Gol dari tendangan Arie Haan mengantarkan Belanda ke final Piala Dunia 1978 meski tanpa sang bintang, Johan Cruyff. Gol itu pula yang melesat jauh ke masa depan.
18 Jun 2026 14:03 WIB · Olahraga
DOKUMEN KOMPAS
Belanda tampil beda di Piala Dunia 1978 di Argentina. Tidak cukup dengan hanya mencetak gol, Belanda membobol gawang lawan dari upaya tendangan jarak jauh. Arend ”Arie” Haan muncul sebagai pemain yang memberi warna baru di tim ”Oranye” dengan gol roketnya.
Membayangkan penampilan Belanda tahun 1970-an, hal yang pertama teringat pasti permainan yang mengalir dan penguasaan bola konstan ala total voetbal. Namun, meskipun ahli dalam mengontrol dan mengolah bola, tim ”Oranye” tidak keberatan untuk memberikan tendangan keras yang sederhana dan ”kuno”.
Arie Haan hadir memberikan ciri khas baru Belanda itu di Argentina. Legenda Ajax dan Anderlecht ini boleh saja dikenal karena serbabisa. Ia unggul dalam pertahanan dan serangan, baik dalam peran gelandang bertahan maupun pemain kreatif untuk klub dan negaranya.
Namun, di Piala Dunia 1978, Arie Haan paling dikenang karena tendangan jarak jauhnya. Apalagi, salah satu gol roketnya tercipta di laga penentu tiket final melawan Italia di El Monumental, Buenos Aires, Argentina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/2137bc87e29b962dca1dc144149144b4-20260618_H02_ARS_Golazo_Arie_Haan_1978_mumed.png)
Saat itu, Belanda tertinggal karena gol bunuh diri Ernie Brandts di babak pertama. Kendati Brandts menebus kesalahannya di awal babak kedua, Belanda kesulitan untuk mengungguli Italia dalam laga penuh fisik itu.
Pada menit ke-76, jawaban itu datang lewat Haan di jarak 40 meter dari gawang Italia. Setelah menerima umpan dari Ruud Krool saat tendangan bebas, Haan sempat menggiring bola lebih dahulu sebelum menendangnya dengan keras menggunakan kaki kanan.
Tidak hanya membawa bola meluncur jauh dan menembus gawang Dino Zoff, tendangan Haan mengantarkan Belanda kembali ke final Piala Dunia. Berkat gol kemenangan itu, Belanda memuncaki Grup A di babak kedua penyisihan grup sehingga berhak meraih tiket ke final.
Pada laga lainnya di babak kedua Grup A kontra Jerman Barat, tendangan Haan juga yang jadi penyelamat Belanda. Gol berkat tendangan roket dari jarak 35 meter yang tak mampu ditepis kiper Jerman Barat, Sepp Maier, menghindarkan Belanda dari kekalahan dengan skor akhir 2-2.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/08/f22b6c7d-a243-42e5-a662-7e13ca009a8c.jpg)
”Yang paling saya inginkan adalah menjadi juara dunia,” kata Haan mengenang momen di Piala Dunia 1978 kepada FIFA.
”Tapi, mencetak gol di Piala Dunia juga merupakan impian setiap pemain. Saya mencetak dua gol dari jarak jauh, melawan dua kiper hebat, jadi tentu saja itu membuat saya bangga,” ucapnya lagi.
Semua itu bermula dari saran Rinus Michels agar Belanda asuhan Pelatih Ernst Happel tampil berbeda dari Piala Dunia 1974. Saat itu, tim ”Oranye” yang dilatih Michels mampu menembus final dan bahkan mencetak 15 gol.
Namun, dari 15 gol itu, hanya satu gol yang berasal dari luar kotak penalti. Gol itu pun berkat upaya Ruud Krol hanya dari jarak dua meter dari gawang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/09/03/85fa37de-c878-4594-8b8e-5fb792efc4fb.jpg)
Ditambah, Belanda butuh sedikit improvisasi karena tak lagi diperkuat bintang mereka, Johan Cyuff. Setelah mengantarkan Belanda ke final Piala Dunia 1974 lalu lolos ke Piala Dunia 1978, Cryuff memutuskan mundur dari timnas.
Mantan pemain Ajax dan Barcelona itu mengungkapkan, ia dan keluarganya menjadi korban percobaan penculikan beberapa bulan sebelum Piala Dunia. Pengalaman itu mengubah sikapnya terhadap kehidupan dan menjadi salah satu alasan ia memutuskan untuk tidak bermain di Piala Dunia.
Padahal, Belanda mencapai final Piala Dunia 1974 dengan total voetbal dan Cruyff sebagai ikon utama taktik tersebut. Michels mengenalkan taktik itu kepada sang kapten sekaligus otak permainan skuad ”The Flying Dutchmen”.
Perpaduan total voetbal dan Cruyff membawa ”Oranye” mengejutkan dunia dengan lolos final pertama kali sejak Perang Dunia II. Dalam perjalanan ke final, mereka menggilas tim kuat, seperti Argentina, Brasil, dan Jerman Timur, tanpa kebobolan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/10/26/a6778670-f003-452d-929f-b5eb39d29e7d.jpg)
Namun, di Piala Dunia 1978, Belanda mampu bersinar, meskipun dengan cara yang berbeda dari empat tahun sebelumnya ketika ditangani Michels dan diperkuat Cruyff. Meski pada akhirnya kembali gagal juara setelah takluk 1-3 dari Argentina di final, perjalanan mereka sama mengesankannya dengan pesona yang ditimbulkan oleh era Cruyff sebelumnya.
Secara total, Belanda mampu mencetak empat gol dari luar kotak penalti di Piala Dunia 1978. ”Kami mencetak beberapa gol yang sangat indah di Piala Dunia tersebut,” kata Richels.
”Saya pikir itu karena pemain Belanda didorong untuk menembak dan tentu saja kami memiliki beberapa penyerang bola yang brilian di tim-tim tersebut,” kata pelatih yang menangani Belanda dalam beberapa periode tersebut.
Dari jarak 40 meter, bola tendangan Haan melesat ke gawang, meluncur membawa Belanda final, dan akhirnya melesat jauh menuju masa depan. Sebab, hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, gol itu terus dikenang.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase