Gianluigi Donnarumma, Jembatan PSG Menuju Final Liga Champions

Paris Saint-Germain ke final Liga Champions pertama sejak 2020 seusai kalahkan Arsenal. Kiper Gianluigi Donnarumma mengambil peran sentral dalam kesuksesan itu.

08 Mei 2025 07:30 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

PARIS, KAMIS — Sepak bola mengenal batas-batas tipis yang menentukan hasil akhir suatu pertandingan. Dalam momen-momen krusial itu, ada beberapa pemain yang memang ditakdirkan menjadi penentu hasil akhir laga. Pada laga kedua Paris Saint-Germain kontra Arsenal, Kamis (8/5/2025) dini hari WIB, di Stadion Parc des Princes, Paris, Gianluigi Donnarumma mendapat kehormatan memanggul peran tersebut. Kontribusinya pada awal laga membawa PSG menang 2-1 sehingga unggul 3-1 secara agregat sekaligus merebut tiket final Liga Champions Eropa pertama sejak 2020.

Stadion Parc des Princes yang seharusnya adalah rumah ternyaman bagi PSG justru berubah menjadi neraka selama 15 menit pertama laga. Arsenal, yang butuh gol cepat untuk mengejar defisit gol seusai kalah 0-1 pada laga pertama di London, tampil menyerang sejak laga dimulai hingga memaksa PSG lebih banyak bertahan. Sejak menit-menit awal laga gempuran demi gempuran Arsenal sudah dilancarkan, di antaranya melalui aksi Declan Rice dan Martin Odegaard.

Arsenal tampil segila itu pada awal laga lantaran butuh mencetak gol secepat mungkin untuk membalikkan momentum. Kekalahan 0-1 pada laga pertama relatif mudah teratasi bila ”Meriam London” mampu mencetak gol sedari dini untuk menciptakan situasi imbang. Serangan Arsenal terasa lebih menggigit lantaran bisa tampil dengan kekuatan penuh. Gelandang Thomas Partey yang kembali bermain membuat Rice tidak terus fokus menjaga kedalaman sehingga bisa lebih leluasa meneror pertahanan PSG. 

Akan tetapi, momentum gemilang Arsenal di awal laga justru bisa dirusak oleh Donnarumma. Kiper timnas Italia tersebut menggagalkan sederet peluang emas Arsenal yang 99,9 persen menjadi gol. Donnarumma total mencatatkan tiga penyelamatan penting pada laga ini. Adapun penyelamatan paling krusial Donnarumma adalah menepis sepakan jarak jauh keras dari Odegaard.

Kiper Paris Saint-Germain Gianluigi Donnarumma (tengah) melompat untuk melakukan penyelamatan saat melawan Arsenal pada laga kedua semifinal Liga Champions Kamis (8/5/2025) dini hari WIB di Stadion Parc des Princes, Paris. PSG menang 2-1 pada laga itu dan berhak maju ke final.

Aksi Donnarumma menggagalkan upaya Odegaard membuat penonton terperanjat. Pasalnya, Arsenal bak berjarak hanya sepersekian milimeter dari gol. Tembakan Odegaard tampak mustahil bisa ditepis kiper biasa. Selain keras, pergerakan bola juga sulit diterka lantaran terhalang kerumunan pemain di dalam kotak penalti. Refleks luar biasa serta penempatan posisi berdiri yang tepat dari Donnarumma menyelamatkan gawang PSG dari kebobolan secara prematur. Berkat penyelamatan itu, para pemain Arsenal semakin frustrasi dengan keadaan.

”Sungguh menyedihkan. Awal pertandingan kami sangat dominan. Jika Anda mencetak satu peluang dalam 15-20 menit pertama, permainan akan berubah total. Itulah batas tipis dalam sepak bola. Rasanya ini seperti tidak seharusnya terjadi. Kami telah memberikan segalanya dalam kompetisi ini. Dalam dua pertandingan, kami seharusnya bisa mencetak tiga atau empat gol, tetapi Donnarumma tampil luar biasa,” ujar Rice seusai laga, Kamis (8/5/2025) dini hari WIB. 

Rice patut menyesali kegagalan timnya membobol gawang PSG sejak awal. Jika upaya sundulannya serta sepakan Odegaard masuk, hasil akhir bisa sama sekali berubah. Arsenal mengincar gol cepat untuk meruntuhkan kepercayaan diri PSG di markasnya. Selain itu, gol pada menit-menit awal sudah pasti akan menjadikan laga berada di bawah kendali Arsenal seutuhnya.

Setelah terbentur tembok kokoh Donnarumma, upaya Arsenal mengejar defisit gol kian runyam setelah Fabian Ruiz mencetak gol pembuka untuk PSG. Gol Ruiz berawal dari bola muntah hasil eksekusi tendangan bebas. Ruiz bisa menerima bola muntah, lalu menembak tanpa pengawalan berarti dari barisan pertahanan Arsenal.

Pemain Paris Saint-Germain Fabian Ruiz (tengah) merayakan gol ke gawang Arsenal pada laga kedua semifinal Liga Champions Kamis (8/5/2025) dini hari WIB di Stadion Parc des Princes, Paris. PSG menang 2-1 pada laga itu dan berhak maju ke final.

PSG semakin di atas angin setelah Achraf Hakimi menggandakan keunggulan pada babak kedua. Beberapa saat sebelumnya, PSG bahkan nyaris menambah gol lewat penalti Vitinha. Namun, eksekusi penalti Vitinha terlampau lemah sehingga bisa dimentahkan David Raya.

Pertandingan berlangsung lebih imbang pada babak kedua. Arsenal dan PSG bergantian mengancam. Arsenal masih lebih dominan, tetapi mulai kerepotan menghalau serangan-serangan PSG yang memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di depan. Semua itu berkat kepiawaian Pelatih PSG Luis Enrique yang memaksa bek Arsenal cenderung kalah jumlah saat transisi sehingga menciptakan ruang untuk menembak.

”Luis Enrique telah melakukan pekerjaan yang luar biasa sejak ia tiba. Ia telah menciptakan tim yang fantastis, dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mewujudkannya. Ia merupakan seorang ahli,” kata Hakimi. 

Arsenal bisa memperkecil ketertinggalan lewat Bukayo Saka. Akan tetapi, upaya itu sudah terlambat menghentikan laju PSG. Meski Saka mencetak gol balasan, euforia kemenangan PSG tidak terelakkan. ”Kita di final, kita di final!” teriak para pendukung PSG.

Pemain Paris Saint-Germain Achraf Hakimi (kanan) menendang bola untuk mencetak gol ke gawang Arsenal pada laga kedua semifinal Liga Champions Kamis (8/5/2025) dini hari WIB di StadionParc des Princes, Paris. PSG menang 2-1 pada laga itu dan berhak maju ke final.

Kesuksesan PSG berawal dari kegemilangan Donnarumma. Gol penentu kemenangan PSG memang dicetak Ruiz dan Hakimi. Namun, tanpa sederet penyelamatan gemilang Donnarumma, jalannya laga akan berubah sama sekali dan gol Ruiz serta Hakimi barangkali tidak akan ada.

Pada laga final, PSG akan ditantang Inter Milan yang lebih dulu merebut tiket lolos. Final akan berlangsung di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, pada 1 Juni dini hari. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .