Garam atau madu? Di kehidupan penuh badai ini, madu amat menggoda. Bagi kaum urban yang tertekan, hanyut dalam hype ”Geol di Angkot” dan ”hipdut” sungguh menarik.
07 Agt 2026 13:00 WIB · Kolom
Kompas/Heryunanto
”I’ve been working all day, all night, all day, all night long…” sepotong lirik ”Honk” dari No Na sembari salah satu anggotanya rebahan di kursi-kursi plastik hijau menyala di depan warung pinggir jalan. Adegan itu disambung dengan kereta komuter melintas cepat di belakang mereka.
Lirik di atas seperti relevan dengan hidup di kota yang terasa kian melelahkan. Buka media sosial, isinya pamer kekuasaan dan intrik politik yang tak kunjung usai. Buka dompet atau cek rekening, yang kemudian menyapa justru harga berbagai barang kebutuhan di luar sana yang melompat naik. Kisah teman, handai tolan, juga laporan di media massa dan media sosial kompak mengeluhkan susahnya mencari pekerjaan ataupun pendapatan makin sulit menyamai tingginya kebutuhan.
Di luar sana, fasilitas publik seperti angkutan umum memadai masih amat terbatas. Bergerak sedikit saja, butuh merogoh kocek untuk membayar ongkos ojol, karena bus kota dan kereta komuter belum melayani hingga seluas ekspektasi warga. Warga di luar Ibu Kota masih harus bergelut dengan angkot reyot yang jalannya terseok-seok, mengetem sembarangan, dan menawarkan ketidaknyamanan plus ketidakamanan mobilitas saban hari.
Di tengah impitan ekonomi, krisis sosial, dan infrastruktur yang bertahun-tahun hampir tak beranjak dari sekadar seadanya itu, lalu bagaimana masyarakat urban bertahan hidup?
Tak selalu bersungut-sungut sebal, walau di hati dan pikiran tetap saja protes yang sesekali mengalir ke status media sosialnya, warga kota sehari-hari lebih banyak menjalani kesehariannya dengan tekun. Tua muda, laki-laki maupun perempuan merayakan yang didapatnya saat ini dengan menikmati ”dracin” alias drama China dan menerima diri yang ternyata menjadi asik santai saat disapa tren hipdut alias hiphop dangdut.
Untuk itu, fenomena meledaknya lagu-lagu seperti ”Rollerblade” juga yang terbaru ”Honk” serta sebelumnya ada ”Garam dan Madu” dan sederet lainnya dari artis atau grup musik berbeda pun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Tanpa banyak teori, No Na lewat video musik resmi untuk lagunya ”Honk”, misalnya mempertontonkan realitas jujur kaum urban pekerja dengan baju rapi berlarian menuju angkutan umum.
Ada lirik singkat dari ”Honk” yang melejit menemukan viralitasnya sendiri, yaitu ”Get on the angkot”. Akar rumput rupanya tergelitik. Lewat kreativitas warganet, baris lirik tersebut diplesetkan jenaka menjadi ”Geol di angkot”.
Sekilas, ini tampak seperti lelucon media sosial biasa. Namun, bisa jadi ada tindakan kebudayaan yang sangat subtil di sana. Angkot, simbol keterbatasan fasilitas publik dan kepenatan mobilitas kelas pekerja, mendadak diubah fungsinya. Dari sebuah ruang kecil penuh sesak dan menguras stamina, menjadi lantai dansa mini.
Fenomena ini mungkin dapat dikatakan sebagai bentuk nyata dari apa yang disebut kritikus budaya Mikhail Bakhtin sebagai Carnivalesque. Dalam kajian filsafatnya, seperti dirangkum dalam ”The Bakhtin Circle” di Internet Encyclopedia of Philosophy dan ”Bakhtin’s Carnivalesque: When Writers Turn the World Upside Down”, Gilliam Writers Group, pemikir Rusia tentang budaya karnaval itu, menjelaskan bahwa ketika tatanan resmi masyarakat terasa terlalu menekan atau gagal memenuhi janji-janjinya, rakyat biasa akan menciptakan ”dunia kedua”. Di dunia karnaval ini, hierarki dibalik, bahasa elitis ditundukkan, dan tawa komunal mengambil alih.
Plesetan dari ”Get on” menjadi ”Geol” adalah bentuk domestikasi bahasa global (vernacularization). Bahasa Inggris yang selama ini masih dinilai mentereng di sebagian belahan bumi ini ditundukkan oleh bahasa tubuh lokal menjadi geol alias goyangan pinggul.
Di atas angkot yang di banyak tempat kenyataannya memang sering kali didapati full music, warga kota meruntuhkan sekat-sekat ketegangan hidup. Semua tidak sedang berpura-pura bahwa angkot itu nyaman atau ekonomi sedang baik-baik saja. Sebaliknya, kaum urban menggunakan humor dan relaksasi dengan menikmati irama musik untuk menguasai kembali ruang publik yang mengabaikan kenyamanan mereka.
Jika ”Honk” makin menunjukkan adanya percikan rasa bahagia lewat humor jalanan dari Sabang sampai Merauke, maka tren hipdut yang beberapa tahun terakhir telah dirangkul sepenuh hati oleh kaum muda Nusantara adalah bahan bakar utama dari katarsis komunal ini.
Ada alasan mendasar mengapa hipdut terasa begitu segar dan mudah meresap ke dalam dada masyarakat urban kelas pekerja. Hipdut adalah perkawinan dua genre yang sama-sama lahir dari bawah, yaitu hiphop sebagai representasi musik jalanan yang vokal menyoal realitas dan dangdut telah lama menjadi denyut nadi kehidupan rakyat biasa. Ketika keduanya menyatu, hipdut menjelma menjadi instrumen apa adanya, tetapi begitu kuat menyuarakan hal-hal nyata yang mengakrabi banyak orang dalam menjalani 24 jam 7 hari hidupnya.
Terkesan remeh-temeh, tetapi teriakan NDX AKA ”… Jare nek ra ninja, ra oleh dicinta… Opo koyo ngene susahe wong kere, arep nyanding tresno kalah karo bondo…” sangat dekat menggambarkan rumitnya kisah cinta anak muda masa kini. Tanpa memiliki sepeda motor kekinian berharga puluhan juta, orangtua dari sosok yang ditaksir pun melarang mereka pacaran.
Memiliki harta benda dinilai masih menjamin hidup senang. Pola pikir yang masih subur di kalangan kita sendiri ini menjadi refleksi kecil mengapa warga Indonesia begitu permisif terhadap para koruptor, pejabat busuk, yang menilap triliunan uang rakyat.
Lirik-lirik hipdut jarang berputar pada metafora abstrak yang rumit. Semua bicara tentang patah hati sampai soal beban cicilan, perihnya mencari kerja, hingga keluhan soal harga-harga yang mencekik. Disajikan dengan lirik berisi kata-kata yang campur-campur, bahasa daerah, bahasa Indonesia, pun bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Dalam satu lagu bercampur pula beragam genre musik, dari sedikit jazz sampai dangdut koplo. Tidak ada lagi sekat gengsi, semua sah diracik sesukanya dan seasiknya.
Ajaibnya, ratapan-ratapan lirik dibungkus musik gado-gado itu ampuh memanggil kaki bergoyang, mendorong ikut berteriak melepaskan beban di dada, kabut di kepala pun sedikit terusir. Siapa tahu seusai relaksasi singkat itu, terpompa semangat menghadapi hidup yang bagai sungai penuh sampah dan airnya beracun ini. Ketika ruang-ruang politik formal gagal menyalurkan dan mengatasi frustrasi, hip-dut menyediakan ruang aman bagi warga untuk mengekspresikan kerapuhan mereka tanpa harus kehilangan martabat.
Tidak apa-apa jika hidup kita sedang berantakan, tidak apa-apa jika harus berdesakan di angkot, di KRL, terjebak macet berjam-jam sembari diselimuti asap kendaraan, pun mau apalagi jika dompet memang sedang tipis. Temukan sisi-sisi yang selalu mengingatkan hidup itu bagaimanapun kesempatan untuk menemukan kesenangan. Bersisihan dengan keseharian di kota yang terasa ruwet, ada mosaik kehidupan yang bisa pula difungsikan seperti karnaval hiburan tanpa jeda dan tak berakhir diiringi lengkap dengan musik asiknya.
Seperti yang dicatat dalam analisis Gilliam Writers Group tentang teori Bakhtin, pembalikan realitas ini adalah mekanisme pertahanan psikologis kolektif. Dengan menertawakan penderitaan, penderitaan itu kehilangan kekuatannya untuk menghancurkan jiwa kita.
Lewat lagunya, Tenxi, Naykilla, dan Jemsii pun bertanya, ”Apa yang kau mau? Dia atau aku, garam atau madu? Hold my hands, don’t don’t tell your friends… ji ro lu”.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase