Pencarian penyerang nomor sembilan Real Madrid yang telah lama hilang bak mencari emas di antara bebatuan. Performa Gonzalo Garcia jadi sinyal akhir pencarian Real.
03 Jul 2025 10:39 WIB · Olahraga
Sudah cukup lama Real Madrid merindukan pemain bernomor sembilan semenjak kepergian Karim Benzema dan Joselu. Real sempat sampai pada titik sudah terbiasa bermain tanpa penyerang murni. Kehadiran Gonzalo Garcia menandai akhir pencarian penyerang yang tidak pernah disangka Real. Dalam dirinya, Real bahkan mendapatkan lebih dari sekadar penyerang murni haus gol.
Mencetak gol memang tugas utama seorang penyerang. Namun, di era sepak bola modern, penyerang tidak hanya harus piawai mencetak gol, tetapi juga memiliki banyak peran seperti membuka ruang, menciptakan asis, dan pandai menekan sejak garis terdepan.
Garcia memiliki semua atribut itu. Penyerang canterano atau lokal Spanyol tersebut membuka mata publik sepak bola dunia bahwa Real harus segera menghentikan pencarian terhadap penyerang nomor sembilan.
”Pencarian pemain nomor sembilan harus dihentikan. Kami telah menemukan sosok yang luar biasa,” kata Joselu, dikutip dari Tribuna, Rabu (2/7/2026). Joselu kini bermain untuk Al Gharafa di Liga Qatar.
Sejak kepergian Benzema, Real cukup disibukkan mencari penggantinya. Nama-nama besar seperti Erling Haaland dan Dusan Vlahovic sempat dikaitkan dengan Real. Namun, semua itu berakhir sebatas rumor. Pencarian terhadap nomor sembilan yang hilang menemui titik terang saat Real merekrut Joselu. Hanya saja ia merupakan opsi sementara, bukan permanen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/88bf1dbd2f4207fb59a49266fb8c768d-wires_photo_1_.jpg)
Setelah Joselu hengkang, Real bak mendapat durian runtuh dengan langkah megabintang Perancis, Kylian Mbappe, yang memutuskan bergabung dengan Real musim lalu. Berposisi asli sebagai penyerang sayap, mantan Pelatih Real Carlo Ancelotti mencoba menempatkan Mbappe sebagai penyerang nomor sembilan yang bukan merupakan posisi utamanya.
Pilihan itu terpaksa diambil Ancelotti karena Real sudah memiliki penyerang sayap kiri dalam diri Vinicius Junior. Mbappe akhirnya berkompromi menerima peran sebagai pemain nomor sembilan.
Namun dalam praktiknya, Mbappe tidak benar-benar bermain layaknya penyerang murni. Dalam banyak kesempatan, Mbappe kerap menyisir bola dari kiri saat memulai serangan. Pada situasi tersebut, Real lebih terkesan bermain tanpa penyerang murni (false nine).
Kekosongan posisi penyerang murni harus segera diisi seiring kedatangan pelatih baru Real, Xabi Alonso. Gaya bermain Alonso yang mengutamakan kolektivitas serta tekanan tinggi (high pressing) menuntut etos kerja serta agresivitas para pemain depan. Selain itu, dalam taktik Alonso, keberadaan penyerang murni juga dibutuhkan sebagai konektor di area sepertiga akhir permainan saat proses membangun serangan.
Permata yang ditunggu-tunggu Real muncul di Piala Dunia Antarklub. Penyakit gastroenteritis akut yang diderita Mbappe rupanya menjadi jalan keluar Real dalam pencarian bertahun-tahun terhadap penyerang nomor sembilan. Garcia yang dipercaya tampil menggantikan Mbappe memberikan hasil lebih dari yang diharapkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/96edfaedd9224197eac69829c31b59ea-CWC_Real_Madrid_Juventus_Soccer_1_.jpeg)
Pemain berusia 21 tahun itu telah mencetak tiga gol dan satu asis dalam empat laga di Piala Dunia Antarklub. Ini berarti Garcia selalu terlibat dalam proses mencetak gol Real pada tiap laga.
Sejak melihat penampilan Garcia di laga pertama menghadapi Al Hilal, semua orang akan memahami mengapa Alonso berani memberinya kepercayaan sebagai pemain utama. Etos kerja tinggi, agresif saat menekan, dan punya penyelesaian akhir yang tajam adalah keistimewaan tersembunyi Garcia.
Sebelum Piala Dunia Antarklub, nyaris tidak seorang pun mengenal Garcia. Sumbangan gol demi golnya kemudian menyadarkan publik bahwa Alonso telah menemukan penyerang nomor sembilan Real yang lama hilang.
Sistem permainan Alonso berpusat pada upaya menekan tinggi sejak lawan membangun serangan dari area pertahanan mereka. Gaya ini banyak diilhami dari tim-tim Bundesliga yang gemar melakukan counterpressing, termasuk Alonso saat membesut Bayer Leverkusen. Alonso kemudian mencoba menerapkannya di Real sehingga ia meminta semua pemain lebih banyak berlari dan menekan lawan.
Sistem seperti itu sangat cocok dengan Garcia. Dia memiliki karakteristik pemain muda yang tidak kenal lelah dalam berlari dan selalu ingin memenangkan bola. Beberapa peluang emas Real berawal dari kegigihannya dalam merebut bola juga membaca arah permainan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/befad5c304a27722b947b3f4918368b6-wires_photo_3_.jpg)
Performa impresif Garcia di Piala Dunia Antarklub kemungkinan besar membuatnya tetap bertahan musim ini. Sebelumnya, Garcia kencang diisukan akan hengkang demi mencari menit bermain yang lebih banyak.
”Saya mengenalnya dengan baik. Saya tidak menyangka dia akan mencetak tiga gol dalam empat pertandingan. Saya tahu tekanan dan kerja kerasnya dan terlebih lagi mencetak gol. Saya memercayainya dan dia (pantas) mendapatkan kepercayaan itu,” kata Alonso.
Walakin, Alonso belum memastikan Garcia akan mendapat tempat utama di susunan pemain mula Real musim depan. Hal ini lantaran Alonso masih perlu memikirkan Mbappe dan Vinicius yang berpotensi besar harus dikorbankan. Jika Garcia bermain di pos nomor sembilan, itu artinya Mbappe kehilangan tempatnya. Pilihannya adalah Mbappe harus bersaing dengan Vinicius di posisi sayap kiri.
Sampai waktunya tiba, Garcia hanya perlu membuktikan bahwa ia memang layak disejajarkan dengan para pemain Real yang lebih berpengalaman. Kesempatan itu masih terbuka seiring kiprah Real yang kini melaju hingga perempat final dan menjadi favorit juara Piala Dunia Antarklub. Garcia hanya perlu tanpil konsisten dan mencuri panggung di sana.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan