Institute for the Study of War (ISW) menilai, Putin memanfaatkan gencatan senjata sepihak untuk mencapai keuntungan informasi dan medan perang di Ukraina.
29 Apr 2025 14:14 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, SELASA - Dalam sebulan, Rusia memberlakukan dua gencatan senjata pendek dengan alasan kemanusiaan. Motif Kremlin mengundang pertanyaan. Gencatan senjata ini terjadi setelah Amerika Serikat memperingatkan keseriusan Ukraina dan Rusia dalam mencapai kesepakatan damai.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan gencatan senjata sepihak selama 72 jam di Ukraina, Senin (28/4/2025). Gencatan senjata berlaku selama 8-10 Mei 2025 untuk memperingati 80 tahun Hari Kemenangan pada Perang Dunia II. Kremlin mendesak Kyiv melakukan hal yang sama.
Gencatan senjata tersebut merupakan gencatan senjata kedua selama April tahun ini. Sebelumnya, Putin mengumumkan gencatan senjata unilateral selama 30 jam untuk memperingati Hari Paskah pada 20 April 2025. Gencatan senjata pertama ini ramai dengan saling tuding pelanggaran dari Ukraina dan Rusia.
Namun, gencatan senjata terbaru keluar menyusul kecaman Presiden AS Donald Trump atas berbagai serangan mematikan Rusia di tengah negosiasi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengisyaratkan, pekan ini krusial untuk menentukan kelanjutan peran AS sebagai mediator.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/2f26e068-883f-4bb5-9b74-a5b366704e3a_jpg.jpg)
Institute for the Study of War (ISW), lembaga kajian di Washington DC, menyebutkan, gencatan senjata sepihak itu terjadi sementara Rusia terus menolak proposal gencatan senjata selama 30 hari. Putin terus menolak kecuali dengan syarat yang menguntungkan upaya perangnya.
“Putin memanfaatkan gencatan senjata sepihak untuk mencapai keuntungan informasi dan medan perang di Ukraina, bertentangan dengan tujuan Presiden AS Donald Trump untuk menggunakan gencatan senjata sebagai batu loncatan menuju perjanjian perdamaian yang langgeng dan berkelanjutan di Ukraina,” tulis ISW di laman resminya, Senin (28/4/2025).
ISW turut menyoroti, gencatan senjata Putin tidak mencakup mekanisme pengawasan tambahan. Celah itu dapat memberi Moskwa kesempatan membuat klaim tidak berdasar bahwa Ukraina melanggar gencatan senjata. Di sisi lain, pasukan Rusia jadi mempunyai waktu istirahat sebelum lanjut menyerang.
Melalui unggahan di pelantar X, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, Ukraina telah menyetujui proposal AS untuk gencatan senjata permanen. Akan tetapi, Rusia secara konsisten menolak dan lanjut memanipulasi dunia, termasuk AS.
“Kini, sekali lagi, terjadi upaya manipulasi lain: karena suatu alasan semua orang diharapkan menunggu hingga 8 Mei sebelum menghentikan tembakan — hanya untuk memberi Putin keheningan selama paradenya,” ujar Zelenskyy.
Zelenskyy melanjutkan, gencatan senjata tidak perlu sampai menunggu sampai tanggal 8 Mei 2025. Gencatan senjata seharusnya langsung, permanen, dan tanpa syarat. Dengan demikian, ada fondasi untuk diplomasi.
Warga Ukraina juga mencemooh langkah Putin. “Deklarasi itu upaya lain untuk membuat Amerika tetap terlibat, untuk memberi Trump harapan bahwa beberapa jenis negosiasi mungkin dilakukan,” tutur mahasiswa Oleksandra Serpilova.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/29/dbc0ae17-b269-4708-a391-396e50fa8c64_jpg.jpg)
Progres kesepakatan damai Ukraina-Rusia belum jelas. Kesepakatan kedua negara terbentur salah satunya soal Crimea. Wilayah ini dicaplok Rusia pada 2014. Ukraina menolak penyerahan Crimea sebagai konsesi teritorial.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt, Senin (28/4/2025), mencatat gencatan senjata sepihak Rusia. Meski Trump merasa frustrasi dengan para pemimpin Rusia dan Ukraina, menurut Leavitt, dia tetap menginginkan gencatan senjata permanen.
“Presiden telah mengatakan dengan jelas bahwa ia ingin melihat gencatan senjata permanen terlebih dahulu untuk menghentikan pembunuhan, menghentikan pertumpahan darah,” tutur Leavitt.
Jurnalis BBC, Steve Rosenberg, menilai, gencatan senjata Rusia merupakan upaya untuk menunjukkan Moskwa mempunyai niat baik. Namun, komentar-komentar terkini dari Trump dan Gedung Putih mengindikasikan ketidakpercayaan Washington. Trump mulai tidak sabar dengan Putin, walau sebelumnya lebih sering menyerang Zelenskyy.
Pada Senin (28/4/2025), Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan, negara sekutu akan meningkatkan tekanan pada Rusia selama 8-10 hari ke depan. Pernyataan itu keluar dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di Paris Match.
“Lima belas hari berikut akan sangat penting dalam upaya menerapkan gencatan senjata,” kata Macron seraya menambahkan, ia telah meyakinkan AS tentang kemungkinan eskalasi ancaman dan sanksi terhadap Moskwa.
Macron, Trump, dan Zelenskyy bertemu di sela-sela pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). Seorang pejabat diplomatik Perancis menyebutkan, ketiganya sepakat melanjutkan kerja sama dalam beberapa hari mendatang guna mewujudkan gencatan senjata yang solid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/26/5c5ce50f46e985bb0a77ac835486a523-Trump_Vatican_Pope.jpg)
Menurut Macron, tujuannya adalah agar Washington dapat pergi ke Kyiv dengan cepat dan menetapkan syarat untuk gencatan senjata. “Dan agar kami dapat bekerja secara mendalam pada langkah-langkah untuk mendukung gencatan senjata,” tuturnya.
Macron tidak menyebut delegasi AS mana yang dapat mengunjungi Kyiv. Namun, sekutu, bersama AS, harus siap memperketat sikap terhadap Rusia untuk mengamankan gencatan senjata.
“Saya yakin bahwa kami telah berhasil, berkat pertemuan di Vatikan, dalam memberikan tekanan balik kepada Rusia. Itulah tujuan yang diinginkan, karena tidak adil jika tekanan hanya diberikan kepada Ukraina,” ucap Macron. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji