Pidato perdana Paus Leo XIV menegaskan perlunya membangun jembatan, berdialog, selalu terbuka untuk menerima semua orang dengan tangan terbuka.
09 Mei 2025 11:50 WIB · Internasional
Paus Leo XIV memberikan pesan perdana sebagai paus dengan ajakan agar Gereja membangun jembatan dengan dialog dan perjumpaan. Paus mendorong penciptaan perdamaian dan membuka hubungan dan keterbukaan di seluruh dunia.
”Umat manusia membutuhkan Dia seperti sebuah jembatan untuk mencapai Allah dan kasih-Nya. Anda membantu kami membangun jembatan dengan dialog dan perjumpaan sehingga kami semua dapat menjadi satu umat yang selalu damai,” kata Paus Leo XIV di balkon Basilika Santo Petrus, Kamis (8/5/2025), sembari mengenang Paus Fransiskus.
”Kita harus bersama-sama mencari cara untuk menjadi Gereja yang misioner, membangun jembatan, berdialog, selalu terbuka untuk menerima dengan tangan terbuka untuk semua orang, seperti alun-alun ini, terbuka untuk semua orang, untuk semua orang yang membutuhkan cinta kasih kita, kehadiran kita, dialog kita, cinta kasih,” ujar Paus.
”Kepada semua saudara dan saudari di Roma, Italia, di seluruh dunia, kita ingin menjadi sebuah gereja sinodal, berjalan dan selalu mencari kedamaian, cinta kasih, kedekatan, terutama kepada mereka yang menderita,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/65af99aecd79212938831af21185b5b3-AP25128663671026.jpg)
Dosen Etika Universitas Sanata Dhama, CB Kusmaryanto SCJ, yang dihubungi pada Jumat (9/5/2025) mengatakan, pernyataan Paus Leo membangun jembatan maknanya sangat mendalam. Ada banyak konflik terjadi karena tidak terjalin komunikasi dan perjumpaan.
Gereja harus menjadi jembatan bagi berbagai aliran yang ada di dalam ataupun di luar gereja, terutama menjembatani pergaulan dunia. Kusmaryanto mengingatkan pentingnya membangun jembatan kemanusiaan.
Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membangun pagar sepanjang perbatasan AS-Meksiko, mendiang Paus Fransiskus menentang kebijakan itu. ”Orang Kristiani seharusnya membuat jembatan dan bukan tembok pemisah. Inilah makna sesungguhnya untuk menjadi penghubung dan bukan menciptakan tembok penghalang yang memisahkan manusia,” katanya.
Memisah-misahkan manusia akan menciptakan dan memperdalam konflik. Perbedaan itu harus dijembatani dan dipadukan sehingga menjadi keindahan serta keselarasan.
Faktor latar belakang Paus Leo XIV yang kelahiran Amerika Serikat dan berkarya di negara berkembang, menurut Kusmaryano, turut melatari gagasan soal gereja menjadi jembatan.
”Beliau lama menjadi rohaniwan dan Uskup di wilayah perdesaan di Peru, Amerika Latin. Paus Leo mengenal dua dunia yang berbeda sehingga memudahkan beliau memahami perbedaan dan menciptakan jembatan untuk menghubungkan berbagai pihak,” kata Kusmaryanto.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/20/c98c5ac8-cf6d-438b-b65c-78b4d8fcfdc9.jpg)
Rektor STFT Widya Sasana, Malang, Jawa Timur, Armada CM yang dihubungi pada Jumat (9/5/2025) mengatakan, terpilihnya Paus Leo XIV adalah sukacita bagi Gereja Katolik dan dunia. Dalam sejarah peradaban modern, kehadiran pemimpin kemanusiaan dan perdamaian dinantikan oleh semua orang.
Sosok paus bukan saja melayani gereja, melainkan juga kemanusiaan melalui ajaran, seruan, dan teladan yang diberikan.
Paus Leo XIV melanjutkan pendahulunya, Paus Leo XIII, yang menerbitkan ensiklik Rerum Novarum, ajaran sosial Gereja Katolik tentang hal-hal baru dan modern. Ensiklik itu menandai peradaban baru, keterlibatan dan keprihatinan terhadap masalah sosial yang menjadi ensiklik pertama ajaran sosial Gereja Katolik.
Paus Leo XIV menegaskan ingin membangun jembatan, yakni jembatan-jembatan perdamaian bagi dunia melalui dialog dan saling menghormati. ”Kejahatan tidak akan menang. Itu tegas disampaikan Paus,” kata Armada.
Dari kepribadiannya, Kardinal Robert Prevost adalah seorang sederhana dari Ordo Santo Agustinus. Ordo ini kecil dari segi jumlah, tetapi kuat dalam menjaga tradisi. Ia lahir di Chicago dari ibu Spanyol dan ayah Perancis-Italia.
Setelah menempuh pendidikan matematika dan kemudian belajar teologia, dia menjadi misionaris di Peru dan menjadi warga negara Peru (2015). Dia menjadi uskup di Chiclayo, Peru.
Prevost menjadi tangan kanan Paus Fransiskus di Kongregasi Suci para Uskup. ”Itu berarti Leo XIV memiliki jiwa misioner yang nyata. Gereja Katolik adalah gereja misi yang melayani masyarakat,” kata Armada.
Dia menerangkan, Uskup Prevost banyak bekerja di antara orang miskin dan menangani isu lingkungan hidup di Peru. Kiranya, Paus akan merangkul kaum miskin dan peduli terhadap lingkungan hidup.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/27/726e5f47aa15a330337cc2a0dbf2d450-063_2195941473.jpg)
Cindy Kristanto, diaspora Indonesia yang bermukim di Chicago, tempat kelahiran Paus Leo XIV, mengatakan, warga terlihat antusias menanggapi Paus baru.
Menurut dia, pada Februari 2025, Kardinal Prevost menyanggah ujaran Wakil Presiden AS JD Vance yang mengatakan kasih sayang dan pertolongan harus diprioritaskan kepada lingkaran terdekat. Ketika itu Kardinal Prevost mengatakan, kasih Tuhan diberikan sama bagi semua orang dan tidak boleh membedakan orang asing. Hal itu menjadi perbicangan publik di Amerika Serikat.
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra