PIALA DUNIA 2026

Palagan untuk Masa Depan

Piala Dunia kerap jadi palagan lahirnya megabintang baru, seperti Pele dan Mbappe. Tahun ini, status ”wonderkid” itu diperebutkan Yamal, Guler, Paz, dan Endrick.

10 Jun 2026 08:45 WIB · Olahraga

AP/Alberto Saiz

Oleh Yola Sastra

Piala Dunia bukan sekadar ajang pestanya para pemain bintang berpengalaman. Perhelatan empat tahunan ini juga jadi panggung bagi para talenta muda unjuk kemampuan. Bahkan, tak jarang ”wonderkid” justru menjadi bintang yang mengantarkan negaranya ke takhta juara.

Almarhum Pele telah mengukir sejarah itu lebih dahulu. Sang legenda mengantarkan negaranya, Brasil, untuk pertama kalinya meraih trofi Piala Dunia pada 1958. Saat itu, usianya belum genap 18 tahun.

Pele tampil fenomenal dengan mencatat enam gol dan satu asis. Ia tak berhenti mencetak gol sejak perempat final, termasuk hattrick dan satu asis saat melawan mengandaskan Perancis 5-2 di semifinal. Puncaknya, Pele mencetak dua gol pada partai final saat Brasil mengandaskan tuan rumah Swedia dengan skor 5-2. 

Pencapaian serupa diulangi Kylian Mbappe pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Penyerang yang saat itu masih berusia 19 tahun berkontribusi besar mewujudkan mimpi Perancis kembali menjadi juara dunia untuk kedua kalinya. Sepanjang turnamen, ia menyumbang empat gol.

Mbappe juga mengulangi dua pencapaian Pele lainnya, yaitu remaja kedua setelah Pele yang mencetak dua gol dalam satu laga Piala Dunia dan mencetak gol di partai final. Dua gol dicetak Mbappe saat Perancis mengalahkan Argentina, 4-3, di babak 16 besar dan satu gol saat mengalahkan Kroasia, 4-2, di partai final.

Setelah Pele dan Mbappe, ada pula Enzo Fernandez dan Julian Alvarez, dua pemuda yang berkontribusi mengantarkan Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Sejak laga terakhir penyisihan grup hingga final mereka menjadi andalan dan membantu legenda hidup, Lionel Messi, merengkuh trofi juara dunia. 

Pemain Perancis Kylian Mbappe menerima penghargaan golden boot sebagai pencetak gol terbanyak di ajang Piala Dunia 2022. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 19-12-2022

Kisah sukses para talenta muda itu mungkin saja terulang pada Piala Dunia 2026 yang dihelat di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, mulai 11 Juni-20 Juli nanti. Beberapa nama menyita perhatian berkat permainan gemilang mereka di level klub, antara lain, Lamine Yamal, Arda Guler, Nico Paz, Pau Cubarsi, dan Endrick.

Lamine Yamal

Kesuksesan Barcelona mempertahankan gelar juara La Liga musim 2025-2026 tak terlepas dari peran Lamine Yamal. Pemuda yang belum genap berusia 19 tahun ini tidak hanya menjadi eksekutor, tetapi kreator serangan Barcelona di sisi kanan. Ia menjadi andalan di tengah menurunnya performa Robert Lewandowski dan Raphinha.

Di La Liga Spanyol, Yamal yang mewarisi nomor punggung 10 Lionel Messi menjadi pencetak gol dan asis terbanyak Barca dengan 16 gol (sama dengan Ferran Torres) dan 12 asis dari 28 penampilan. Adapun di seluruh kompetisi musim ini, ia menorehkan 24 gol dan 18 asis.

Quote

Saya sangat percaya padanya untuk masa depan karena saya merasa tahu kapan seorang pemain memiliki mentalitas untuk menjadi pemain top. Jika dia terus seperti ini, tidak ada batasan untuk kesuksesannya.

Pemain berdarah Maroko dan Guinea Ekuatorial itu punya visi permainan yang bagus dan keahlian menggiring bola dan menusuk ke dalam. Atribut itu semakin lengkap dengan kemampuannya melepaskan umpan akurat dan penyelesaian akhir melalui tembakan placing ke tiang jauh ataupun tendangan keras ke tiang dekat.

”Dia adalah pemain yang berbeda, seorang genius. Dia benar-benar istimewa,” kata Pelatih Barcelona Hansi Flick, dikutip dari FIFA.

Yamal memulai debut di timnas Spanyol di usia 16 tahun 57 hari pada 8 September 2023. Pada pertandingan pertama berseragam ”La Furia Roja”, ia langsung mencatatkan gol dalam kemenangan 7-1 atas Georgia.

Ekspresi penyerang Barcelona, Lamine Yamal, setelah timnya kebobolan saat melawan Rayo Vallecano pada laga Liga Spanyol di Stadion Vallecas, Senin (1/9/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang, 1-1.

Tak sampai setahun setelah debut, Yamal pun berhasil membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa 2024 di Jerman. Ia menjadi andalan di sisi kanan tim Matador saat itu dengan satu gol dan empat asis. Satu gol Yamal cetak saat Spanyol menang 2-1 atas Perancis di semifinal dan satu asis saat menang 2-1 atas Inggris di final. 

Yamal pun berpeluang besar mengulang sejarah yang ditorehkan Pele dan Mbappe. Ia bukan lagi sekadar ”wonderkid”, tetapi telah menjelma bintang baru Barcelona dan Spanyol.

Di sisi lain, timnas Spanyol punya pengalaman manis mengawinkan gelar Piala Eropa dan Piala Dunia pada 2008 dan 2010. Timnas Spanyol yang kini berada di peringkat kedua dunia juga punya skuat mumpuni.

Satu-satunya hambatan Yamal dalam memulai debut Piala Dunia adalah kondisi cedera otot kaki yang ia alami saat melawan Celta Vigo di La Liga pada 23 April lalu. Musimnya berakhir lebih cepat dan kini dalam tahap pemulihan. Ia pun diperkirakan baru pulih pada pertandingan pertama atau kedua Spanyol di Piala Dunia.

”Kami tidak akan mempercepat proses apa pun, kami berkoordinasi dengan klub-klub,” kata Pelatih Spanyol Luis de la Fuente terkait kondisi Yamal dan rekannya Nico Williams dikutip dari AP.

Arda Guler

Talenta muda lainnya yang mencuri perhatian musim ini adalah Arda Guler. Pada musim ketiganya di Real Madrid, gelandang serang berusia 21 tahun ini semakin matang dan percaya diri. Musim ini, ia menjelma salah satu motor serangan Madrid dengan catatan 6 gol dan 14 asis di seluruh kompetisi.

Infografik Calon Pemain Muda Terbaik

Salah satu penampilan impresif Guler adalah saat melawan Bayern Muenchen di perempat final leg kedua Liga Champions. ”Wonderkid” asal Turki itu mengemas dua gol yang membangkitkan asa Madrid membalikkan keadaan atas kekalahan pada leg pertama. Sayangnya, Madrid kalah dalam pertandingan itu akibat kesalahan pada menit-menit akhir.

Gol pertama Guler pada laga tersebut terjadi pada menit ke-1 melalui tendangan jarak jauh, memanfaatkan kesalahan kiper Manuel Neuer dalam membuang bola. Gol kedua Guler pada menit ke-29 lebih spektakuler. Ia melepaskan tendangan bebas ke sudut atas kiri gawang dan tak dapat ditangkis Neuer.

Di timnas Turki, Guler juga jadi pemain andalan dan berhasil membawa negaranya kembali ke putara final Piala Dunia setelah absen pada lima edisi sebelumnya. Ia hanya sekali absen dalam enam pertandingan Grup E kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa dengan torehan satu gol dan tiga asis dan meloloskan Turki ke babak playoff.

Satu asis Guler pada babak semifinal melawan Romania mengantarkan Turki ke final playoff kualifikasi Piala Dunia. Umpan visioner Guler dari jarak jauh berhasil disambut rekannya, Ferdi Kadıoğlu, dan menjadi satu-satunya gol dalam laga itu. Di final playoff, Guler dan rekan-rekannya menang 0-1 atas Kosovo sehingga berhak tampil di Piala Dunia 2026.

”Ia (Guler) memiliki bakat, intuisi, serta kemampuan membaca permainan. Ia tahu kapan harus memperlambat tempo, kapan bermain vertikal, dan ia juga tahu cara mencetak gol. Ia berwajah polos, tetapi sangat cerdas,” kata Pelatih Turki Vincenzo Montella.

Nico Paz

Di Liga Italia, ada Nico Paz yang tampil gemilang. Gelandang serang asal Argentina itu menjadi andalan Cesc Fàbregas di lini serang Como musim ini. Hasilnya pun luar biasa. Untuk pertama kali dalam sejarah klub, Como akan tampil di Liga Champions Eropa musim depan usai mengamankan peringkat keempat Liga Italia Serie A dengan menggusur AC Milan dan Juventus. 

Gelandang serang Argentina, Nico Paz, berpose dengan seragam tandang baru untuk Piala Dunia 2026.

Pada musim keduanya di Como, Nico Paz tampil semakin tajam. Musim ini pemain berusia 21 tahun itu mencetak 13 gol dan menyumbang 8 asis di seluruh kompetisi. Setahun lalu, ia mencetak 6 gol dan 9 asis. Di Serie A, Paz hanya tiga kali absen, yaitu saat terkena sanksi akumulasi kartu kuning dan saat cedera dan pemulihan cedera.

Salah satu penampilan terbaik Paz adalah saat mengalahkan Juventus 2-0 pada 19 Oktober 2025. Dalam laga tersebut, ia mencetak satu gol dan satu asis. Gol ke tiang jauh Paz pada menit ke-79 mengunci kemenangan bersejarah klub milik kelompok usaha Djarum itu atas Juventus.

”Saya sangat percaya padanya untuk masa depan karena saya merasa tahu kapan seorang pemain memiliki mentalitas untuk menjadi pemain top. Jika dia terus seperti ini, tidak ada batasan untuk kesuksesannya,” kata Pelatih Como Cesc Fàbregas usai kemenangan 2-0 atas Juventus seperti dikutip dari The Athletic. 

Paz telah memulai debutnya di timnas Argentina pada 16 Oktober 2024. Meskipun baru delapan kali tampil dan belum jadi andalan, Paz diyakini akan dibawa oleh Pelatih Lionel Scaloni ke Piala Dunia 2026 mengingat performa apiknya musim ini. Apalagi, saat membawa Argentina juara dunia tahun 2022, Scaloni tak ragu memberikan kepercayaan kepada talenta muda. 

Pau Cubarsi

Di sektor pertahanan, ada Pau Cubarsi yang layak diperhitungkan. Keberhasilan Barcelona menjuarai La Liga dua kali beruntun juga tak terlepas dari kontribusi pemain 19 tahun ini. Jika Yamal jadi kreator serangan, Cubarsi jadi tembok kokoh di lini belakang Barca. 

Meski masih belia, pemain kelahiran Girona, Katalan, itu punya ketenangan sebagai bek tengah serta kemampuan tekel dan intersep yang bagus. Cubarsi juga mahir melakukan build-up yang merupakan ”DNA” permainanan Barcelona dan timnas Spanyol.

Atletico Madrid's Spanish forward #10 Alex Baena (L) falls next to Barcelona's Spanish defender #05 Pau Cubarsi during the Copa del Rey (King's Cup) semi final second leg football match between FC Barcelona and Club Atletico de Madrid at Camp Nou Stadium in Barcelona on March 3, 2026. (Photo by Lluis GENE / AFP)

Pada musim ini, Cubarsi tampil dalam 48 pertandingan di semua kompetisi bersama Barcelona. Adapun sejak debut karier seniornya pada 22 Januari 2024, pemain didikan akademi La Masia ini sudah 128 kali tampil bersama Barcelona.

Selain di level klub, Cubarsi juga mulai menjadi andalan Spanyol, terutama sejak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Terakhir kali ia tampil pada dalam kemenangan Spanyol, 3-0, atas Serbia pad alaga uji coba, 27 Maret lalu. Ia pun diyakini akan jadi pilar di lini pertahanan La Roja pada Piala Dunia nanti.

”Siapa pun yang sudah menonton Pau tahu betapa bagusnya dia. Kami sudah mengenalnya sejak dia masih di akademi muda. Jadi, kami tahu dia punya potensi besar. Kami tidak pernah melihat usia pemain, hanya kemampuan yang dia miliki,” kata Pelatih Spanyol Luis de la Fuente.

Endrick

Nama terakhir, Endrick, barangkali tak banyak diperhitungkan. Namun, ia mungkin saja muncul sebagai kuda hitam bersama timnas Brasil. Kisah kebangkitan pemain 19 tahun ini setelah dipinjamkan Real Madrid ke Olympique Lyon bisa menjadi motivasi.

Hingga tengah musim 2025-2026, mimpi Endrick untuk debut di Piala Dunia terasa kian menjauh. Di bawah kepelatihan Xabi Alonso, jumlah penampilannya merosot tajam, hanya tiga pertandingan dengan total 99 menit.

Akan tetapi, kepindahannya ke Lyon seolah membuat Endrick terlahir kembali. Dalam waktu singkat, ia langsung menjadi tumpuan lini serang klub Liga Perancis tersebut. Tidak hanya tajam sebagai penyerang, Endrick juga jago dalam mengkreasikan peluang. Total ia mencetak 8 gol dan 8 asis dalam 21 penampilan di semua kompetisi.

Lyon’s Brazilian forward #09 Endrick celebrates celebrates scoring his team's first goal during the French Cup round of 16 football match between Olympique Lyonnais and Laval Stade Mayenne FC at Groupama Stadium in Lyon on February 4, 2026. (Photo by OLIVIER CHASSIGNOLE / AFP)

Kerja keras Endrick selama masa peminjaman membuatnya kembali dipanggil timnas Brasil dan akan dibawa Pelatih Carlo Ancelotti ke Piala Dunia 2026. Pada pertandingan comeback-nya, 1 April lalu dalam laga melawan Kroasia, ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-76.

Endrick langsung memberikan dampak dengan mendapat hadiah penalti pada menit ke-88 dan asis pada menit ke-90+2. Kontribusi terhadap dua gol itu membuat Brasil kembali unggul dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-1 atas Kroasia.

Pemain yang punya tembakan keras dan berbahaya di dalam ataupun luar kotak penalti ini diyakini bisa jadi opsi bagi lini serang tim ”Samba”. Tidak hanya bisa berperan sebagai striker, Endrick juga bisa jadi sayap kanan berkat kemampuan dribbling dan tusukannya ke pertahanan lawan.

Hubungan baiknya dengan Ancelotti—mantan pelatihnya di Real Madrid—diyakini akan mampu membangkitkan potensinya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yola Sastra
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase