Trump mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Adapun Iran menegaskan tidak menerima negosiasi di bawah ancaman.
21 Apr 2026 13:58 WIB · Internasional
AFP/US CENTRAL COMMAND
TEHERAN, SELASA — Gencatan senjata Amerika Serikat dan Iran tinggal menyisakan satu hari. Di tengah perundingan putaran kedua yang belum menemui titik terang, kedua negara mengisyaratkan siap melanjutkan perang.
Negosiasi lanjutan yang dimediasi Pakistan terancam batal karena Iran belum memastikan akan menghadirinya. Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata dengan memblokade kapal dan pelabuhan Iran. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan memperpanjang gencatan senjata kecuali perundingan mencapai kesepakatan.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, dengan memberlakukan blokade, Trump ingin mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan diri bagi Iran. Ia menganggap hal itu sama saja dengan melanjutkan permusuhan yang memperpanjang konflik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/a3c73af484bc8252a12c62d67028b938-Iran_War.jpeg)
”Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Dalam dua minggu terakhir, kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang,” tulisnya di media sosial X, Selasa (21/4/2026).
Gencatan senjata AS-Iran selama dua pekan akan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Namun, sebelum jangka waktunya habis, konflik kedua negara justru meruncing. Salah satu pemicunya adalah blokade di Selat Hormuz, perairan sempit yang menjadi jalur distribusi seperlima minyak global.
Teheran memprotes langkah AS yang tetap memblokade pelabuhan dan kapal Iran. Apalagi, kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran diserang oleh militer AS, Minggu. Kapal itu berlayar dari China menuju Iran.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan, setelah serangan itu, militer Iran melancarkan serangan pesawat nirawak atau drone ke beberapa kapal militer AS. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia menyatakan, Angkatan Bersenjata Iran telah siap memberikan respons yang tegas atas pembajakan bersenjata tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/05/ed773c0e181ff224e1bf28626c789482-20260305_NNN_Drone_Iran_mumed.png)
”Namun, karena kehadiran sejumlah anggota keluarga awak kapal di atas kapal, tindakan operasional Iran ditunda untuk melindungi nyawa dan keamanan mereka yang terus-menerus dalam bahaya,” tulis laporan itu.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan, setiap kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz tanpa izin akan menjadi sasaran serangan. Iran memblokade selat itu sebagai respons terhadap serangan gabungan AS dan Israel ke negara tersebut pada 28 Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut oleh AS merupakan hambatan utama untuk melanjutkan proses diplomatik. Hal inilah yang membuat Iran belum memastikan menghadiri negosiasi putaran kedua di Islamabad, Pakistan. Selain itu, terdapat tuntutan AS yang berlebihan, terutama terkait program nuklir Teheran, sehingga mengganjal negosiasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan prihatin dengan sikap pejabat AS yang kontradiktif dengan kesepakatan gencatan senjata. Hal ini dianggap sebagai upaya untuk memaksa Iran menyerah. ”Rakyat Iran tidak tunduk pada kekerasan,” ucapnya.
Gencatan senjata AS-Iran selama dua pekan akan berakhir, Rabu. Namun, sebelum jangka waktunya habis, konflik kedua negara justru meruncing. Salah satu pemicunya adalah blokade di Selat Hormuz, perairan sempit yang menjadi jalur distribusi seperlima minyak global.
Perang di Iran yang berlangsung lebih dari 1,5 bulan telah menewaskan lebih dari 3.300 orang di Iran. Serangan AS dan Israel tidak hanya menyasar aset militer, tetapi juga infrastruktur sipil, seperti sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, jembatan, dan pembangkit listrik.
Trump mengancam akan menghancurkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran jika negosiasi lanjutan tidak mencapai kesepakatan. Menurut dia, akan lebih baik jika Iran menghadiri perundingan putaran kedua di Islamabad.
”Jika mereka tidak menerima kesepakatan itu, akan menjadi kehormatan bagi saya untuk melakukan apa yang harus dilakukan, yang seharusnya telah dilakukan terhadap Iran oleh presiden-presiden (AS) lain selama 47 tahun terakhir,” tulisnya di media sosial Truth Social.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/17/3bb2f2c1f3a3fd38d5ac5aee94af7d36-cropped_image.jpg)
Seorang pejabat Iran menyampaikan kepada Reuters, Teheran masih mempertimbangkan partisipasinya dalam negosiasi lanjutan dengan AS. Sejumlah pejabat tinggi Iran juga telah berkomunikasi dengan pejabat Pakistan selaku mediator. Namun, belum ada keputusan resmi untuk menghadiri perundingan tersebut.
Sementara itu, Gedung Putih menyatakan, Wakil Presiden AS JD Vance siap terbang kembali ke Islamabad untuk menghadiri perundingan putaran kedua. Vance memimpin delegasi AS dalam negosiasi putaran pertama pada 11 April. Negosiasi itu gagal mencapai kesepakatan.
Seorang pejabat Pakistan menyampaikan, ada momentum perundingan lanjutan dapat dilakukan, Rabu. Bahkan, terdapat kemungkinan Trump menghadirinya secara daring. ”Segalanya berjalan maju dan pembicaraan berjalan sesuai rencana untuk besok,” kata pejabat itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menuturkan, belum ada keputusan apa pun mengenai negosiasi berikutnya. Ia menganggap AS beriktikad buruk karena tetap melancarkan serangan saat gencatan senjata.
”Iran akan mengambil keputusan yang diperlukan tentang jalan ke depan dengan mempertimbangkan kepentingan nasionalnya secara cermat,” katanya.
Al Jazeera melaporkan, Iran masih membuka pintu diplomasi untuk mengakhiri perang. Namun, syarat yang dipaksakan oleh AS, terutama terkait program nuklir Teheran, membuat Iran menyiapkan skenario lain, termasuk untuk berkonfrontasi.
”Suasana saat ini diselimuti ambiguitas, hanya sehari sebelum gencatan senjata berakhir. Kita harus menunggu dan melihat apakah gencatan senjata tersebut diperbarui,” tulis laporan tersebut.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra