Arsitektur tradisional Indonesia cermin hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Kini terkikis modernitas yang mengabaikan keseimbangan sosial-ekologis.
07 Feb 2025 20:17 WIB · Opini
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/07/24/4b897536-d485-4417-a61b-2d3b67802a9b_jpg.jpg)
Rumah adalah cangkang bagi jiwa raga manusia. Rumah bukan saja sebongkah bangunan, dengan pilar, dinding, ataupun atap untuk bernaung. Rumah adalah sumbu bagi keluarga. Di dalamnya roh para leluhur turut bersemayam di antara susunan kayu, ikatan bambu, serta lilitan ilalang.
Rumah adat Wae Rebo yang juga disebut mbaru niang adalah rumah bundar yang berbentuk kerucut serta terdiri atas lima tingkat. Bentuk rumah dan tiap-tiap tingkat tersebut memiliki fungsi dan makna filosofis bagi orang-orang yang menempatinya. Kampung Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Para nenek moyang Wae Rebo mewariskan tujuh rumah adat kepada generasi penerusnya. Kampung Wae Rebo diduga sudah mencapai generasi ke-18. Wae Rebo adalah masyarakat tradisional yang masih melaksanakan laku hidup sesuai dengan adat yang berusia lebih dari seribu tahun lamanya.
Indonesia memiliki ragam rumah adat yang indah dalam keunikannya sendiri, yang sarat dengan muatan filosofis yang menghubungkan manusia dengan lingkungan hidup beserta dunia para leluhur. Sebut saja rumah adat tongkonan di Sulawesi Selatan. Arsitektur rumah yang mirip dengan perahu itu memiliki makna kesinambungan daur hidup yang dijalani oleh setiap insan. Rumah adat suku Toraja ini diposisikan menghadap ke utara, yang dianggap titik sakral sebagai penanda kehidupan. Tak luput, tongkonan juga memiliki pesan sosial, rumah itu menjadi simbol kebersamaan dan persaudaraan yang erat.
Pembangunan rumah adat Bali tidak sembarang dilakukan, tetapi mengikuti pedoman yang termaktub dalam buku kuno ”Asta Kosala Kosali”.
Begitu pula dengan rumah adat di Bali, yang berbentuk kompleks bangunan, terdiri atas bale-bale yang terhubung dengan arah mata angin sebagai bagian dari kosmologi Hindu. Pembangunan rumah adat Bali tidak sembarang dilakukan, tetapi mengikuti pedoman yang termaktub dalam buku kuno Asta Kosala Kosali. Buku tersebut berisikan panduan yang membimbing penempatan posisi bangunan, cara membangunnya, hingga nilai spiritual yang menjadi dasar-dasarnya.
Keutamaan dari Asta Kosala Kosali adalah, kepekaan manusia untuk mengerti, membaca lekuk alam, dan mengikuti bentuk alam itu. Bahkan, Asta Kosala Kosali juga menegaskan keterhubungan manusia dengan elemen bangunan yang perlu disaksamai sehingga ruang yang terbentuk akan dipenuhi ketenteraman dan kesejahteraan bagi keluarga yang menghuni rumah tersebut. Dalam buku itu diperingatkan, hendaknya dalam membangun diutamakan kesadaran yang mengarah pada niat baik, tujuan yang baik, serta kewajiban merawat keselarasan buana agung (makrokosmos) dan buana alit (mikrokosmos).
Arsitektur adalah puisi, demikian yang disampaikan oleh arsitek dan filsuf asal Norwegia, Christian Norberg-Schulz. Ia mengembangkan fenomenologi arsitektur yang amat dipengaruhi oleh filsuf Jerman, Martin Heidegger. Ia mengatakan, ”arsitektur adalah bagian dari puisi dan tujuannya adalah untuk membantu manusia yang bermukim…. Membangun kota dan bangunan yang praktis saja tidak cukup. Suatu arsitektur akan terwujud ketika seluruh lingkungan hidupnya ditampakkan.”
Norberg-Schulz meminjam istilah dwelling yang ia kembangkan dari Heidegger, kata dwelling dalam tulisan ini diterjemahkan sebagai ’bermukim’. Baginya, bermukim tidak semata-mata bertempat tinggal, tetapi ditekankan aspek eksistensial, bahwa ruang itu adalah kreasi yang dicurahkan penuh hasrat. Kecintaan pada hidup melalui bermukim semestinya menjadi tujuan dari arsitektur. Norberg-Schulz berargumen bahwa suatu tempat adalah ruang yang memiliki karakter distingtif.
Semenjak masa lampau, masyarakat meyakini adanya genius loci, atau roh dari suatu tempat. Norberg-Schulz memperluas pengertian genius loci yang ia gunakan untuk menjelaskan tugas arsitektur jika menggunakan perspektif kritis fenomenologi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/25/23fbc37d-f099-4991-a154-2fce77dfe283_jpeg.jpg)
Menurut dia, arsitektur memungkinkan visualisasi dari genius loci, dalam pengertian ini maka bangunan itu lebih dari obyek fisikal, ia adalah wadah bagi manusia untuk menghayati pengalaman yang bermakna. Norberg-Schulz memosisikan arsitektur, selain sebagai ilmu, sekaligus seni yang memiliki daya untuk mendorong manusia mengungkapkan relasi dirinya di dalam semesta.
Dalam contoh-contoh rumah adat yang telah disebutkan, mereka mengendapkan genealogi suatu komunitas diliputi memori tentang masa lalu, namun sekaligus angan-angan generasi baru untuk masa depan.
Modernisasi telah mengikis kehikmatan kita menjalin keselarasan antarsesama manusia, alam, dan Tuhan melalui ruang dan bangunan.
Malangnya, pengetahuan yang tersimpan dalam filosofi arsitektur Nusantara ini perlahan tergerus oleh zaman. Modernisasi telah mengikis kehikmatan kita menjalin keselarasan antarsesama manusia, alam, dan Tuhan melalui ruang dan bangunan. Pembangunan yang agresif terjadi tanpa menghiraukan keseimbangan sosial-ekologis. Eksploitasi lingkungan hidup, deforestasi, pemagaran dan privatisasi perairan, reklamasi, serta penyerobotan ruang hidup publik terjadi secara lepas kendali. Pembangunan semacam ini telah memotong ikatan sejarah, religi, hingga ekologi kita secara beringas.
Apakah kita telanjur berada dalam reruntuhan? Apa yang dapat dilakukan dalam kondisi keterpurukan ruang hidup seperti ini?
Pengetahuan ini adalah suluh yang dapat memberi kita inspirasi untuk menyikapi tantangan-tantangan pada masa kontemporer.
Arsitektur tradisional, dalam hal ini dapat dimengerti sebagai bagian dari lumbung pengetahuan vernakular di Indonesia, perlu kita maknai tidak saja sebagai peninggalan dari masa lalu. Pengetahuan ini adalah suluh yang dapat memberi kita inspirasi untuk menyikapi tantangan-tantangan pada masa kontemporer.
Pengetahuan vernakular ini bukan semata-mata nostalgia terhadap tradisi lampau, melainkan secara kritis kita dapat melakukan penelusuran artikulatif agar menjadi wawasan untuk membangun kembali ruang hidup yang lebih manusiawi, yang berpegangan pada keseimbangan ekologis serta harmoni sosial.
Penulis:
Saras DewiEditor:
Moh. Hilmi Faiq