Anak-anak akan belajar bahwa manis dan asin adalah ”rasa normal” makan harian. Kebiasaan inilah yang kelak paling sulit dilawan.
26 Jan 2026 17:00 WIB · Artikel Opini
Kompas/Heryunanto
Awal Januari, Amerika Serikat merilis ”Dietary Guidelines for Americans” 2025-2030, lengkap dengan piramida makanan baru dan slogan eat real food. Terlepas dari perdebatan atas kebijakan ini, salah satu pesannya sangat menjanjikan kebaikan: kurangi pangan ultraproses, tekan gula, kembali ke pangan utuh.
Setelah produk-produk pangan ultraproses gaya Barat berbondong-bondong masuk dan diterima lidah Indonesia, mengapa kini mereka berbalik kembali ke pangan utuh? Bukan dalam bentuk gerakan kecil masyarakat, melainkan dalam bentuk kebijakan nasional.
Ajakan kembali ke pangan utuh ini tidak muncul tiba-tiba. AS membayar mahal normalisasi pangan ultraproses selama puluhan tahun. Saat ini, lebih dari 40 persen orang dewasa di sana hidup dengan obesitas, dengan diabetes tipe 2, penyakit jantung, atau hipertensi. Penyakit-penyakit ini menjadi beban kesehatan publik yang kian sulit dibalikkan dan telah lama menjadi sorotan jurnal-jurnal medis terkemuka.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Obesitas anak dan remaja ikut meningkat, membawa serta risiko penyakit kronis yang muncul semakin dini.
Piramida makanan baru Amerika Serikat ini lebih tepat dibaca sebagai bentuk koreksi kebijakan, bahkan penyesalan, atas arah sistem pangan yang selama ini dibiarkan berjalan.
Bukan karena Indonesia harus meniru piramidanya, sama persis. Pengalaman AS justru relevan sebagai pengingat tentang harga mahal yang mereka bayar ketika detail kebijakan pangan diabaikan. Refleksi ini menjadi penting karena Makan Bergizi Gratis (MBG) berada pada fase awal dan bergerak menjadi kebijakan yang membentuk isi piring jutaan anak Indonesia, hari demi hari, di sekolah, tanpa banyak disadari. Atau cukup banyak yang sadar tetapi tidak punya kekuatan untuk mengubahnya.
Pada skala sebesar itu, program makan sekolah tidak lagi sekadar soal memberi makan. Program ini mulai membentuk apa yang dianggap wajar di piring anak. Rasa wajar yang terbentuk ini pelan-pelan akan menjadi kebiasaan anak kelak, seumur hidupnya.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan panduan. Kementerian Kesehatan RI sudah memiliki kompas bernama ”Isi Piringku”. Persoalannya bukan ketiadaan rujukan, melainkan bagaimana panduan tersebut diterjemahkan secara konsisten menjadi standar menu yang diterapkan secara konsisten.
Sebagai kebijakan sosial, MBG merupakan program yang indah. Negara hadir di piring anak, memastikan mereka bisa belajar tanpa lapar. Namun, dalam praktik kebijakan, program berskala besar kerap menyisakan ruang abu-abu: fokus mudah berpindah ke jumlah porsi yang tersalurkan, sementara kualitas menu harian berjalan tanpa benar-benar dicatat, dipantau, apalagi dimaknai sebagai faktor risiko.
Di lapangan, indikator yang paling mudah dipantau hampir selalu bersifat administratif karena memang itulah yang paling cepat terlihat. Sementara itu, outcome yang diharapkan, yaitu perbaikan status gizi, perubahan perilaku makan, dan praktik hidup bersih dan sehat (PHBS), serta kehadiran siswa, semuanya ini butuh proses untuk mencapainya. Tidak langsung terlihat. Tidak masuk capaian jangka pendek.
Justru karena inilah kualitas menu perlu diposisikan sebagai pagar kebijakan yang tegas. Saya ingin menuliskan satu kalimat yang seharusnya dicetak tebal di setiap rapat pengadaan MBG. Program yang dibangun untuk melawan stunting atau kurang gizi tidak boleh membuka jalur menuju risiko percepatan obesitas dan penyakit kronis lainnya, seperti hipertensi.
Mengapa peringatan ini penting? Karena riset dengan sampel representatif nasional, yaitu Riskesdas 2018, menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapat 34,1 persen, meningkat tajam dibandingkan Riskesdas 2013.
Angka ini sering dibaca sebagai persoalan usia dewasa. Padahal, penyakit tidak menular, seperti hipertensi, tidak muncul mendadak di usia 40 tahun. Penyakit ini disemai jauh lebih awal, termasuk antara lain oleh kebiasaan makan, rasa yang dinormalisasi, dan pilihan yang diulang setiap hari.
Data nasional ini memberi sinyal yang jangan sampai diabaikan. Analisis Riskesdas 2013 pada remaja usia 15-19 tahun menunjukkan prehipertensi sebesar 16,8 persen dan hipertensi 2,6 persen. Hampir satu dari lima remaja sudah berada di ambang peningkatan tekanan darah. Apakah ini kita sebut sebagai isu masa depan? Bukan. Kita sudah melihatnya berlangsung.
Alarmnya bahkan berbunyi lebih dini. Pada anak usia sekolah dasar, studi Indonesia pada siswa usia 8-11 tahun menemukan elevated blood pressure sebesar 28,8 persen. Jangan salah baca: elevated bukan vonis hipertensi klinis. Namun, dalam bahasa kebijakan publik, pesannya tetap keras, risiko sudah terlihat dan berkaitan kuat dengan kegemukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/16/14fc8ccad7ecf8be5ef8bb13a768d9e7-20250317_Opini_Memantau_Status_Gizi_Anak_Sekolah_sebagai_Bagian_dari_Program_MBG.jpg)
Angka-angka ini mungkin belum terasa mendesak di ruang rapat. Namun, angka ini terus bertambah, menjangkau lebih banyak anak-anak kita.
Lalu, apa artinya semua ini bagi MBG? Artinya, kualitas MBG akhirnya ditentukan pula oleh pengambil keputusan di level sehari-hari, di meja pengadaan dan dapur.
Tantangannya adalah kecenderungan mengambil jalan pintas yang menggoda dan tampak praktis serta efisien, seperti pengadaan minuman manis, kudapan kemasan asin-manis, lauk instan tinggi natrium, saus siap pakai, dan menu goreng yang terlalu sering diulang.
Jika MBG terlalu sering mengandalkan pangan tinggi gula dan garam, kita sedang membentuk standar rasa, bukan hanya memenuhi porsi. Anak-anak akan belajar bahwa manis dan asin adalah ”rasa normal” makan harian. Kebiasaan inilah yang kelak paling sulit dilawan, bahkan ketika risikonya sudah kita pahami.
Literatur ilmiah secara konsisten mengingatkan hal ini. Berbagai kajian internasional menunjukkan bahwa pergeseran dari pola makan utuh menuju pangan ultraproses merupakan pendorong penting beban penyakit kronis terkait makanan, terutama penyakit kardiovaskular.
Dalam kerangka itu, MBG memerlukan pagar kualitas yang sederhana, tetapi jelas. Isu minuman, misalnya, sering kali menjadi titik awal krusial. Air putih aman seharusnya menjadi pilihan default. Jika susu digunakan, penting memilih susu tanpa gula tambahan dan tidak menggantikan buah atau sayur.
Hal yang sama berlaku untuk sayur dan buah. Setengah piring bukan dekorasi di standar Kemenkes ”Isi Piringku”, tetapi pelindung, sumber serat, kalium, dan mikronutrien yang sering hilang ketika menu hanya mengejar rasa kenyang.
Pangan ultra-olahan, di sisi lain, perlu diperlakukan dengan hati-hati. Kehadirannya mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya. Tetapi tanpa batas yang tegas bisa dengan mudah berubah menjadi kebiasaan harian.
Ada kekhawatiran bahwa anak tidak akan mau makan jika menunya terlalu sehat dan ini akan membuat program MBG tidak disukai anak. Kekhawatiran ini sering dibungkus dengan ujaran yang dianggap normal disampaikan: ”lah mbok ya bersyukur, ini kan gratis, terima saja. Tidak usah menuntut macam-macam”.
Pengalaman beberapa negara maju, bahkan negara berkembang pun menunjukkan sebaliknya. Sekolah adalah ruang yang sangat efektif untuk membentuk kebiasaan baik yang baru, termasuk kebiasaan makan.
Di Australia, intervensi multistrategi (beragam cara digunakan) berhasil untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayur di sekolah. Di Brasil, ”National School Feeding” telah bertahap memperbaiki kualitas pola makan remaja. Di Vietnam, ”Home Grown-School Feeding” telah meningkatkan keragaman pangan sekaligus memperbaiki pilihan menu dan praktik higiene pada anak sekolah dan keluarganya.
Yang sangat menonjol kebagusan programnya adalah Jepang. Dengan jumlah prevalensi obesitas salah satu yang terendah di dunia, hampir semua sekolah dasar dan menengah pertama negeri menyediakan makan siang yang diatur secara nasional. Tidak semua sekolah menyediakan gratis, tetapi yang tidak mampu disediakan bantuan dan pemerintah menjalankan wewenangnya serta memastikan program makan siang sekolah ini aman dan sehat serta terintegrasi dengan program education on food and nutrition (shokuiku). Kepala sekolah wajib mencicipi makanan tersebut sebelum disajikan pada anak sekolah, sebagai salah satu bentuk pengendalian kualitas dan keamanan pangan untuk anak.
Makan siang di Jepang berfungsi sebagai ”buku teks hidup” untuk membentuk pengetahuan, penilaian, kebiasaan memilih makanan sehat sejak dini, serta menjamin keberlanjutan program dengan penggunaan pangan lokal, penghargaan terhadap budaya lokal dan alam.
MBG sangat berpotensi menjadi investasi kesehatan yang membanggakan. Tetapi hanya jika kita berani membaca risikonya sejak awal. Bukan menutupi kekurangannya dengan dalih keterbatasan atau tuntutan rasa syukur sudah diberi makan gratis.
Yang kita butuhkan lebih dari sekadar slogan MBG. Belajar dari Piramida Makanan Amerika Serikat terbaru dan pengalaman beberapa negara, kita butuh kebijakan yang menyehatkan, mencerdaskan, melindungi, dan memuliakan generasi penerus bangsa.
Karena jika salah, menu praktis hari ini akan berubah menjadi tangis atas beban penyakit kronis yang meningkat, tagihan BPJS yang melonjak, dan menggerus kemampuan fiskal di masa depan.
Dwi Linna Suswardany, Ketua Pusat Studi Penyakit Kronis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Member, Traditional Complementary Integrative Healthcare (TCIH)
Penulis:
Dwi Linna SuswardanyEditor:
Johanes Waskita UtamaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan