Giliran Messi Menjadi Korban Kedigdayaan PSG

Misi Messi menaklukkkan mantan klubnya gagal total. PSG terbangun dari tidur di awal turnamen, lalu menunjukkan dominasi sesungguhnya kepada Messi dan rekan-rekan.

30 Jun 2025 04:21 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

ATLANTA, MINGGU — Lionel Messi, bersama Inter Miami, sungguh tidak beruntung. Mereka harus berhadapan dengan Paris Saint-Germain yang mulai menemukan versi terbaik di Piala Dunia Antarklub 2025. Messi dan rekan-rekan dipaksa bertukuk lutut di hadapan PSG, di tanah sendiri.

Perbedaan kualitas terlihat jelas dalam laga babak 16 besar antara Inter versus PSG di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (29/6/2025) WIB. PSG hanya butuh satu babak untuk menang. Mereka sudah unggul 4-0 saat turun minum. Skor tersebut bertahan hingga akhir laga.

PSG, berstatus juara Liga Champions 2024-2025, membuka keunggulan lewat sundulan gelandang Joao Neves pada menit ke-6. Seusai mendominasi permainan sepanjang babak, tim asuhan Pelatih Luis Enrique itu menambah tiga gol hanya dalam rentang delapan menit di pengujung paruh pertama.

Statistik laga juga bisa memperlihatkan dominasi PSG. Mereka mencatat sepuluh kali tembakan, saat Inter tidak mampu menghasilkan satu pun. Duo penyerang legendaris Inter, Messi dan Luis Suarez, nyaris hanya membantu pertahanan. ”Babak pertama seperti pertumpahan darah,” kata Pelatih Kepala Inter Javier Mascherano.

Beruntung, Enrique masih punya hati. Dia menghormati Inter yang diisi banyak mantan pemainnya ketika masih melatih Barcelona, seperti Messi, Suarez, dan Mascherano. Enrique langsung mengganti pemain inti, Marquinhos dan Fabian Ruiz, tepat setelah turun minum. PSG tidak terlalu agresif lagi di paruh kedua.

Penyerang Inter Miami Lionel Messi menghalau sepakan dari bek Paris Saint-Germain Willian Pacho dalam laga babak 16 besar Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (29/6/2025) WIB. Messi lebih banyak membantu pertahanan tim ketimbang menyerang akibat permainan dominan dari PSG.

PSG, di laga tadi, mulai terlihat mendekati versi terbaik mereka. Penampilan dominan itu yang diperlihatkan pada akhir musim lalu, saat menaklukkan Eropa. Adapun PSG masih mencari ritme di babak grup Piala Dunia Antarklub sehingga kalah dari tim Brasil, Botafogo.

Menariknya, PSG belum turun dengan skuad terbaik. Penyerang andalan Ousmane Dembele baru kembali dari cedera dan tampil untuk pertama kali di turnamen pada paruh kedua. ”Kompetisi sesungguhnya baru dimulai. Kami mulai menghadapi laga penting dan kami bermain bagus,” ujar Dembele.

Tanpa Dembele, PSG turun dengan trio penyerang Khvicha Kvaratskhleia, Desire Doue, dan Bradley Barcola. Mereka tidak diam di satu posisi, selalu melakukan rotasi satu sama lain. Pergerakan dinamis tersebut sukses membuat bingung pertahanan Inter yang dipimpin bek sayap Jordi Alba.

Perbedaan timpang kedua tim terlihat dari posisi gelandang. PSG memiliki Vitinha yang berhasil mengontrol permainan di lini tengah. Dia mengatur tempo dengan sangat baik, tahu kapan bola harus ditahan atau diumpan ke lini depan. Inter salah besar karena tidak memberikan perhatian khusus kepadanya.

Dominasi Vitinha terlihat dari jumlah umpan sukses sebanyak 117 kali. Jumlah umpan itu paling banyak di antara kedua tim, bahkan nyaris dua kali lipat dibandingkan pemain kedua terbanyak Willian Pacho (67). Vitinha juga menghasilkan empat umpan kunci dan satu asis.

Bandingkan dengan gelandang jangkar Inter, Busquets, yang hanya membuat 35 kali umpan sukses selama 90 menit. Lebih buruk lagi, Busquets juga membuat blunder yang berujung gol kedua PSG. Vitinha jelas menang telak atas Busquets dalam pertarungan di lini tengah.

Penyerang Inter Miami Luis Suarez (kanan) berduel udara dengan bek PSG Marquinhos dalam laga babak 16 besar Piala Dunia Antarklub di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (29/6/2025) WIB. Suarez tidak mampu berbuat banyak di pertahanan PSG selama Marquinhos tampil. Adapun Marquinhos digantikan di babak kedua, setelah PSG unggul 4-0.

Busquets memang merupakan salah satu gelandang bertahan terbaik yang pernah ada. Namun, usia tidak bisa bohong. Dia sudah 36 tahun dan melewati fase emas. Vitinha, 25 tahun, sedang dalam masa prima. Kendala usia juga berlaku untuk Messi, Suarez, dan Alba.

Alba berkata, Inter kurang beruntung karena harus menghadapi tim sekuat PSG di awal babak gugur. ”Kami telah melampaui ekspektasi banyak orang di babak gugur. Namun, kami harus melawan tim terbaik saat ini. Itu sulit. Terlepas dari yang terjadi di paruh pertama, kami lebih baik setelah itu,” ucapnya.

Messi berkesempatan mencetak gol hiburan pada pengujung laga. Suarez memenangkan tendangan bebas tepat di depan kotak penalti. Penonton bersorak karena Messi mencetak gol dari posisi serupa saat babak grup. Namun, tendangan Messi hanya membentur pagar betis lawan.

Setelah Inter gugur, tidak ada lagi wakil tuan rumah Amerika Serikat yang tersisa di turnamen. PSG melaju ke babak selanjutnya dan akan bertemu pemenang antara Bayern Muenchen versus Flamengo. ”Kami akan menyaksikan laga itu. Siapa pun lawannya, akan tetap sulit,” kata Enrique.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto