GOLAZO PIALA DUNIA

Gol yang Menandai Kelahiran ”Sang Raja Sepak Bola”, Pele

Lewat gol spektakuler pada laga final Piala Dunia 1958, Pele mengucapkan salam perkenalan. Gol dengan tingkat kesulitan tinggi itu menandai munculnya ”Sang Raja”.

11 Jun 2026 06:30 WIB · Olahraga

AFP/EPU

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Saat tiba di Swedia untuk Piala Dunia 1958, Edson Arantes do Nascimento atau Pele bukanlah siapa-siapa. Publik sebatas tahu ia hanyalah pesepak bola 17 tahun yang akan menjalani Piala Dunia perdananya.

Namun, sebuah gol di laga final mengubah persepsi khalayak terhadap Pele secara drastis. Gol Pele mengantarkan Brasil meraih gelar Piala Dunia pertama sekaligus merevolusi cara pandang bek-bek Eropa dalam bertahan.

Tidak ada yang dapat memahami apa yang ada dalam benak pelatih Brasil kala itu, Vicente Feola. Tim psikolog Brasil yang dipimpin Joao Carvalhaes sejak jauh-jauh hari tidak merekomendasikan Feola membawa Pele yang masih kurang berpengalaman di level atas dunia. Sang pemain belia pun sedang menderita cedera lutut saat menjalani laga uji coba jelang turnamen.

Rekomendasi itu pada akhirnya dinegasikan Feola. Dia tetap memutuskan membawa Pele ke Swedia, meskipun tahu itu merupakan pertaruhan besar. Memaksakan Pele bermain pada saat baru pulih dari cedera sangat berisiko bagi kesembuhannya. Selain itu, Pele pun belum teruji bermain di Piala Dunia.

”Untungnya, Feola selalu mengikuti instingnya. Dia hanya mengiyakan saran dari tim psikolog lalu berkata, ’Anda (tim psikolog) mungkin benar. Masalahnya, Anda tidak tahu apa-apa tentang sepak bola. Jika lutut Pele sudah siap, dia akan bermain’,” kata Pele dalam buku otobiografinya.

Intuisi pelatih sepak bola adakalanya melampaui akal sehat. Pele memang belum bisa terlibat bersama Brasil di awal-awal turnamen. Memasuki fase gugur, Pele akhirnya bisa dimainkan. Ia langsung menyumbang satu gol kala melawan Wales pada perempat final.

(FILES) Brazilian forward Pele (C) congratulates his teammate Vava (20) after he scored a goal as Swedish goalkeeper Karl Svensson reacts on June 28, 1958 in Stockholm during the World Cup final between Brazil and Sweden. Vava and Pele scored two goals each as Brazil won its first title beating World Cup host Sweden 5-2. From the artistry of Pele to Maradona's "Hand of God", Zidane's headbutt and the clash between France's Battiston against Germany's Schumacher... Heroic, historic, dramatic, bizarre, spectacular, jubilant�the glorious history of the World Cup is full of unforgettable moments. (Photo by AFP)

Tidak berhenti di sana, Pele tampil semakin menggila dengan mencetak hattrick ke gawang Perancis di semifinal. Puncaknya, Pele menyumbang dua gol kala membantu Brasil menundukkan tuan rumah Swedia, 5-2, pada laga final. Itulah gelar pertama yang mengawali kesuksesan Brasil yang kini mengoleksi lima trofi Piala Dunia.

Pusat perhatian

Hanya saja, gelar juara pertama Brasil bukan satu-satunya momen yang menjadi buah bibir. Lesakan gol Pele pada menit ke-55 menjadikannya pusat perhatian di laga tersebut. Menerima umpan silang dari Nilton Santos di dalam kotak penalti, Pele mengontrol bola dengan dadanya sambil membelakangi gawang.

Ia kemudian dengan cepat berbalik badan menjauhi bek Swedia yang terus mengawalnya. Dalam waktu sepersekian detik, Pele memilih mencongkel bola melewati bek Swedia lainnya, alih-alih langsung menembak seusai berbalik badan.

Quote

Paris Match menyebut telah lahir raja sepak bola baru di Piala Dunia 1958. Sejak itulah Pele dikenal sebagai ”O Rei” atau Sang Raja.

Aksi Pele itu mengejutkan bek Swedia terakhir. Kebiasaan yang berlaku kala itu di Eropa ialah penyerang umumnya langsung menembak setelah mengontrol bola di dalam kotak penalti. Pele menjungkirbalikkan pemahaman bek-bek Swedia sehingga mereka kalah langkah dalam berpikir.

Bola hasil congkelan kaki Pele melambung di atas kepala bek jangkung Swedia. Tanpa perlu mengontrol lebih dulu, dengan teknik sepakan voli, Pele langsung menendang bola dengan keras ke kanan bawah gawang kiper Kalle Svensson.

”Sejujurnya, itu adalah reaksi spontan, hasil dari berpikir secara cepat. Ketika saya mengontrol bola, biasanya setelah itu saya akan langsung menembak. Namun, kemudian saya berhasil berpikir cepat dan mengubah arah,” kata Pele dalam wawancara bersama FIFA.

Infografik-Pele *** Local Caption *** Infografik-AFP-Pele

Gol Pele tidak ayal merevolusi cara pandang bek-bek Eropa dalam Swedia yang telanjur terbiasa menghadapi penyerang-penyerang konvensional. Pele memberikan warna tersendiri lewat gol yang kemudian ramai dibicarakan itu. Apalagi, teknik yang dia lakukan tidak mudah lantaran Stadion Rasunda di kota Stockholm baru saja diguyur hujan deras selama 24 jam.

Dengan bakat dan intuisinya, Pele secara cerdik memanfaatkan pengalaman using bek-bek Swedia yang terlanjur terbiasa menghadapi penyerang-penyerang konvensional. Pele memberikan warna tersendiri lewat gol yang kemudian ramai dibicarakan itu. Apalagi, teknik yang dia lakukan tidak mudah lantaran Stadion rasunda di Kota Stockholm baru saja diguyur hujan deras selama 24 jam.

Hujan membuat lapangan menjadi licin sehingga menyulitkan pemain dalam mengontrol bola dan menjaga keseimbangan. Selain itu, karakteristik bola yang digunakan pada masa lampau cenderung menyerap air sehingga menjadi lebih berat.

Namun, Pele dengan kontrol dan keseimbangan yang luar biasa menjinakkan tantangan itu dan mencetak salah satu gol yang akan dikenang dalam sejarah Piala Dunia.

Pele total mencetak enam gol pada Piala Dunia 1958. Jumlah tersebut menempatkannya di peringkat kedua pencetak gol terbanyak turnamen setelah Just Fontaine, penyerang Perancis yang mengoleksi 13 gol dalam enam laga.

Meskipun tidak menjadi pencetak gol terbanyak, pencapaian itu dinilai sudah sangat maksimal bagi Pele yang tergolong masih muda dan menjalani debut Piala Dunia. Di sisi lain, gol ajaibnya ke gawang Swedia di laga besar seperti final menyadarkan dunia bahwa mereka sedang menyambut kelahiran megabintang baru sepak bola.

Infografik GOLAZO Gol Pele pada Final Piala Dunia 1958

Dari gol di final itulah nama Pele menggema hingga ke seluruh penjuru dunia. Turnamen itu menjadi semacam batu loncatan bagi karier Pele. Dari anak muda yang tidak diperhitungkan, Pele seketika jadi sorotan utama.

Namanya menghiasi majalah dan koran dari seluruh dunia. Hal yang paling fenomenal, dari sana, media-media, terutama Paris Match, menyebut telah lahir raja sepak bola baru di Piala Dunia 1958. Sejak itulah Pele dikenal sebagai ”O Rei” atau Sang Raja.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul