Gerhana Matahari sebagian terjadi di belahan Bumi utara, Sabtu (29/3/2025). Puncak gerhana berlangsung 10 menit sebelum konjungsi awal bulan Syawal 1446/2025.
29 Mar 2025 16:42 WIB · Humaniora
Gerhana Matahari sebagian akan berlangsung pada Sabtu (29/3/2025) mulai pukul 15.51 WIB hingga 19.44 WIB. Gerhana ini hanya bisa dinikmati di timur Kanada, utara Samudera Atlantik, barat laut Afrika, sebagian besar Eropa, dan utara Asia. Gerhana ini tidak bisa disaksikan di Indonesia.
Puncak gerhana berlangsung pada pukul 17.47 WIB saat 93 persen piringan Matahari tertutup oleh bundaran Bulan yang bisa diamati di timur Kanada. Puncak gerhana Matahari sebagian ini berlangsung 10 menit sebelum terjadinya konjungsi atau ijtimak yang menunjukkan kesegarisan Matahari, Bulan (moon), dan Bumi.
Dengan kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi saat berlangsungnya konjungsi, gerhana Matahari sejatinya adalah konjungsi yang bisa diamati. Baik konjungsi maupun gerhana Matahari akan selalu terjadi saat fase Bulan mati.
Namun, bukan berarti setelah gerhana Matahari atau konjungsi, otomatis langsung masuk awal bulan baru Hijriah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/21/antarafoto-gerhana_1592737504.jpg)
Konjungsi yang menjadi batas dari akhir (month) Ramadhan dan awal bulan Syawal 1446 kali ini terjadi pada Sabtu (29/3/2025) pukul 17.57 WIB. Banyak warga menganggap setelah terjadi konjungsi, otomatis setelah Matahari terbenam akan langsung masuk awal bulan hijriah baru.
Pandangan keliru yang jadi perdebatan warganet ini muncul saat terjadi perbedaan hari Idul Fitri, seperti yang terjadi pada tahun 2023.
Kalender hijriah adalah kalender astronomis. Karena itu, tanda masuk atau awal bulannya ditentukan berdasarkan posisi hilal, baik yang mengharuskan hilal teramati atau cukup hilal eksistensi yang tidak memerlukan bukti teramati.
Hilal adalah Bulan sabit supertipis pertama yang terbentuk atau terlihat setelah Matahari terbenam pascaterjadinya konjungsi. Definisi atau kriteria hilal awal bulan hijriah ini beragam, belum ada kesepakatan tunggal, baik dalam lingkup Indonesia maupun dunia Islam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/ff742d74114aa31f6372306b4547904f-250329_lokasi_gerhana_sebagian.jpg)
Ketentuan soal hilal itulah yang membedakan kalender Islam dengan kalender lunar lain yang umumnya merupakan kalender matematis. Dalam kalender matematis, awal bulannya biasa ditentukan bertepatan dengan saat fase Bulan mati atau hari terjadinya konjungsi.
Karena itu, dalam kalender hijriah, gerhana Matahari tidak otomatis menjadi tanda datangnya bulan hijriah baru. Gerhana Matahari atau konjungsi sama-sama menunjukkan dimulainya fase Bulan baru yang menjadi dasar dalam penentuan awal bulan hijriah.
Bagi yang menganut penentuan awal bulan hijriah berdasar rukyat, saat Matahari terbenam setelah terjadi konjungsi akan dilakukan rukyat atau pengamatan hilal. Selain untuk membuktikan keberadaan hilal, pengamatan ini untuk membuktikan perhitungan atas posisi hilal yang telah dilakukan.
Di Indonesia, pengamatan hilal dilakukan di banyak lokasi yang dilakukan astronom dari pesantren ataupun perguruan tinggi hingga petugas dari sejumlah lembaga pemerintah. Jika hilal berhasil diamati di salah satu lokasi pengamatan, esok akan masuk bulan hijriah baru. Jika tidak teramati, umur bulan hijriah berjalan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Sementara itu, bagi yang menganut metode hisab atau eksistensi hilal, setelah terjadi konjungsi akan dilakukan perhitungan posisi hilal terhadap benda langit yang lain.
Perhitungan ini untuk memastikan bahwa saat Matahari terbenam, hilal sudah di atas ufuk dan Matahari terbenam lebih dulu dibanding Bulan. Jika hilal masih di bawah ufuk dan Bulan tenggelam lebih dulu dari Matahari, itu artinya esok hari masih masuk dalam bagian bulan hijriah berjalan.
Selain itu, menurut dosen Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan Institut Teknologi Sumatera Moedji Raharto, gerhana Matahari adalah fenomena toposentrik atau yang terjadi di permukaan Bumi (Kompas, 20/4/2023). Gerhana Matahari bisa terjadi di sekitar waktu konjungsi, baik sebelum maupun sesudah konjungsi.
Selama tiga tahun terakhir, Idul Fitri senantiasa berlangsung bersamaan dengan terjadinya gerhana Matahari.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/04/20/bd8826e0-4aae-4725-9be0-bdd2df630200_jpg.jpg)
Sementara hilal yang menjadi penanda awal bulan hijriah adalah fenomena geosentrik alias posisi hilal ditentukan dari posisi Matahari dan Bulan dari inti atau pusat keduanya. Dengan demikian, saat dilihat dari permukaan Bumi saat Matahari terbenam, hilal akan memiliki tinggi dan elongasi alias jarak sudut tertentu.
Karena itu, terjadinya gerhana Matahari dan awal bulan hijriah yang hampir bersamaan merupakan hal wajar mengingat dua peristiwa itu sama-sama mengacu pada fenomena sama, yaitu kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi. Namun, bukan berarti setelah gerhana Matahari atau konjungsi maka otomatis langsung masuk awal bulan baru hijriah.
Meski demikian, gerhana Matahari tidak terjadi di setiap terjadinya konjungsi. Situsi ini dipicu oleh bidang edar Bulan mengelilingi Bumi yang tidak berimpitan dengan bidang orbit Bumi memutari Matahari.
Bidang orbit Bulan miring 5 derajat terhadap bidang edar Bumi. Gerhana Matahari hanya akan terjadi saat konjungsi jika lintang ekliptika Bulan berkisar antara 0-1 derajat. Jika lintang ekliptika Bulan saat konjungsi mencapai 1-5 derajat, gerhana Matahari tidak akan terjadi.
Selama tiga tahun terakhir, Idul Fitri senantiasa berlangsung bersamaan dengan terjadinya gerhana Matahari. Namun, hanya Idul Fitri dan gerhana Matahari 2023 yang menimbulkan perdebatan di media sosial mengingat saat itu terjadi perbedaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.
Idul Fitri 1444/2023 bersamaan gerhana Matahari hibrida 20 April 2023 yang bisa diamati dari Maluku dan Papua. Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1444 pada 22 April 2023, sedangkan warga yang memakai hisab berlebaran pada 21 April 2023 atau sehari sebelumnya. Perbedaan hari raya ini akibat definsi hilal yang dipakai belum seragam.
Berikutnya adalah Idul Fitri 1445/2024 yang terjadi berbarengan dengan gerhana Matahari total pada 9 April 2024 yang bisa disaksikan di Amerika Utara. Saat itu juga terjadi peritiswa Bulan baru super (super new moon) yang berlangsung saat Bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/10/29608c3b-6ff0-4e56-8713-64c20b837dd5_jpg.jpg)
Ketika itu, Hari Idul Fitri 1445 di Indonesia dirayakan secara bersamaan pada 10 April 2024, baik yang menggunakan rukyat atau hisab dalam penentuan awal bulan hijriah.
Terakhir, Idul Fitri 1446/2025 terjadi bersamaan dengan gerhana Matahari sebagian pada 29 Maret 2025. Kemungkinan besar, Idul Fitri di Indonesia akan terjadi bersamaan dengan yang ditetapkan pemerintah, yaitu Senin, 31 Maret 2025. Namun, keputusan ini masih akan menanti hasil pengamatan hilal dan sidang isbat yang akan dilakukan pada Sabtu petang.
Kesamaan Idul Fitri 1446/2025 itu terjadi setelah posisi hilal pada Sabtu atau 30 Ramadhan 1446 sama-sama tidak memenuhi kriteria penentuan awal bulan hijriah yang digunakan pengamal hisab atau rukyat.
Karena konjungsi terjadi pada Sabtu pukul 17.57 WIB, saat Matahari terbenam atau maghrib pada Sabtu petang akan jadi dasar penentuan awal bulan hijriah.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, posisi hilal di Indonesia pada Sabtu petang berkisar antara minus 3,29 derajat di Merauke, Papua Selatan hingga minus 1,07 derajat di Sabang, Aceh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/6022ccb3-dfc9-4a3a-97d4-2c9da4fdff1c.jpg)
Artinya, hilal pada Sabtu petang masih berada di bawah ufuk atau cakrawala. Dengan kondisi ini, hilal dipastikan tidak bisa diamati atau dirukyat. Secara hisab pun, tinggi hilal yang negatif belum memenuhi kriteria awal bulan kalender hijriah yang menyaratkan hilal sudah harus di atas ufuk.
Sementara itu, elongasi atau jarak sudut Bulan-Matahari pada Sabtu petang mencapai 1,06 derajat di Kebumen, Jawa Tengah, hingga 1,61 derajat di Oksibil, Papua Pegunungan.
Nilai elongasi geosentrik ini jauh lebih kecil dari batas minimal elongasi yang digunakan dalam kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang menyaratkan hilal bisa diamati jika elongasinya minimal 6,4 derajat.
Meski Idul Fitri 1446/2025 kemungkinan besar akan dirayakan umat Islam Indonesia secara bersamaan, ada potensi perbedaan Idul Fitri dengan negara-negara Arab atau negara-negara di belahan Bumi barat.
Elongasi yang terlalu kecil membuat posisi Bulan masih terlalu dekat dengan Matahari sehingga sulit untuk dipisahkan cahanyanya. Hal ini karena posisi Matahari dan Bulan adalah segaris saat terjadinya konjungsi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/01/fa21716a-b5c8-4789-877c-b9c1d178f452.jpg)
Dengan demikian, secara elongasi, hilal pada Sabtu petang juga mustahil bisa diamati. Terlebih posisi hilal juga masih di bawah ufuk sehingga baik dari aspek tinggi dan elongasi, hilal benar-benar tidak teramati.
Oleh sebab hilal tidak mungkin diamati pada Sabtu petang, sidang isbat pada Sabtu (29/3/2025) malam kemungkinan akan menetapkan umur bulan Ramadhan jadi 30 hari karena usia bulan dalam kalender hijriah hanya bisa 29 hari atau 30 hari. Jadi, Idul Fitri 1 Syawal 1446/2025 berpotensi besar akan jatuh pada Senin, 31 Maret 2025.
Meski Idul Fitri 1446/2025 kemungkinan besar akan dirayakan umat Islam Indonesia secara bersamaan, ada potensi perbedaan Idul Fitri dengan negara-negara Arab atau negara-negara di belahan Bumi barat. Kepastiannya menanti dari pengamatan hilal di masing-masing negara.
Apa pun nanti hasilnya, selamat menyambut Idul Fitri 1446/2025. Mohon maaf lahir dan batin, semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kita semua.
Penulis:
Muchamad Zaid WahyudiEditor:
Evy Rachmawati