Pemilihan stadion pun dilakukan dengan pertimbangan tak mengganggu mental pemain yang diliputi trauma masa lalu. Gattuso enggan Italia main di San Siro.
26 Mar 2026 15:53 WIB · Olahraga
AP
Saat Italia menaklukkan Perancis yang bertabur bintang, termasuk Zinedine Zidane dan Thierry Henry, di final Piala Dunia 2006, sebuah era baru seharusnya sedang dimulai. Melalui adu penalti di Berlin, Jerman, Italia menjadi negara kedua yang memenangi Piala Dunia untuk keempat kalinya.
Namun, hampir dua dekade kemudian, kemenangan itu sangat kontras dengan nasib Italia saat ini. Setelah gagal lolos ke Piala Dunia Rusia 2018 dan Qatar 2022, Italia berada di ambang menjadi bekas juara yang gagal lolos ke tiga edisi turnamen berturut-turut.
Italia memang mengalahkan Inggris untuk memenangi Euro 2020 di tengah-tengah itu. Akan tetapi, keberhasilan tersebut tampak seperti sebuah pengecualian.
Untuk bisa tampil kembali di Piala Dunia pada 2026, Italia harus memenangi dua pertandingan playoff. Perjuangan mereka dimulai dengan semifinal kandang melawan Irlandia Utara, Jumat (27/3/2026) dini hari, lalu berduel dengan pemenang laga Wales versus Bosnia-Herzegovina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/07/79ed81f0-82da-445c-b773-8105a6a10651_jpg.jpg)
”Italia tidak bermain di dua Piala Dunia terakhir, tetapi tidak perlu mencekik para pemain. Ini adalah pemain yang telah memenangi Euro dan bermain di final Liga Champions. Mereka terbiasa dengan pertandingan-pertandingan ini,” ujar Pelatih Italia Gennaro Gattuso.
Gattuso ditunjuk jadi pelatih Italia pada Juni 2025 untuk menggantikan Luciano Spalletti yang dipecat. Pemecatan itu terjadi selepas Italia kalah 0-3 dari Norwegia pada laga Grup I kualifikasi Piala Dunia zona Eropa.
Kendati Spalletti tetap bertanggung jawab selama tiga hari berikutnya ketika menang atas Moldova, kepergiannya merupakan indikator awal tantangan yang akan dihadapi Italia. Gattuso, yang melatih 10 klub dalam 12 tahun, harus menangani Italia yang dibayangi trauma masa lalu.
Gattuso menyadari bahwa para pemainnya akan menghadapi tekanan mental akibat kegagalan masa lalu itu. Untuk itu, alih-alih semakin memberi tekanan pada anak-anak asuhannya, Gattuso memilih untuk meringankan jalan mereka. ”Kami harus mampu membuat para pemain merasa lebih ringan,” katanya.
”Namun,” katanya lagi, ”kami harus memiliki mentalitas dan ketenangan yang tepat. Kami menghormati lawan, tetapi kita harus berpikiran jernih dan menyadari bahaya.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/25/2e0a4578-ceb9-4491-9a6d-1ea13189c490.jpg)
Upaya untuk setidaknya mengurangi tekanan itu tampak dari pertimbangan Gattuso memilih stadion untuk laga kandang kontra Irlandia Utara. Gattuso enggan bermain di Stadion San Siro di kota Milan yang merupakan area ikonik dengan alasan mental pemain.
Menurut Gattuso, stadion yang dijuluki cattedrale del calcio alias katedral sepak bola Italia itu rentan memberikan suasana ”panas”. Ukurannya yang besar, kapasitas lebih dari 70.000 tempat duduk, bisa menciptakan suasana itu di tribune ketika timnya kesulitan pada awal laga.
Ketika Italia kalah dari Norwegia di San Siro, Gattuso memperhatikan bahwa penggemar AC Milan dan Inter Milan akan mencemooh kepada pemain dari klub lawan. ”Mereka mungkin akan mulai mencemooh setelah beberapa umpan yang salah. Saya ingin menciptakan suasana yang benar-benar seperti kuali,” ujar Gattuso.
Alhasil, Gattuso memilih untuk bermain di Stadion Bergamo yang berkapasitas 23.500 tempat duduk. Pemilihan itu, kata Gattuso, demi menciptakan suasana yang lebih positif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/03/5a4ddb39-e91a-47b7-a0d7-489388700dc8.jpg)
Namun, Gattuso sebenarnya tak hanya akan menghadapi problem trauma. Ia juga akan bertarung dengan tim yang ”seadanya”. Selain kiper dan kapten Gianluigi Donnarumma, 27 pemain lainnya bisa dibilang tidak berada di level dunia.
Ketika Italia berhadapan dengan Perancis di final 20 tahun lalu, situasinya berbeda. Dari Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, dan Gennaro Gattuso di lini belakang hingga Alessandro del Piero dan Francesco Totti di lini depan, Italia memiliki tim terhebat dalam sejarah.
Tim itu bukan hasil kesuksesan instan, tetapi model pengembangan yang tidak lagi ada di sepak bola Italia. Sejak peraturan kuota pemain asing semakin longgar, bakat-bakat lokal Italia semakin sulit mendapatkan tempat di Serie A. Klub pun bergantung pada pemain asing.
”Ini adalah hasil dari apa yang terjadi di Italia dalam beberapa tahun terakhir,” kata Del Piero.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/25/7074acde-9286-4bbf-be67-dd23d3e380fe.jpg)
Tekanan mental Italia pun menjadi keuntungan bagi Irlandia Utara. Pelatih Michael O’Neill mengatakan, ekspektasi besar ada pada Italia, sedangkan timnya bisa bermain lebih lepas tanpa terlalu memikirkan apa yang dipertaruhkan.
”Kami memiliki segalanya untuk diraih dalam pertandingan ini, tidak diragukan lagi,” kata O’Neill.
”Ada ekspektasi besar pada Italia, sebagai negara sepak bola yang hebat, dan kami tidak boleh terintimidasi oleh hal itu. Kami memiliki banyak pemain muda dan ini akan menjadi bagian dari proses pertumbuhan,” ujarnya lagi. (AP/REUTERS)
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nur Adji