Generasi Emas yang Benar-benar Cemas

Ritme hidup cepat, benturan ide-ide baru, dan tekanan sosial politik membuat anak muda cemas. Sayangnya, mereka umumnya belum tahu diri sejati dan makna hidupnya.

26 Agt 2025 12:39 WIB · Kesehatan

Oleh Muchamad Zaid Wahyudi

Lahir dan besar di era digital membuat anak muda saat ini hidup serba cepat. Jangankan berpikir mendalam, memahami apa yang sebenarnya terjadi pun sering kali tak sempat. Saat bersamaan, mereka dihadapkan pada dunia yang sedang tidak baik-baik saja karena perang, rentetan dampak pandemi Covid-19, disrupsi teknologi, perubahan iklim, serta gaduhnya suasana sosial politik.

Anak muda saat ini diisi oleh generasi Z, generasi yang sejak lahir telah menjadi warga digital. Kemajuan teknologi membuat otak mereka merespons dunia lebih cepat, menjadikan mereka lebih pintar dibandingkan dengan generasi sebelumnya di usia yang sama. Namun, teknologi yang sama membuat kematangan emosional mereka justru melambat hingga mereka dituding sebagai ”generasi stroberi” yang lembek dan tidak tahan tekanan.

Sejak kecil, anak muda sekarang juga sudah akrab dengan media sosial. Platform ini memungkinkan mereka memproduksi, membagikan, dan berinteraksi dengan konten-konten yang membuat mereka terhubung dengan orang lain secara luas dan membentuk komunitas virtual. Masalahnya, konten-konten itu sering kali jadi penentu baru tentang apa yang baik, pantas, keren, dan harus dilakukan seseorang sebagai standar hidup terbaik.

Berbagai gagasan yang muncul di media sosial, mulai dari fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), marriage is scary, free child, work life balance, frugal living, hingga memiliki tabungan minimal Rp 1 miliar sebelum usia 30 tahun, semuanya menekan anak muda. Mereka dituntut memenuhi semua gagasan itu jika ingin dianggap sebagai individu yang sukses dan bahagia. Namun, semua tuntutan itu pada akhirnya justru membuat anak muda cemas dan gelisah.

Di kehidupan nyata, Gen Z adalah harapan Indonesia Emas 2045. Saat itu, mereka akan berumur 33-48 tahun dan akan menjadi pemimpin Indonesia di berbagai sektor, mulai dari lembaga politik, pemerintahan, industri dan bisnis, hingga masyarakat dan keluarga. Karena itu, berhasil tidaknya Indonesia menjadi negara maju, kaya, dan kekuatan ekonomi kelima dunia bergantung pada anak muda saat ini.

”Pada satu titik, semua gagasan dan harapan itu terasa membebani anak muda,” kata pendiri komunitas anak muda Distrik Berisik Rian Fahardhi (25) seusai diskusi Skena Akhir Zaman, di Jakarta, Sabtu (23/8/2025). Perasaan terbebani itu bukan berarti mereka tidak mau menerima tanggung jawab Generasi Emas, tetapi untuk mewujudkannya butuh peran dan dukungan generasi-generasi sebelumnya.

Hery Nugroho (17), mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tidar, memanen cabai bersama Radif Permana (21, kanan), kakaknya, di Desa Banyuroto, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (18/6/2019). Mereka bercocok tanam cabai agar mampu membiayai kuliah dan mencukupi berbagai kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Profesi petani semakin sedikit dijalani oleh kaum muda di tengah perkembangan dunia modern. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Selain itu, meski hidup di era teknologi, tidak semua aspirasi anak muda sekarang juga tentang teknologi. Banyak anak muda tetap ingin menekuni pertanian, seni budaya, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Terlebih, anak muda tidak hanya tinggal di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah, di pedalaman, ataupun wilayah terluar Indonesia. Namun, beragamnya aspirasi anak muda itu terlalu disederhanakan sebagai masalah teknologi.

Tekanan di dunia maya dan nyata itu, lanjut Rian, membuat anak muda seperti ditarik-tarik oleh berbagai kepentingan yang membuat mereka justru tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Mereka gamang menentukan arah kemana harus berjalan. Mereka juga tidak tahu apa sebenarnya keinginan dan harapan mereka sendiri. Kebingungan itu pada akhirnya hanya menambahkan kecemasan dan kegelisahan mereka serta memunculkan ketakutan jika harapan besar itu tidak tercapai.

Diri sejati

Peneliti psikologi anak muda dan pendiri YouthLab Indonesia Muhammad Faisal mengatakan, kecemasan terhadap diri sendiri, situasi sekitar, hingga kesempatan yang ada merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi anak muda sekarang. Kecemasan itu terjadi karena mereka tidak mampu menemukan diri sejati (real self) mereka akibat terbungkus oleh berbagai persona di media sosial, peran dan tuntutan masyarakat, serta berbagai filosofi hidup baru.

”Ketidakmampuan mereka menemukan diri sejatinya membuat anak muda berperangai yang bukan dirinya,” katanya.

Meski demikian, jawaban dari model kecemasan seperti itu tidak selalu ada dalam ranah tenaga profesional kesehatan mental. Jawaban-jawaban atas keresahan anak muda itu tidak hanya bisa ditemukan melalui ilmu psikologi dan praktik-praktik mindfulness atau penyadaran diri, tetapi juga bisa dijumpai dalam ilmu filsafat sebagai bentuk solusi atau pertolongan untuk diri sendiri secara gratis.

”Saat seseorang sudah menemukan diri sejatinya, mereka akan menemukan kepuasan hidup, kebahagiaan-kebahagiaan kecil, serta tidak lagi terbebani dengan berbagai tuntutan sosial ataupun perangai kepribadian yang tidak seharusnya mereka lakukan,” kata Faisal menambahkan.

Apabila seseorang berhasil menemukan diri sejatinya, mereka bisa berproses menemukan kembali makna hidup yang mereka tentukan. Berbagai gagasan dan narasi yang mengerubungi anak muda dan hampir semuanya bertumpu pada upaya untuk mengejar kesenangan optimal justru menciptakan disonansi, tubrukan-tubrukan pikiran dalam diri mereka. Dengan menemukan diri sejati, seseorang bisa mengonstruksi kembali makna hidupnya.

Anak-anak muda giat berlatih tarian tradisi di Taman Budaya Jambi (TBJ), sebagaimana tampak pada Kamis (13/8/2025). Banyak komunitas dan sanggar tari bermunculan. Hampir setiap pekan pasti ada acara yang menghadirkan sanggar-sanggar tari untuk tampil.

Kecemasan dan kegelisahan yang dialami anak muda sekarang, menurut filsuf pengampu acara Ngaji Filsafat serta dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Fahruddin Faiz, bukanlah fenomena baru terkait generasi. Sejak manusia ada, kegelisahan itu akan selalu muncul mengenai apa pun, baik yang bersifat personal maupun sosial.

Generasi yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928, generasi yang menghasilkan Kemerdekaan Indonesia 1945, hingga generasi Z di era digital sekarang, masing-masing memiliki kegelisahannya sendiri. Setiap zaman akan menghadapi ketidakpastian dengan berbagai tantangannya hingga menimbulkan kecemasan dan krisis identitas khususnya pada anak muda yang sedang dalam fase pencarian jati diri.

Selain itu, norma di masyarakat pun menganggap kegelisahan yang bersifat positif sebagai hal baik. Kegelisahan itu merupakan bagian dari upaya manusia menjaga eksistensinya. Namun, dalam setiap kebingungan itu, penting bagi setiap individu untuk melakukan apa yang menurut mereka baik, menjalani apa yang memang mereka inginkan dan mampu, mengetahui mana yang bisa mereka ubah atau tidak, hal apa yang bisa dikendalikan ataupun tidak, serta menjaga keselamatan diri.

Quote

Orang-orang yang hidup penuh dengan kepalsuan hanya bisa menikmati kesenangan jangka pendek.

Meski demikian, kegelisahan dan kecemasan itu bisa dikelola jika seseorang sudah mengenal diri sejati mereka. ”Ciri orang yang memiliki diri sejati adalah senantiasa eling dan waspada. Mereka bebas mengekspresikan dirinya sesuai kemauannya, tidak dikendalikan oleh orang-orang di sekitarnya ataupun follower-nya (pengikut) di media sosial,” katanya.

Individu yang sangat bergantung pada pandangan orang sekitarnya, termasuk pengikut di media sosial, cenderung lebih mudah memanipulasi diri. Akibatnya, mereka merasa asing dengan dirinya sendiri. Mereka lebih mudah terjebak oleh citra yang dibangun sendiri, bukan sesuatu yang otentik yang menjadi cerminan diri. Terlebih, orang-orang yang hidup penuh dengan kepalsuan hanya bisa menikmati kesenangan jangka pendek. Dalam masa yang lebih panjang, mereka justru akan merasa hampa.

Menghitung diri

Untuk mengatasi kecemasan dan kegelisahan tersebut serta menemukan diri yang sejati, Faiz menyarankan untuk meluangkan waktu membaca dan menghitung diri yang dalam Islam dikenal sebagai muhasabah. Upaya ini harus dilakukan terbuka dan jujur sehingga mampu mengetahui kelemahan diri.

Meditasi kelompok Energi Prana Kasih di Duta Fine Art Galeri, Kemang, Jakarta, Selasa (23/8) Kompas/Lasti Kurnia (LKS) 23/8/05

Jika sulit jujur pada diri sendiri; maka, seperti yang disampaikan filsuf Islam terkemuka Imam Al Ghazali, carilah kawan atau sahabat yang bisa menilai kita dengan obyektif. Jika sahabat pun sulit jujur karena sungkan, carilah musuh yang terkadang jauh lebih jujur, apalagi tentang kejelekan kita.

”Dalam mencari real self (diri sejati), kuncinya adalah bukan tentang kemelekatan akan apa pun pun, tetapi ingin jadi seperti apa diri kita,” katanya. Namun, dalam kehidupan modern yang serba mudah dan penuh dengan fasilitas hidup, kita sering kali gagap dalam membicarakan tujuan hidup. Karena itu, penderitaan hidup terkadang justru bisa membantu kita menemukan apa sebenarnya yang kita inginkan dalam hidup

Sementara itu, terkait bertebarannya gagasan-gagasan baru tentang hidup di media sosial, Faiz mengingatkan pentingnya berpikir lebih dulu, jangan buru-buru memutuskan, serta menggunakan berbagai kecerdasan yang dimiliki manusia untuk memikirkannya.

Anak-anak muda sekarang memang memiliki penjelasan akal untuk mendukung gagasan-gagasan tersebut. Namun, kecerdasan manusia tidak hanya bersumber dari akal dan pancaindera, tetapi juga bisa berasal dari nurani, naluri atau insting, intuisi atau pengetahuan dalam diri, dan imajinasi. Pengabaian nurani dan naluri justru bisa menghasilkan kehampaan diri.

Di sisi lain, penting pula bagi manusia untuk tidak berhenti saat melihat fakta karena apa yang terlihat di mata bisa tersamarkan dan menipu. Makna di balik fakta tersebut justru lebih utama karena hakikat hidup manusia adalah mencari makna.

Karena semua bagian hidup manusia itu bermakna, penting untuk berhenti sejenak dan menciptakan makna hidup versi diri kita sendiri. Dalam pencarian makna hidup itu, pemahaman dan pilihan apa pun selama masih terkait dengan manusia tidak ada yang bernilai mutlak. Pemutlakan justru akan menjadi belenggu diri.

Pendiri Youthlab Indonesia Muhammad Faisal (kiri), filsuf pengampu Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz, dan CEO Youthlab Indonesia Axel Hadiningrat dalam diskusi Skena Akhir Zaman, di Jakarta, Sabtu (23/8/2025).

Di tengah gempuran gagasan-gagasan baru, ritme hidup yang cepat, dan upaya pencarian makna hidup, maka ajaran salah satu tokoh penyebar Islam di Tanah Jawa, Sunan Kalijaga, masih menemukan relevansinya hingga kini. ”Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli” atau menyelaraskan dengan aliran air, mengalir, tetapi tidak terhanyut. Hidup itu memang harus mengalir, tetapi nilai diri yang akan menjaga kita agar tidak terhanyut dalam aliran zaman.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muchamad Zaid Wahyudi
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra