Goebbels dan Manipulasi Sejarah

Buat seorang Goebbels, propaganda adalah alat untuk menguasai massa, dan untuk itu ia mengontrol semua media massa yang ada secara total.

07 Jul 2025 11:01 WIB · Artikel Opini

Oleh Ignatius Haryanto

Dari sejarah kita belajar bahwa manipulasi sejarah sudah dilakukan cukup lama dan dengan tujuan spesifik pula.

Dari pembacaan atas sejarah dunia, kita akan bertemu dengan sosok Joseph Goebbels (1897-1945), menteri propaganda Nazi Jerman pada masa Perang Dunia II. Goebbels sebagai salah satu aparat penting pemerintah Nazi, bersama dengan stafnya, menyebarkan berita bohong sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.

Teknik jitu dari kepiawaian Goebbels ini lalu dikenal sebagai teknik big lie (kebohongan besar), atau dalam bahasa Latin disebut argentum ad nausem. Ia dikenal dengan adagium yang terkenal, jika sebuah kebohongan diulang terus-menerus, lama-kelamaan orang akan percaya juga.

Propaganda untuk menguasai massa

Buat seorang Goebbels, propaganda adalah alat untuk menguasai massa, dan untuk itu ia mengontrol semua media massa yang ada secara total (surat kabar, buku, radio, film, dan bentuk kesenian lain).

Sasaran propagandanya adalah menebarkan kebencian terhadap kaum Yahudi, para pendukung Republik Wiemar, dan kalangan komunis di Jerman, serta membesar-besarkan sosok Hitler.

Berkali-kali dalam pidatonya ia menekankan pentingnya pengorbanan yang dilakukan oleh warga Jerman untuk mencapai masa depan Jerman yang lebih baik, lebih suci. Dan berkali-kali pula ia lewat pidatonya memberikan informasi yang palsu kepada masyarakat tentang kondisi di luar Jerman.

Lewat propaganda itu pulalah ia menghasut banyak orang untuk membunuh orang yang tidak berdosa, meyakinkan masyarakat Jerman bahwa bangsa Aria-lah yang menjadi bangsa terpilih, dan untuk itu ras lain boleh dimusnahkan.

Buat Goebbels, propaganda boleh dilakukan karena ia memiliki niat baik. Baginya, propaganda adalah untuk mengabarkan idealisme mereka dan untuk itu ia memperjuangkan ide tersebut dengan menggunakan segala cara untuk menggunakan propaganda yang baik guna memenangkan hati masyarakat Jerman kala itu.

Goebbels adalah pria kelahiran Rheydt, Rhineland, pada 29 Oktober 1897, dan ia pernah mengecap pendidikan di sekolah Katolik, lalu belajar sejarah dan filsafat di Universitas Heidelberg. Ia pernah ditolak masuk dalam dinas kemiliteran, karena kakinya pincang, akibat sakit polio ketika kecil. Namun, cacat ini tak menghalanginya untuk kemudian masuk dalam jajaran petinggi dalam Nazi, di mana ia bergabung sejak 1922.

Goebbels dan Hitler

Hitler terkesan dengan reputasi politiknya, dan juga kebenciannya terhadap kaum Yahudi, serta tulisan-tulisannya yang sejalan dengan cita-cita politiknya. Kaum Nazi terkesan dengan kecerdasan pria ini, selain juga kemampuan retorikanya yang tajam, bahasanya yang mudah dicerna banyak lapisan masyarakat, dan juga sangat teatrikal. 

Selain kebencian terhadap kalangan Yahudi terus diembuskan kala itu, di sisi lain propaganda Goebbels juga terus mengobarkan pujian-pujian kepada Hitler.

Dalam pidato terakhir Goebbels untuk hari ulang tahun ke-56 Hitler, Goebbels menyebut bahwa Hitler adalah manusia terbesar abad ini, orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dengan telah melalui kesakitan dan penderitaan, orang yang akan menunjukkan jalan menuju kemenangan.

Dalam pidato Goebbels menyambut ulang tahun ke-56 Hitler, ia menyebut Hitler sebagai orang yang jujur pada dirinya sendiri, dan tidak menjual keyakinan pribadinya dan idealismenya, dan ia terus serta tanpa keraguan untuk mengikuti tujuannya secara lurus (pidato ”Our Hitler” Goebbels’ 1945, pada ulang tahun ke-56 Hitler, http://www.calvin.edu/academic/cas/gpa/unser45.htm)

Pada tahun 1934, Goebbels menerbitkan ”Vom Kaiserhof zur Reichskanzlei” (Dari Kaiserhof ke Kanselir Reich), kisahnya tentang perebutan kekuasaan oleh Hitler, yang didasarkan pada buku hariannya dari 1 Januari 1932 hingga 1 Mei 1933.

Buku tersebut bertujuan untuk mengagungkan Hitler dan penulisnya. Buku tersebut terjual sekitar 660.000 eksemplar, menjadikannya buku terlaris Goebbels semasa hidupnya.

Di tangan Goebbels, semua bentuk media pada waktu itu harus diupayakan sedemikian rupa untuk mendukung kejayaan Nazi, termasuk Reich Film Chamber, yang mengharuskan semua anggota industri film untuk bergabung, dibentuk pada bulan Juni 1933.

Goebbels mempromosikan pengembangan film dengan kecenderungan Nazi, dan film yang mengandung pesan propaganda tersirat atau terbuka.

Ilustrasi

Sensor

Di bawah kepemimpinan Goebbels, sebuah komite dibentuk untuk menyensor buku, dan karya tidak dapat diterbitkan ulang kecuali jika karya tersebut tercantum dalam daftar karya yang disetujui.

Aturan tersebut juga berlaku untuk seni rupa dan hiburan lainnya; bahkan pertunjukan kabaret pun disensor. Banyak seniman dan intelektual Jerman meninggalkan Jerman pada tahun-tahun sebelum perang daripada bekerja di bawah pembatasan ini.

Medium radio yang pada waktu itu masih dianggap sebagai media baru tak luput dari sasaran pembatasan, di mana Goebbels mengendalikan semua stasiun radio yang ada di Jerman. Stasiun radio yang ia restui menempatkan pengeras suara di sejumlah tempat umum, pabrik, sekolah, sehingga siaran dari partai bisa didengar semua orang Jerman.

Sebaliknya, pada 2 September 1939 (sehari setelah dimulainya perang), Goebbels dan Dewan Menteri menyatakan bahwa mendengarkan stasiun radio asing adalah ilegal. Menyebarkan berita dari siaran asing bisa mengakibatkan hukuman mati.

Hal ini mirip dengan apa yang diterapkan pemerintah kolonial Jepang di Indonesia (1942-1945), di mana semua radio disegel sedemikian rupa, sehingga hanya bisa mendengar siaran radio yang disiarkan pemerintah kolonial Jepang.

Untunglah sejumlah pemuda Indonesia pada waktu itu (BM Diah, Sjahrir, dan kawan-kawan) memiliki pesawat radio lain yang tak didaftarkan ke Pemerintah Jepang sehingga mereka secara diam-diam mendengarkan siaran radio internasional dari Amerika, Inggris, ataupun Australia.

Glorifikasi pemerintah Nazi adalah pada sosok Hitler itu sendiri yang diagungkan sebagai pemimpin yang tak pernah salah, dan kondisinya menuju pada pengultusan pribadi Hitler. Di sini Goebbels memegang peran penting untuk menghasilkan kondisi tersebut.

Sudah jelas di bawah pemerintah fasis seperti ini, berbagai fakta dalam sejarah pun diseleksi, dipilah sesuai dengan kebutuhan kekuasaan Nazi pada waktu itu. Berbagai film diproduksi untuk menggambarkan kehebatan Hitler tersebut.

Kehebatan propaganda yang dilakukan Nazi di bawah pimpinan Goebbels ini memberikan bahan berharga untuk kajian sejarah dunia, antara lain di kota Budapest, Hongaria, ada sebuah museum bernama Museum Teror (Terror Haza).

Dari empat lantai museum, ada satu lantai sendiri yang khusus mempertunjukkan propaganda yang telah dilakukan Jerman dalam bentuk poster, film pendek, film panjang, surat kabar, dan lain-lain.

Bahaya manipulasi sejarah

Dari kisah sejarah ini kita jadi belajar bahwa sangatlah berbahaya ketika sejarah dimanipulasi oleh orang seperti Goebbels, yang kemudian membangun narasi ”baru” yang berbahaya dan terlebih tidak berbasis pada kenyataan yang sungguh terjadi.

Manipulasi sejarah ala Nazi telah menelan jutaan orang sebagai korbannya. Manipulasi sejarah ini telah membangun imaji tentang Hitler yang sesungguhnya adalah pemimpin berbahaya, tetapi terus diglorifikasi oleh para pengikutnya yang melihat dirinya sebagai sosok yang suci, nasionalis, dan pembela bangsa Jerman.

Kita tentu saja tidak ingin perkara manipulasi sejarah ini terulang kembali.

Ignatius Haryanto, Dosen Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, Serpong


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Haryanto
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji