Gerald Vanenburg mengemban tugas super penting di timnas Indonesia. Kelahiran pemain baru tim ”Garuda” bergantung pada tangan dinginnya.
25 Jan 2025 16:59 WIB · Olahraga
Gerald Vanenburg telah melengkapi susunan staf pelatih tim nasional Indonesia di bawah kendali Patrick Kluivert. Selain akan berjuang bersama Kluivert, Denny Landzaat, dan Alex Pastoor untuk memenuhi mimpi besar Indonesia mentas di Piala Dunia 2026, Vanenburg juga bakal memimpin tim U-23 Indonesia demi mempertahankan medali emas SEA Games 2025 serta lolos ke Piala Asia U-23 2026 di Arab Saudi.
Selama kariernya dalam dua dekade sebagai pemain, Vanenburg memiliki perjalanan yang amat baik. Ia mencatatkan prestasi apik bersama dua tim terbesar Belanda, Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven.
Lima trofi lokal dipersembahkan untuk Ajax pada periode 1980-1986, kemudian 10 trofi diraih Vanenburg kepada PSV. Koleksi gelar juara itu termasuk gelar Piala Champions Eropa (kini Liga Champions) edisi 1987-1988.
Musim panas 1988 adalah momen terindah dalam karier Vanenburg. Ia memberikan tiga trofi bagi PSV yang terdiri dari Liga Belanda, Piala KNVB, dan Piala Champions. Kemudian, ia masuk dalam skuad utama tim nasional Belanda yang mengangkat trofi Piala Eropa 1988 di Jerman Barat.
Vanenburg, yang identik dengan nomor delapan di klub, mencatatkan 660 penampilan dengan sumbangan 168 gol dan 146 asis sebagai pemain. Selain duo raksasa Belanda, Vanenburg sempat merantau ke Jepang (Jubilo Iwata), Perancis (Cannes), dan Jerman (1860 Munich). Ia juga mencatatkan 42 cap bersama timnas Belanda.
Setelah gantung sepatu, Vanenburg mencoba peruntungan sebagai pelatih. Namun, karier kepelatihannya tak secemerlang ketika masih menjadi pemain.
Sempat menjadi pelatih sementara 1860 Muenchen pada pengujung musim 2003-2004, Vanenburg menjalani periode singkat menangani Helmond Sport dan FC Eindhoven pada periode 2006 hingga 2008. Ia hanya masing-masing menjalani 10 pertandingan di dua tim itu.
Vanenburg baru mendapat nasib yang baik sebagai juru taktik ketika berperan di belakang layar. Ia memulai itu sebagai asisten pelatih Willem II yang diawali menerima ajakan Andries Jonker pada musim 2008-2009.
Kemudian, sosok berusia 60 tahun itu kembali ke klub remajanya, Ajax Amsterdam, untuk menjadi staf pelatih di tim U-17 hingga U-21 pada medio 2020 hingga 2023. Peran di belakang layar itu membantu Vanenburg memaksimalkan kekayaan pengalamannya sebagai pemain.
Ketika masih bermain, ia adalah salah satu pemain sayap terbaik Belanda di generasinya. Bermain di pos sayap kanan, Vanenburg memiliki kecepatan, kemampuan dribel ciamik, teknik cutting inside yang mematikan, dan umpan silang akurat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/ba2fec1f03ba4e1cf544751afbd95264-WhatsApp_Image_2025_01_25_at_16.09.43.jpeg)
Bekal skill itu membantu Vanenburg mengembangkan karier-karier anak muda di tim Ajax junior, terutama mereka yang berperan di sisi luar lini serang. Pemain-pemain lulusan Akademi Ajax yang pernah mendapat didikan langsung dari Vanenburg, antara lain Mohammed Kudus (West Ham United), Mohamed Daramy (Stade Reims), Mohamed Ihattaren (RKC Waalwijk), Naci Unuvar (Twente), dan Brian Brobbey (Ajax Amsterdam).
Tangan dingin Vanenburg memoles pemain-pemain berpotensi di Akademi Ajax yang mulai meniti karier profesional itu diharapkan bisa ditularkan di timnas Indonesia serta tim U-17 dan U-20. Serupa dengan Ajax dan Belanda, Indonesia juga disesaki pemain-pemain sayap cepat dan berkemampuan individu mumpuni.
Egy Maulana Vikri, Witan Sulaeman, Yakob Sayuri, Rafael Struick, Ragnar Oratmangoen, Yakob Sayuri, Malik Risaldi, dan Saddil Ramdani adalah pemain-pemain depan sayap yang ada di timnas Indonesia saat ini. Daftar itu bisa ditambah jika Ole Romeny telah merampungkan proses naturalisasi.
Apabila merujuk posisi dan gaya bermain, Vanenburg sebagai pemain memiliki kemiripan dengan Yakob dan Malik. Mereka dominan bergerak dari kanan, memiliki umpan akurat, dan kerap berkontribusi gol untuk timnya.
”Pengalamannya yang luas, baik sebagai pemain maupun pelatih, akan melengkapi tim kepelatihan dan berkontribusi untuk membawa sepak bola Indonesia ke tingkat berikutnya,” ujar Kluivert tentang bergabungnya Vanenburg sebagai mitranya di skuad ”Garuda”.
Kebersamaan Kluivert dengan Vanenburg melahirkan harapan untuk pembenahan dari masalah ketajaman para penyerang Indonesia. Garuda perlu mencetak lebih banyak gol untuk mengantisipasi perhitungan selisih gol yang menjadi penentu klasemen akhir Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/5e677766-e2b6-4566-9b40-60403857a5c7_jpg.jpg)
Dalam enam gim di putaran ketiga, Indonesia sudah mencetak enam gol. Tetapi, peran dua penyerang utama, Rafael dan Ragnar, masih amat kurang karena baru menghasilkan sebuah gol. Dua pemain itu mencetak gol berbarengan ketika menghadapi Bahrain.
Pemain-pemain sayap Indonesia pun belum mampu menjadi pencetak gol alternatif bagi tim Garuda. Indonesia kurang memiliki sosok ”supersub” di lini depan yang bisa hadirkan perbedaan dari bangku cadangan.
Selain membantu timnas, Vanenburg juga diberi tugas untuk menjadi pelatih tim U-23 Indonesia. Peran utamanya adalah mempersiapkan tim untuk bertarung di SEA Games 2025 serta kualifikasi Piala Asia U-23 2026.
Tugas itu tidak mudah. Sebab, Vanenburg akan ditantang mempertahankan medali emas di SEA Games 2025 yang berlangsung di Thailand.
Menariknya, SEA Games 2025 akan menjadi turnamen yang murni diikuti oleh pemain di bawah 23 tahun. Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) telah menghapus aturan tiga pemain senior yang bisa diikutsertakan pada muticabang ASEAN itu.
Kondisi itu menjadikan SEA Games 2025 sebagai kesempatan Vanenburg mempersiapkan regenerasi untuk timnas Indonesia. Terlepas potensi menaturalisasi sejumlah pemain dari Belanda, Vanenburg juga perlu memaksimalkan aset pemain yang berkarier di Liga 1 Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/17/9b671eee-e4c2-4e96-850b-0a219460282a_jpg.jpg)
Bayangan tim untuk SEA Games adalah skuad yang tampil di Piala AFF 2024 lalu. Kegagalan menembus semifinal membuat Vanenburg harus kerja keras untuk memaksimalkan potensi para pemain muda demi membawa pulang medali emas.
Selain memegang langsung tim U-23, Vanenburg juga memiliki tugas berkolaborasi dengan Pelatih tim U-20 Indra Sjafri dan Pelatih tim U-17 Nova Arianto untuk menyelaraskan program dengan timnas Indonesia.
Hal itu diperlukan demi menyatukan filosofi permainan sehingga para pemain remaja Indonesia memahami pemahaman lebih dini sebelum memiliki kesempatan tampil bersama skuad Garuda.
Tugas itu tentu tidak mudah. Dengan dipayungi target lolos ke Piala Dunia U-20 dan U-17 2025, dua pelatih tersebut tentu akan memilih menerapkan taktik bermain mereka dibandingkan mengadopsi gaya baru yang ingin diinisiasi Kluivert dan timnya.
Meski begitu, berbekal kesungguhan untuk menjalani setiap tanggung jawab yang diberikan kepadanya, Vanenburg tidak mustahil bisa menjalankan tugas barunya yang diberikan PSSI dengan optimal.
”Saya sangat bangga atas kesempatan ini. Saya akan memberikan segenap hati saya,” kata Vanenburg.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari