Geoekonomi Global Ancam Bursa Asia dan Indonesia di 2025

Pasar Asia menghadapi tantangan besar pada 2025 akibat kebijakan proteksionis Trump, tetapi peluang investasi tetap terbuka lewat diversifikasi rantai pasok global.

06 Jan 2025 18:16 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS - Kebijakan ekonomi Amerika Serikat hingga China diproyeksikan menjadi tantangan besar bagi kinerja bursa di Asia, termasuk Indonesia, pada 2025. Tetapi peluang investasi tetap terbuka melalui diversifikasi rantai pasok global.

Lembaga riset pasar Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencatat, indeks MSCI Asia Pasifik naik 7 persen pada tahun 2024 atau kurang dari sepertiga dari kenaikan Indeks S&P 500 di AS sebesar 23 persen. Ketertinggalan ini terancam berlanjut di 2025 karena sejumlah isu ekonomi di negara-negara adikuasa.

Peningkatan kinerja pasar modal di bursa Asia tahun ini diproyeksikan terancam langkah ekonomi pemerintah Amerika Serikat, yang mulai tahun 2025 resmi dipimpin Presiden Donald Trump.

Kebijakan perdagangan Trump, yang terbaca dari pengalaman memimpin sebelumnya, menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pasar di Asia. Rencana pengenaan tarif perdagangan oleh AS baik pada sekutu maupun musuh kemungkinan akan merugikan pendapatan perusahaan dan mengganggu rantai pasok global.

"Beberapa sektor yang mungkin mengalami tekanan termasuk energi terbarukan, serta pembuat chip Asia dan pemasoknya," kata Xiao Feng, salah satu kepala penelitian industri Tiongkok di CLSA Hong Kong, dikutip dari Bloomberg, Senin (6/1/2024).

Pungutan tambahan pada kendaraan listrik China, yang sudah dikenakan pajak 100 persen di bawah pemerintahan Joe Biden, mungkin memiliki dampak terbatas mengingat AS menyumbang kurang dari 1 persen ekspor kendaraan China.

Namun, produsen suku cadang mobil yang mengekspor ke Meksiko dan Kanada bisa mendapatkan lebih sedikit pesanan jika Trump memutuskan untuk mengenakan lebih banyak tarif pada kedua negara tersebut, tambahnya.

Di sisi lain, pasar seperti India dan sebagian Asia Tenggara telah diuntungkan karena perusahaan mendiversifikasi produksi mereka di tengah meningkatnya ketegangan China-AS.

Kebijakan Trump yang membuat ekonomi AS mengalami ketidakpastian bisa mendorong inflasi lebih tinggi, melemahkan kemampuan bank sentral di kawasan itu untuk menurunkan biaya pinjaman. Apalagi, Bank Sentral AS, The Federal Reserve, telah mengisyaratkan kehati-hatian tentang penurunan suku bunga lebih lanjut.

Sentimen ini memberikan ruang bagi penguatan dollar untuk terus berlanjut, setidaknya di awal tahun. Indeks dollar AS, DXY, per hari ini pun masih bertahan di atas 109, mendekati level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Hal ini akan memberikan tekanan ke bawah pada mata uang dan ekuitas Asia.

"Kami akan terus memantau kebijakan luar negeri pemerintahan AS yang akan datang terhadap Asia dan kebijakan domestik lainnya yang dapat memengaruhi dolar AS dan prospek Fed," kata Jack Siu, kepala manajemen portofolio diskresioner, Asia di Lombard Odier.

Layar menampilkan pergerakan peradangan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (30/12/2024). Bursa Efek Indonesia 2024 resmi ditutup pada Senin (30/12/2024) dengan IHSG menguat 43,33 poin atau 0,62 persen ke posisi 7.079,90. Sementara itu, saham unggulan kelompok 45 atau indeks LQ45 naik 1,52 poin yaitu 0,18 persen ke posisi 826,62. Total investor pasar modal Indonesia mencapai sebanyak 14,84 juta Single Investor Identification (SID) per 27 Desember 2024. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan akhir tahun 2023 dengan jumlah sebanyak 12,16 juta SID. Dari total 14,84 juta investor, sebanyak 99,73 persen merupakan investor lokal dan sebesar 0,27 persen merupakan investor asing yang sebagian besar merupakan investor institusi. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 30-12-2024

Selanjutnya, pasar Asia juga terancam perang dagang AS-China meskipun langkah-langkah stimulus yang lebih kuat dari Beijing akan tetap menjadi fokus utama bagi investor di kawasan tersebut.

Investor akan memantau pertemuan Kongres Rakyat Nasional oleh pemerintah China pada bulan Maret depan untuk mengetahui target pertumbuhan Beijing tahun 2025. Pertemuan juga akan membahas rencana terperinci untuk meningkatkan konsumsi, termasuk subsidi dan tunjangan pengangguran. Stimulus lebih lanjut dinilai akan membantu mendorong arus masuk ke pasar-pasar Asia yang sedang berkembang dengan eksposur ke China.

Selain China, ekonomi di kawasan regional seperti dari Jepang dan Korea Selatan juga akan berpengaruh pada pasar Asia. Ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan bergeser dari Januari ke Maret 2025 akan sementara membuat mata uang yen tetap lemah.

Situasi ini akan meningkatkan ekspor produsen produk teknologi dan pembuat mobil dan melanjutkan tren carry trade oleh pengusaha dan investor individu Jepang. Carry trade adalah strategi keuangan yang memanfaatkan suku bunga rendah di satu negara untuk berinvestasi pada aset-aset di negara lain yang suku bunganya lebih tinggi. Perubahan kebijakan Bank Sentral Jepang akan berpengaruh pada volatilitas saham Negeri Sakura dan banyak negara yang menjadi tempat masyarakat negara tersebut berinvestasi.

Sementara itu, dari Korea Selatan, pusat ekonomi terbesar keempat di Asia tengah goyah karena negara itu bergulat dengan meningkatnya ketidakpastian politik dan ekonomi. Korea Selatan memangkas perkiraan pertumbuhannya untuk tahun ini menjadi 1,8 persen setelah tumbuh 2,1 persen pada tahun 2024. Proyeksi ini dampak dari bencana darurat militer dan pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol.

Donald Trump Deklarasikan Kemenangan Atas Kamala Harris di Pilpres AS

Hal itu meningkatkan risiko di pasar saham Korea Selatan yang berkinerja buruk di 2024 dan pelemahan mata uang won lebih lanjut yang kini berada di dekat level terendah dalam 15 tahun.

Schroders Indonesia dalam laporan Outlook Pasar Modal 2025 memproyeksikan, aliran modal asing masih berpotensi didapatkan pasar Asia dengan memanfaatkan sentimen pelemahan ekonomi karena faktor AS. Pasar saham negara berkembang Asia, India bersama dengan negara-negara ASEAN seperti Indonesia akan menjadi fokus utama bagi investor saham global.

"Pasar negara berkembang ASEAN termasuk Indonesia kemungkinan akan menarik perhatian investor saham global. Selain itu, kita mungkin terus melihat lebih banyak produsen yang mengalihkan fasilitas mereka dari China ke negara lain termasuk Indonesia, sehingga mendorong lebih banyak aliran investasi langsung," kata laporan Schroders.

Risiko juga bisa datang dari China jika perang dagang dengan AS meningkat, sehingga pertumbuhan PDB China menghadapi tantangan ekspor yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonominya dalam beberapa tahun terakhir.

Kebijakan The Federal Reserve di AS juga bisa menjadi kurang akomodatif bagi pasar obligasi atau surat utang. Bank sentral di Asia, termasuk Bank Indonesia, akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Bagi Indonesia, hal itu berarti  tantangan menjaga imbal hasil produk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap tinggi di tengah kebutuhan pembayaran kembali Surat Utang Negara tahun ini di oleh pemerintah.

Dari sudut pandang investor asing, valuasi surat utang tetap mahal selama imbal hasil surat utang AS tetap tinggi pasca kemenangan Partai Republik di Pemilihan Presiden AS. "Kemenangan Trump kemungkinan akan membuat dollar AS lebih kuat dan investor asing mungkin menunda investasi di mata uang pasar negara berkembang termasuk obligasinya," kata Tim Schroders.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta