Gotong Royong City dan MU di Derbi Manchester

Manchester United seolah membantu tim tetangga, Manchester City, untuk menghasilkan kemenangan besar di kandang sendiri. Keputusan Amorim kembali dipertanyakan.

15 Sep 2025 07:14 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

MANCHESTER, MINGGU — Derbi Manchester edisi terbaru menghadirkan kisah gotong royong. Skuad Manchester City mengeksekusi rencana Manajer Pep Guardiola dengan sempurna, sementara Ruben Amorim di Manchester United memberikan karpet merah kepada tim tetangga dengan kenaifaannya dalam berstrategi.

Kerja sama itu menjadi keuntungan tuan rumah City yang menang 3-0 atas MU di Stadion Etihad, Manchester, Minggu (15/9/2025). Gelandang Phil Foden membuka keunggulan pada awal laga, sementara penyerang Erling Haaland melengkapi kemenangan lewat sumbangan sepasang gol pada paruh kedua.

Amorim berkata, semestinya mereka bisa bertahan lebih baik. ”Sangat mengecewakan ketika Anda kalah 0-3 dari City. Jika Anda melihat momen di laga, ketiga gol itu sebenarnya bisa dihindari. Seperti di gol pertama, itu disebabkan karena kurang agresivitas,” ujar pelatih yang dua kali mengalahkan Guardiola di musim lalu itu.

Siapakah ”pendosa” terbesar dalam gol Foden? Ada dua pemain, yaitu gelandang Bruno Fernandes dan bek Luke Shaw. Shaw bisa dilewati dengan mudah oleh Jeremy Doku, sang pemberi asis. Shaw juga tidak menutup ruang umpan dengan sigap. Adapun Fernandes tidak menyadari pergerakan Foden yang masuk ke kotak penalti.

Fernandes dan Shaw memang salah, tetapi Amorim adalah sosok yang paling bertanggung jawab terhadap kekalahan itu. Sang juru taktik kembali menampilkan kedua pemain itu di bukan posisi terbaik mereka. Fernandes sebagai gelandang jangkar, sedangkan Shaw menjadi bek tengah. Semua itu demi mempertahankan sistem 3-4-3 yang banyak dikritik.

Formasi tiga bek bukan masalah utama. Masalahnya, dia mengulang pendekatan yang berkali-kali gagal untuk bertandang ke markas City. Lubang terbesar dari formasi itu adalah keberadaan Fernandes sebagai salah satu dari dua gelandang jangkar. Padahal, bertahan bukanlah atribut keahlian terbaik gelandang serang asal Portugal tersebut.

Manchester City's Tijjani Reijnders sens a pass in front of Manchester United's Bruno Fernandes during the Premier League soccer match between Manchester City and Manchester United in Manchester, England, Sunday, Sept. 14, 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Alhasil, MU seperti hanya bermain dengan satu gelandang jangkar, yaitu Manuel Ugarte. ”Lalu, mereka menghadapi tiga gelandang City sekaligus. Bagaimana mereka bisa mengatasinya? Para bek tengah semestinya ada yang naik (ke posisi gelandang) saat dibutuhkan, tetapi itu juga tidak terjadi,” kata mantan bek City, Micah Richards, di Sky Sports.

Belajar dari laga-laga sebelumnya, City menyadari kelemahan tim lawan. Guardiola datang dengan ide untuk mengeksploitasi hal tersebut. Tim tuan rumah fokus mengincar ruang di antara tiga bek tengah dan dua gelandang pivot. Foden menjadi senjata utama dengan pergerakan ke kotak penalti dari lini kedua.

Ide Guardiola terlihat jelas di gol pertama. Doku, yang diturunkan sebagai sayap kiri dalam formasi 4-1-4-1, bergerak ke tengah mengambil area milik gelandang serang. Lalu, dia menyerang Shaw yang sedikit berada di sisi halfspace kanan. Saat Doku melakukan penetrasi, Foden langsung mengambil posisi di belakang Fernandes.

”Sangat sulit bagi Bruno karena bertahan bukan kekuatannya. Dia tidak bisa merasakan bahaya. Beberapa gol terakhir kemasukan (MU) sudah menjadi pola. Ada pemain yang berlari di belakangnya. Dia bukanlah pemain bertahan, tetapi pemain depan yang bertugas mencetak gol,” kata mantan penyerang tim nasional Inggris, Theo Walcott, kepada BBC Sport.

Akibat gol pembuka pada menit ke-17 itu, rencana MU berantakan. Mereka berharap bisa mengandalkan transisi serangan balik di Etihad. Namun, itu tidak terjadi karena City lebih banyak menunggu setelah unggul. Tim tamu yang justru dipaksa keluar menyerang dan City yang memanfaatkan serangan balik dalam dua gol Haaland.

Donnarumma dipuji

MU sempat menyalakan asa untuk membalikkan keadaan pada paruh kedua. Mereka mendapatkan beberapa peluang emas dari penyerang Bryan Mbeumo. Namun, kiper debutan City, Gianluigi Donnarumma, mampu menggagalkan semua upaya dari tim tetangga. Donnarumma sampai dipuji langsung oleh Guardiola.

TOPSHOT - Manchester City's Norwegian striker #09 Erling Haaland (L) tries to hold off Manchester United's French defender #15 Leny Yoro (R) during the English Premier League football match between Manchester City and Manchester United at the Etihad Stadium in Manchester, north west England, on September 14, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Berkat bantuan MU, City akhirnya bisa kembali bangkit dari rentetan dua kekalahan beruntun. ”Tidak mudah mengawali musim dengan banyak pemain baru. Karena itu, suatu keistimewaan bisa membawa kegembiraan saat ini. Saya tahu betapa berartinya laga derbi. Para pemain sangat agresif hari ini. Semuanya seperti mesin,” ujar Guardiola.

Di sisi lain, MU masih berkutat dengan persoalan formasi dan penggunaan pemain. Komposisi skuad MU saat ini dinilai lebih cocok dengan formasi 4-3-3. Lewat formasi itu, Fernandes bisa kembali dimainkan sebagai gelandang serang. Dia bisa mendongkrak performa ofensif ”Setan Merah”.

Fernandes baru menghasilkan satu gol pada musim ini. Itu pun dari eksekusi penalti. Sang kapten tim berhasil menyumbang 19 gol dan 18 asis sepanjang musim lalu. Kreativitas Fernandes tertahan karena lebih sering menjadi orkestrator serangan dari area bawah. Dia jarang terlibat dalam serangan balik seperti musim-musim sebelumnya.

Amorim mengakui kelahahan dalam derbi merupakan kesalahannya. Dia juga menilai, delapan kemenangan dari 31 pertandingan liga selama kepemimpinannya terlalu sedikit untuk tim sebesar MU. ”Tetapi, saya tidak akan mengubah filosofi saya. Saya bermain dengan cara saya dan akan terus bermain dengan itu. Atau, Anda bisa mengganti orangnya,” ujar sang pelatih. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto