir menuju Rafah, Jalur Gaza. Sebagian dari pengemudi truk sudah berbulan-bulan berada di sana untuk menunggu giliran mengirim masuk bantuan ke Gaza yang selama ini ditutup Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/19/196bd96b1e00b4b0d074fb2bf515035a-TOPSHOT_EGYPT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_126831043.jpg)
Ada dua jalur pelintasan perbatasan ke Gaza di selatan di Rafah yang berbatasan dengan El Arish di Mesir dan di tenggara di Kerem Shalom wilayah Israel. Perbatasan di utara di dekat Beit Hanoun dan Beit Lahia di Gaza utara belum dibuka oleh Israel.
Sejumlah truk yang kembali dari Gaza dan para pengemudi membunyikan klakson menyatakan kegembiraan mereka telah menyelesaikan misi kemanusiaan.”Sudah beberapa bulan kami makan dan tidur di dekat truk untuk menanti kesempatan bisa masuk ke Gaza,” kata Essam Desouky, pengemudi truk dari Kota Al Mahalla Al-Kubra di Delta Sungai Nil.
Mohammed Aboul Maati, sopir truk dari Ismailia, di Semenanjung Sinai merasa gembira karena akhirnya bisa menyelesaikan tugas mengirim bantuan ke Gaza. Sebagian dari para sopir truk itu tertahan selama tiga bulan di perbatasan Rafah.
Dari Qatar dikabarkan, 12,5 juta liter bahan bakar akan dikirim ke Gaza dalam 10 hari pertama gencatan senjata.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari