Hari pemakaman Paus Fransiskus menjadi ajang bina damai dan merangkul orang terpinggirkan. Di tengah perang yang terus membara di berbagai negara, anjuran mendiang semakin relevan.
Upaya bina damai terlihat dalam pertemuan para Presiden Amerika Serikat, Perancis, dan Ukraina sebelum upacara pemakaman dimulai, Sabtu (26/4/2025). Di Vatikan, Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan perdamaian Ukraina-Rusia semakin dekat.
Pemakaman yang jadi ajang pertemuan pemimpin puluhan negara itu memang sulit dilepaskan dari status forum diplomatik. Tidak banyak acara yang bisa mengumpulkan begitu banyak petinggi berbagai negara di satu tempat dan waktu. Berbagai isu dibahas, termasuk bina damai.
Pada homili terakhir yang disusunnya, Paus membahas perdamaian. Dalam berbagai doa, khotbah, dan pernyataan, mendiang Paus selalu membahas isu perdamaian.
Konsistensi itu tidak selalu disukai. Pemerintah Israel menghapus unggahan dukacita atas wafatnya Paus Fransiskus. Alasannya, Paus konsisten meminta Israel menghentikan serangan di Gaza. Bagi Israel, permintaan itu tidak adil.
Paus juga konsisten meminta perang Ukraina dihentikan. Dihentikan. Bukan sekadar dijeda lewat gencatan senjata.
Sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus pernah mencium kaki petinggi Sudan Selatan. Hal itu bagian dari upaya Paus mendorong penghentian perang di sana. Paus akan melakukan apa pun demi mendorong perdamaian.
Memang, perang tidak serta-merta berhenti setelah aneka usaha keras Paus atau pertemuan petinggi negara di pemakaman Paus. Karena itu, seperti dicontohkan Paus, upaya-upaya bina damai tidak boleh berhenti.
Usaha mendorong perdamaian harus lebih keras dari keinginan untuk meneruskan baku tembak. Niat baik harus lebih teguh dibandingkan dengan tekad saling menghancurkan.
Orang tersisih
Paus juga konsisten memperhatikan orang tersisih. Orang-orang itu mendapat tempat istimewa di rangkaian acara pemakaman Paus. Mereka menyambut peti jenazah Paus sebelum memasuki Basilika Santa Maria Maggiore.
Sepanjang masa pelayanannya, sejak menjadi pastor sampai Paus, Fransiskus memang perhatian kepada orang terpinggirkan. Ia memilih Fransiskus sebagai nama setelah menjadi Paus. Santo Fransiskus dari Asisi terkenal pada pelayanannya pada orang-orang terpinggirkan.
Paus Fransiskus mengajarkan, salah satu ukuran kemanusiaan adalah kemampuan merangkul orang-orang lemah dan terpinggirkan. Tidak ada manusia yang secara sukarela mau menjadi bagian kelompok tersisih.
Orang-orang tersisih itu, antara lain, ialah imigran gelap dari Afrika dan Asia. Mereka terpaksa menempuh bahaya demi penghidupan lebih baik di benua lain. Sebab, kampung halaman mereka menawarkan lebih banyak mimpi buruk.
Sejumlah negara Asia dan Afrika bergulat dengan perang puluhan tahun. Sejumlah pihak di Eropa dan Amerika Utara untung besar dari perang berkepanjangan itu.
Berbagai negara Afrika dan Asia juga menjadi korban utama dampak perubahan iklim. Padahal, kontributor terbesar penyebab perubahan iklim berada di Amerika dan Eropa. Tidak adil, kata Paus.
Dorongan pada keadilan di berbagai sektor tidak hanya dilakukan Paus. Bedanya, Paus punya posisi khusus untuk menyuarakan hal itu. Paus, kata Duta Besar RI untuk Vatikan Michael Trias Kuncahyono, adalah kekuatan moral yang menjadi kompas.
Paus bisa melakukan itu karena tidak punya kepentingan tersembunyi untuk melakukan berbagai hal. Sepatu lusuhnya menunjukkan, Paus tidak mungkin punya misi bisnis tersembunyi dalam mendorong perdamaian di Ukraina atau Gaza.
Tidak mungkin pula Paus punya motif politik kala mengingatkan pemimpin berbagai negara untuk menerima imigran. Paus, karena pilihan pelayanannya, adalah seorang migran dan peziarah. Ia meninggalkan rumah keluarganya, lalu mendatangi berbagai tempat untuk melayani.
Memang, seperti unggahan yang dihapus Israel, banyak orang tidak sepakat dengan Paus. Bahkan, banyak pula yang mengkritik mendiang karena beragam alasan.
Meski demikian, dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, Paus telah berusaha sekeras-kerasnya. Setelah Paus wafat, usaha-usaha itu perlu diteruskan. Sebab, perang masih membara di mana-mana. imigran masih mengalir.
Hari pemakaman Paus Fransiskus menjadi ajang bina damai dan merangkul orang terpinggirkan. Di tengah perang yang terus membara di berbagai negara, anjuran mendiang semakin relevan.
Upaya bina damai terlihat dalam pertemuan para Presiden Amerika Serikat, Perancis, dan Ukraina sebelum upacara pemakaman dimulai, Sabtu (26/4/2025). Di Vatikan, Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan perdamaian Ukraina-Rusia semakin dekat.
Serial Artikel
Paus Fransiskus dan Sepasang Sepatu Pantofel Hitam yang Sederhana
Sepatu hitam menjadi simbol kesederhanaan Paus Fransiskus. Pada umumnya, Paus mengenakan sepatu berwarna merah dari beludru atau sutra berhiaskan sulaman salib emas.
Pemakaman yang jadi ajang pertemuan pemimpin puluhan negara itu memang sulit dilepaskan dari status forum diplomatik. Tidak banyak acara yang bisa mengumpulkan begitu banyak petinggi berbagai negara di satu tempat dan waktu. Berbagai isu dibahas, termasuk bina damai.
Pada homili terakhir yang disusunnya, Paus membahas perdamaian. Dalam berbagai doa, khotbah, dan pernyataan, mendiang Paus selalu membahas isu perdamaian.
Konsistensi itu tidak selalu disukai. Pemerintah Israel menghapus unggahan dukacita atas wafatnya Paus Fransiskus. Alasannya, Paus konsisten meminta Israel menghentikan serangan di Gaza. Bagi Israel, permintaan itu tidak adil.
Paus juga konsisten meminta perang Ukraina dihentikan. Dihentikan. Bukan sekadar dijeda lewat gencatan senjata.
Sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus pernah mencium kaki petinggi Sudan Selatan. Hal itu bagian dari upaya Paus mendorong penghentian perang di sana. Paus akan melakukan apa pun demi mendorong perdamaian.
Memang, perang tidak serta-merta berhenti setelah aneka usaha keras Paus atau pertemuan petinggi negara di pemakaman Paus. Karena itu, seperti dicontohkan Paus, upaya-upaya bina damai tidak boleh berhenti.
Usaha mendorong perdamaian harus lebih keras dari keinginan untuk meneruskan baku tembak. Niat baik harus lebih teguh dibandingkan dengan tekad saling menghancurkan.
Serial Artikel
Paus Fransiskus Menebar Damai di ”Negeri Terluka”
Paus Fransiskus beberapa kali menyinggung Irak lewat medsos dan pernyataan langsung. Umat Katolik dan minoritas lainnya di Irak berhak mendapatkan hak dan perlindungan seperti mayoritas.
Paus juga konsisten memperhatikan orang tersisih. Orang-orang itu mendapat tempat istimewa di rangkaian acara pemakaman Paus. Mereka menyambut peti jenazah Paus sebelum memasuki Basilika Santa Maria Maggiore.
Sepanjang masa pelayanannya, sejak menjadi pastor sampai Paus, Fransiskus memang perhatian kepada orang terpinggirkan. Ia memilih Fransiskus sebagai nama setelah menjadi Paus. Santo Fransiskus dari Asisi terkenal pada pelayanannya pada orang-orang terpinggirkan.
Paus Fransiskus mengajarkan, salah satu ukuran kemanusiaan adalah kemampuan merangkul orang-orang lemah dan terpinggirkan. Tidak ada manusia yang secara sukarela mau menjadi bagian kelompok tersisih.
Orang-orang tersisih itu, antara lain, ialah imigran gelap dari Afrika dan Asia. Mereka terpaksa menempuh bahaya demi penghidupan lebih baik di benua lain. Sebab, kampung halaman mereka menawarkan lebih banyak mimpi buruk.
Sejumlah negara Asia dan Afrika bergulat dengan perang puluhan tahun. Sejumlah pihak di Eropa dan Amerika Utara untung besar dari perang berkepanjangan itu.
Serial Artikel
Paus Fransiskus, Seruan Tak Henti Soal Krisis Iklim
Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin umat yang kritis pada isu-isu terkait darurat iklim dan mengajak komunitas internasional mengatasinya.
Berbagai negara Afrika dan Asia juga menjadi korban utama dampak perubahan iklim. Padahal, kontributor terbesar penyebab perubahan iklim berada di Amerika dan Eropa. Tidak adil, kata Paus.
Dorongan pada keadilan di berbagai sektor tidak hanya dilakukan Paus. Bedanya, Paus punya posisi khusus untuk menyuarakan hal itu. Paus, kata Duta Besar RI untuk Vatikan Michael Trias Kuncahyono, adalah kekuatan moral yang menjadi kompas.
Paus bisa melakukan itu karena tidak punya kepentingan tersembunyi untuk melakukan berbagai hal. Sepatu lusuhnya menunjukkan, Paus tidak mungkin punya misi bisnis tersembunyi dalam mendorong perdamaian di Ukraina atau Gaza.
Tidak mungkin pula Paus punya motif politik kala mengingatkan pemimpin berbagai negara untuk menerima imigran. Paus, karena pilihan pelayanannya, adalah seorang migran dan peziarah. Ia meninggalkan rumah keluarganya, lalu mendatangi berbagai tempat untuk melayani.
Memang, seperti unggahan yang dihapus Israel, banyak orang tidak sepakat dengan Paus. Bahkan, banyak pula yang mengkritik mendiang karena beragam alasan.
Meski demikian, dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, Paus telah berusaha sekeras-kerasnya. Setelah Paus wafat, usaha-usaha itu perlu diteruskan. Sebab, perang masih membara di mana-mana. imigran masih mengalir.