Inter Miami Versus PSG, Nostalgia Satu Dekade Barcelona di Atlanta

Laga Inter Miami versus PSG menjadi panggung nostalgia skuad Barca pada satu dekade lalu. Messi dan rekan-rekan menantang sang mantan pelatih, Enrique, di Atlanta.

28 Jun 2025 17:42 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

ATLANTA, JUMAT — Sekitar sepuluh tahun lalu, Barcelona menciptakan salah satu musim terbaik dalam sejarah klub. Satu dekade berselang, aktor-aktor utama kesuksesan Barca akan berkumpul di Atlanta, tepatnya dalam laga 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 antara Inter Miami versus Paris Saint-Germain.

Ketika itu, musim 2014-2015, Barca yang dipimpin Pelatih Luis Enrique sukses meraih treble winner. Tim itu berisi banyak pemain legendaris, seperti Lionel Messi, Luis Suarez, Sergio Busquets, Jordi Alba, dan Javier Mascherano. Siapa sangka, mereka akan bersua di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Minggu (29/6/2025) pukul 23.00 WIB.

Enrique datang sebagai pelatih PSG. Di sisi lain, lima mantan anak asuhan Enrique tersebut membela Inter. Messi dan rekan-rekan masih bermain, kecuali Mascherano yang berstatus pelatih. Nuansa nostalgia pun tidak terhindarkan di tengah atmosfer turnamen yang mulai memanas.

”Saya punya hubungan spesial dengannya dan keluarga,” kata Mascherano saat ditanya soal kedekatan dengan Enrique. ”Pastinya akan menjadi momen sangat spesial untuk berhadapan dengannya. Kehormatan bagi saya bisa menghadapi pelatih hebat. Salah satu yang terhebat di karier saya,” ujarnya kemudian.

Mascherano menjadi bidak catur di lapangan untuk Enrique selama kurang lebih tiga tahun. Di laga nanti, Mascherano akan berperan sebagai ”pemain catur” untuk berhadapan satu lawan satu versus Enrique. Mereka akan saling beradu strategi untuk mengantar tim masing-masing lolos.

Pemain Inter Miami Lionel Messi (kiri) dan pemain PalmeirasLucas Evangelista berebut bola pada laga grup A Piala Dunia Antarklub 2025 di di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, ASMinggu (29/6/2025). Laga berakhir imbang 2-2.

Menurut Mascherano, PSG yang baru menjuarai Liga Champions Eropa adalah tim terbaik di Eropa saat ini. Kualitas mereka jelas jauh di atas Inter yang hanya berstatus juara bertahan Liga Amerika Serikat. Belum lagi Messi dan rekan-rekan sudah melewati usia emas, bukan lagi seperti sepuluh tahun lalu.

Meskipun begitu, kata Mascherano, Inter datang dengan motivasi lebih sebagai perwakilan negara tuan rumah. Mereka sudah menebar teror saat menang atas wakil Eropa, Porto, di babak grup. ”Olahraga ini telah membuktikan, apa pun bisa terjadi di pertandingan,” ujarnya.

Enrique menjalani reuni pada waktu paling tepat. Sebelumnya, prestasi sang pelatih selalu dikaitkan dengan Messi dan rekan-rekan. Namun, dia telah berhasil melepas bayang-bayang itu setelah mengantarkan PSG menjadi juara Liga Champions untuk pertama kali, akhir Mei lalu.

PSG pada musim lalu berbeda dengan sebelumnya. Setelah kehilangan penyerang Kylian Mbappe, mereka lebih banyak mengandalkan kolektivitas bersama bintang-bintang muda dibandingkan dengan bertumpu terhadap satu megabintang. Enrique adalah otak di balik kesuksesan itu.

Alba, mantan anak asuhan Enrique di Barca dan tim nasional Spanyol, selalu menilai tinggi sang pelatih. ”Saya berulang kali berkata, Enrique adalah pelatih terbaik di dunia. Kami akan memeluknya saat bertemu nanti, tetapi setelah itu kami akan berupaya mengalahkannya,” ucapnya.

Paris Saint-Germain's Spanish head coach Luis Enrique (C) lifts the trophy as he celebrates with Paris Saint-Germain's players after the UEFA Champions League final football match between Paris Saint-Germain (PSG) and Inter Milan in Munich, southern Germany on May 31, 2025. (Photo by Michaela STACHE / AFP)

Bagi Alba, Enrique tidak hanya hebat dalam aspek sepak bola, tetapi juga dalam manajemen manusia. Pelatih berusia 55 tahun itu mampu menjaga keharmonisan tim dengan baik. Ketika hubungan baik tercipta di ruang ganti, hal itu akan tecermin juga di lapangan.

Salah satu warisan paling besar saat Enrique melatih Barca adalah trio MSN yang diisi Messi, Suarez, dan Neymar Jr. Enrique berhasil menemukan formula tepat untuk menggabungkan trio megabintang itu. Adapun mereka berhasil mengombinasikan 364 gol dan 173 asis selama tiga musim.

Menurut Suarez, kemampuan memotivasi merupakan kelebihan terbesar Enrique. ”Dia sangat penting dalam perjalanan karier saya. Saya sudah punya DNA kompetitif sebelum bermain di bawah asuhannya. Setelah bersamanya, dia justru mampu meningkatkan itu ke level lebih tinggi,” katanya.

Enrique bersama Messi dan rekan-rekan total mempersembahkan sembilan trofi selama musim 2014-2017. Kisah indah itu sudah tercatat abadi dalam sejarah. Kini, mereka akan menepikan itu untuk memperebutkan satu tiket ke perempat final Piala Dunia Antarklub.

Menjelang pertemuan dengan mantan anak asuhannya, Enrique enggan terlalu percaya diri. Dia berkata, tim asal AS selaku tuan rumah lebih diunggulkan karena kondisi lapangan. Adapun sang pelatih kurang puas dengan kondisi lapangan yang berdaya pantul tinggi selama babak grup.

infografik 16 Besar Piala Dunia Antarklub 2025

”Yang benar-benar saya pedulikan adalah kondisi lapangan permainan dan saya katakan ini pada hari kami menang. Bola memantul hampir seperti kelinci yang sedang lompat-lompat,” kata Enrique. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto