Liga Kompas U-14 Powered by BRI menjadi oase di tengah minimnya liga sepak bola usia muda. Sebanyak 16 SSB siap meramaikan persaingan musim baru.
15 Des 2024 19:46 WIB · Olahraga
TANGERANG SELATAN, KOMPAS — Setelah menuntaskan fase playoff, terkumpul 16 sekolah sepak bola terpilih untuk berkompetisi di Liga Kompas U-14 Powered by BRI. Ke-16 sekolah sepak bola tersebut memulai genderang persaingan babak utama Liga Kompas U-14, Minggu (15/12/2024), di Stadion Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten.
Hal itu karena mereka mendapatkan wadah untuk menyalurkan kemampuan olah bolanya. Liga Kompas menggunakan sistem setengah kompetisi, di mana setiap sekolah sepak bola (SSB) akan saling berhadapan setiap pekan hingga Mei 2025.
Di tengah minimnya liga sepak bola usia dini, kehadiran Liga Kompas yang dimulai sejak 2010 menjadi oase bagi pesepak bola belia. Mereka sangat berambisi ambil bagian dalam kompetisi ini. Tanda-tanda itu terlihat dari banyaknya SSB yang harus berjuang menembus babak utama melalui fase playoff. Total ada 36 tim yang mengikuti playoff setelah melewati seleksi berlapis.
Dari 36 tim itu, terpilih enam tim yang berhak tampil pada babak utama, yaitu Mutiara 97, Mavericks, Persigawa, Satria Cipta FC, Pelita Jaya Soccer School, dan Serpong City Soccer School. Keenam SSB itu menggantikan enam SSB yang berada pada peringkat terbawah klasemen musim lalu.
Kita bisa lihat kemarin di Elite Pro Academy saja, U-20, masih ada kekerasan. Kemarin saya lihat pertandingan futsal, ada kekerasan. Ini anak muda Indonesia mau jadi apa?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/f2210663-5b07-4f3c-9cc0-3c392569ad9c_jpg.jpg)
Liga Kompas U-14 dibuka langsung oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Erick menilai Liga Kompas adalah contoh kolaborasi positif antara media, dunia usaha, dan organisasi olahraga. Kompetisi ini, menurut dia, tidak hanya bertujuan mencari pemenang, tetapi yang lebih penting lagi membangun ekosistem sepak bola yang lebih baik.
”Liga Kompas adalah langkah besar untuk menciptakan fondasi sepak bola yang lebih kuat di Indonesia. Kami melihat ini sebagai investasi jangka panjang, di mana pembinaan pemain muda menjadi kunci untuk menciptakan generasi atlet yang mampu bersaing di tingkat internasional. Kolaborasi antara PSSI, harian Kompas, dan BRI ini merupakan contoh nyata bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan dukungan yang komprehensif dari berbagai sektor,” kata Erick.
Tidak berlebihan jika Erick menyebut Liga Kompas tiada ubahnya salah satu fondasi untuk membangun masa depan sepak bola Indonesia. Selain mendapatkan kesempatan bertanding secara reguler, para peserta juga memperoleh pengetahuan terkait gizi, edukasi untuk orangtua, dan juga mengasah aspek mental pemain melalui pembentukan psikis juara.
Misi yang lebih utama dari Liga Kompas adalah mendidik melalui sepak bola. Hal inilah yang diapresiasi Erick. Menurut dia, pesepak bola belia sudah harus diajarkan untuk menghargai lawan. Nilai-nilai itulah yang senantiasa dijunjung dalam Liga Kompas. Erick mengaku prihatin dengan sejumlah tindakan kekerasan yang dilakukan pemain seperti pada ajang Elite Pro Academy beberapa waktu lalu. Selain itu, masih segar di ingatan terkait insiden pemukulan pemain kepada wasit pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh-Sumatera Utara 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/15/73cf3e30-9d9b-4c48-a362-cb14b786085f_jpg.jpg)
”Kita bisa lihat kemarin di Elite Pro Academy saja, U-20, masih ada kekerasan. Kemarin saya lihat pertandingan futsal, ada kekerasan. Ini anak muda Indonesia mau jadi apa?” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra menyampaikan, Liga Kompas dapat menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun ekosistem sepak bola yang lebih profesional, inklusif, dan berkelanjutan. Ajang ini dapat menjadi katalis bagi lahirnya generasi atlet yang mampu bersaing di level nasional maupun internasional, sekaligus membawa kebanggaan bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Pekan pembuka Liga Kompas sudah diwarnai kejutan seiring kemenangan telak SSB One Way Soccer School atas Salfas Soccer. One Way Soccer School mencetak enam gol kemenangan tanpa balas. Meski menang telak, Pelatih One Way Sover School, Wahyu TB, merasa belum puas dengan itu.
”Secara hasil bagus karena kami menang telak. Tapi secara permainan saya belum puas karena para pemain masih banyak melakukan kesalahan sendiri,” kata Wahyu.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji Dewabrata