Meski upaya menerobos blokade Gaza dihentikan militer Israel, para aktivis akan menggelar aksi jalan kaki ribuan orang dari Mesir ke Gaza akhir pekan ini.
11 Jun 2025 09:10 WIB · Internasional
STOCKHOLM, RABU — Aktivis Greta Thunberg kembali ke Stockholm, Swedia, Selasa (10/6/2025) malam, setelah kapal misi kemanusiaan yang ditumpanginya diserbu tentara Israel (Tzahal) di perairan internasional. Selain Thunberg, ada 11 aktivis yang ditangkap. Empat aktivis, termasuk Thunberg, dideportasi dan delapan lainnya masih ditahan, semata karena berusaha masuk ke Jalur Gaza untuk mengirim bantuan kemanusiaan.
Ditanya wartawan apakah Thunberg ketakutan ketika pasukan Tzahal menyerbu kapal mereka? Ia menjawab, ”Yang menakutkan adalah ketika umat manusia mendiamkan genosida yang terjadi di Gaza”.
Thunberg (22) dan rombongan berusaha membawa bantuan makanan dan obat-obatan untuk warga Gaza yang disebut PBB sebagai wilayah dengan kelaparan terburuk di bumi saat ini. Mereka berlayar dengan MV Madleen dari Catania, Pulau Sisilia, Italia, Minggu (1/6/2025). Pada Senin (9/6/2025), kapal mereka disergap dan para aktivis ini diculik di perairan internasional.
Thunberg tiba di Bandara Arlanda, Stockholm, Selasa pukul 22.30 waktu setempat, dengan disambut puluhan orang yang mengibarkan bendera Palestina.
Kepada media, ia mengatakan, keprihatinan terbesarnya adalah Israel berulang kali melanggar hukum internasional dan melakukan berbagai kejahatan perang. Hal paling menakutkan, ujarnya, adalah ketika dunia bergeming menyaksikan kejahatan perang dan genosida oleh Israel berlangsung di Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/10/736da76fc4ecabc69c0c4584528acf60-ISRAEL_PALESTINIAN_CONFLICT_AID_130397877.jpg)
Saat ini, ada lebih dari seribu serdadu Israel didaftarkan di Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang oleh Yayasan Hind Rajab. Nama Yayasan ini diambil dari nama gadis kecil Palestina yang tewas saat mobilnya diberondong ratusan butir peluru Tzahal yang membunuh dia dan keluarganya.
Stasiun televisi Al Jazeera juga mengadakan investigasi dengan teknologi pengenalan wajah dari postingan serdadu Tzahal di Jalur Gaza. Dari data yang didapat Al Jazeera, disebutkan nama para prajurit yang diduga terlibat dalam kejahatan perang di Gaza.
Meskipun upaya Greta Thunberg dan kawan–kawan digagalkan oleh Tzahal, para aktivis kemanusiaan tetap melanjutkan aksi.
Salah satunya, mereka akan menggelar pawai dan berbaris ke Gaza menghimpun ribuan orang dari El Arish, Mesir, menuju perbatasan Gaza, Minggu (15/6/2025) pekan ini. Mereka menuntut Israel membuka blokade dan mengakhiri pembantaian etnis di Gaza.
Thunberg mengatakan, Israel melakukan genosida sistematis dan membuat kelaparan secara sistematis dua juta warga di Gaza. Sebelum perang Israel-Hamas pecah Oktober 2023, Gaza pun sudah dikenal sebagai ”penjara” terbesar di dunia.
Sejumlah kelompok HAM, termasuk Amnesti Internasional, juga menuduh Israel melakukan genosida terhadap bangsa Palestina di Jalur Gaza. Israel dengan tegas menuduh tudingan tersebut.
Mendiang Paus Fransiskus dalam suatu kesempatan juga menduga terjadi genosida di Jalur Gaza. Paus Fransiskus dalam berbagai kesempatan mendorong perdamaian dan mengecam serangan terhadap warga sipil di Gaza yang dilakukan Tzahal.
Pada 18 Desember 2023, Vatican News mengunggah kecaman Paus Fransiskus terhadap pembunuhan yang dilakukan Tzahal terhadap dua perempuan yang beribadah di Gereja Keluarga Kudus, Jalur Gaza.
Terus berlanjutnya serbuan Israel membuat para aktivis mengambil langkah nyata, termasuk dengan berlayar ke Gaza.
”Kita harus bertindak dan mendesak pemerintah mengambil langkah. Kita juga harus bertindak sendiri ketika pemerintah terlibat dalam kejahatan dengan mendiamkan Israel,” kata Thunberg.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/11/7a6ec7a6e3147c297653ecbd7336f93c-wires_photo_2025_06_11T081427.131.jpg)
Badan independen PBB untuk menyelidiki daerah pendudukan Palestina dalam laporan yang dibuka Selasa menyebutkan, Israel menyerbu sekolah, tempat ibadah, dan situs budaya di Jalur Gaza sehingga memenuhi kriteria kejahatan perang dan dianggap berusaha memusnahkan bangsa Palestina.
”Israel telah menghancurkan sistem pendidikan di Gaza dan separuh dari bangunan tempat ibadah,” demikian salah satu isi laporan resmi PBB.
Israel menolak laporan yang dipimpin hakim Afrika Selatan Navi Pillay itu sebagai tindakan bias dan bentuk politisasi Badan HAM PBB. ”Laporan PBB itu sebagai narasi fiktif terhadap perang Gaza,” demikian sanggahan Zionis Israel.
Komisi PBB beranggotakan tiga ahli hukum itu menuduh militer Israel telah melakukan banyak kejahatan perang termasuk serangan langsung terhadap warga sipil, dan menghancurkan banyak sekolah. Komisi tersebut secara khusus dibentuk PBB untuk menyelidiki banyaknya pelanggaran hukum perang dan HAM yang terjadi di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
”Dengan membunuh warga sipil yang berlindung di sekolah dan tempat ibadah, militer Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan dan pemusnahan kelompok manusia,” demikian lanjutan isi laporan itu.
Diungkapkan pula, penghancuran beragam bangunan, termasuk jaringan sekolah, bukan tindakan genosida, melainkan ada niat melakukan genosida dengan menghancurkan kelompok manusia (pengungsi) yang seharusnya dilindungi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/f055724ef558515eb254167d699c9469-000_47AB6WE.jpg)
Pillay, dalam keterangan, mengatakan, kita terus menyaksikan upaya Israel untuk menghabisi bangsa Palestina di Jalur Gaza. Komisi PBB itu mengungkapkan, Israel terus menyerang bangunan tempat ibadah yang dijadikan pengungsian sehingga mengakibatkan ratusan orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak.
Misi Israel di Dewan HAM PBB di Geneva, Swiss, menyanggah laporan PBB dan mengatakan Hamas menggunakan rumah sakit dan sekolah-sekolah untuk persembunyian.
Sebaliknya, Komisi HAM PBB menegaskan, pemerintahan PM Benjamin Netanyahu harus patuh terhadap perintah Mahkamah Kriminal Internasional untuk mencegah genosida dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. (AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari