Pemerintah butuh amunisi untuk bernegosiasi dengan Pemerintah AS dalam merespons kebijakan tarif bea masuk sebesar 32 persen untuk produk-produk Indonesia.
04 Apr 2025 13:03 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS – Pelaku industri tekstil dan keramik berharap Pemerintah Indonesia bisa mengintensifkan diplomasi dan negosiasi dengan Pemerintah Amerika Serikat guna merespons tarif Trump. Salah satu yang bisa ditawarkan adalah impor produk AS seperti kapas dan gas alam cair.
Usulan ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia, Redma Gita Wirawasta, dan Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto secara terpisah, Jumat (4/4/2025). Keduanya menanggapi kebijakan tarif bea masuk sebesar 32 persen yang akan diterapkan pemerintah Amerika Serikat (AS) pada produk-produk ekspor Indonesia mulai 9 April 2025.
Atas persoalan itu, Gita berharap pemerintah Indonesia menempuh jalur diplomasi dan negosiasi dengan pemerintah AS. Salah satunya adalah dengan meningkatkan impor kapas dari AS menjadi minimal 20 persen dari total impor kapas selama ini. Langkah ini ia harapkan bisa berkontribusi untuk menyeimbangkan tarif 32 persen.
Indonesia pada 2023 mengimpor kapas senilai 1,56 miliar dollar AS. Ini menempatkan Indonesia sebagai importir kapas terbesar ke-5 di dunia.
Merujuk The Observatory of Economic Complexity (OEC), situs tentang data perdagangan global, Indonesia pada 2023 mengimpor kapas senilai 1,56 miliar dollar AS. Ini menempatkan Indonesia sebagai importir kapas terbesar ke-5 di dunia.
Pada tahun yang sama, kapas merupakan produk ke-25 yang paling banyak diimpor di Indonesia. Indonesia mengimpor kapas terutama dari China (453 juta dollar AS), Australia (298 juta dollar AS), AS (195 juta dollar AS), Brasil (193 juta dollar AS), dan Vietnam (111 juta dollar AS).
“Industri tekstil kita masih membutuhkan dan mengimpor banyak kapas. Jika kita bisa menggunakan kapas AS lebih banyak, bisa ada pengurangan tarif impor garmen ke Indonesia,” kata Gita.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/8a9dc14bd3904aeda61354efecc8de17-IMG_20250228_190900.jpg)
Gita percaya hubungan erat antarindustri Indonesia dan AS ditambah upaya diplomasi akan sama-sama memberikan keuntungan bagi kedua negara. “Karena kita sama-sama membutuhkan dan harus ada keseimbangan agar industri kita tetap terjaga. Dua tahun terakhir impor kapas kita turun karena industri tekstil nggak sehat,” ujarnya.
Indonesia, Gita menambahkan, selama ini bersaing dengan China, Vietnam, India dalam hal industri tekstil. China yang memberikan defisit kepada AS senilai 292 miliar dollar AS dikenakan tarif 34 persen. Vietnam yang menyebabkan defisit AS mencapai 124 miliar dollar AS dikenakan tarif 46 persen.
India hanya dikenai tarif 26 persen. Padahal, AS mengalami defisit senilai 46 miliar dollar AS dalam perdagangannya dengan India. Sementara Indonesia yang berkontribusi pada defisit perdagangan AS senilai 46 miliar dollar AS dikenai tarif 32 persen.
“(Industri) Kita di posisi empat. Nah, kalau mereka lebih besar hambatan tarifnya, artinya kita punya kesempatan untuk nge-replace market share mereka. Tapi yang menjadi saingan utama ini jadinya industri manufaktur AS sendiri. Kalau dilihat dari resiprokal ini Trump ingin balancing trade yang awalnya defisit,” kata Gita kepada Kompas.
Jika melihat pengenaan tarif impor itu, Gita berpendapat, Indonesia akan bersaing dengan India. Sementara Vietnam dan China akan mengalami hambatan dan tantangan yang lebih berat. Dalam hal ini Indonesia bisa mengambil peluang agar bisa bersaing dengan India dan terutama kepada AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/14c3cf93033ea1b51e8166442189dbfc-IMG_20250228_192326.jpg)
Terpisah, Edy Suyanto mengatakan, kebijakan tarif 32 persen oleh AS kepada Indonesia pasti akan banyak berdampak pada berbagai lini sektor industri, termasuk industri keramik. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia harus segera memulai negosiasi dengan AS yang dinilai telah menerapkan secara sepihak besaran tarif impor dan tidak sesuai aturan WTO.
Negosiasi dan diplomasi ini sebagai upaya menyelamatkan industri dalam negeri, khususnya industri keramik. Indonesia termasuk empat besar negara pengekspor keramik ke AS.
Berdasarkan data Asaki, Indonesia mengekspor keramik ke AS dengan kapasitas 251,2 ribu meter kubik dengan nilai sebesar 5.004,9 ribu dollar AS sepanjang 2023. Pada 2024, ekspor keramik turun menjadi dengan kapasitas 172,5 ribu meter kubik dengan nilai 3.008 dollar AS.
Ekspor keramik turun 33,9 persen secara nilai dan turun 31,4 persen secara volume. Menyusul penerapan tarif 32 persen oleh AS, muncul kekhawatiran ekspor keramik pada 2025 akan menurun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/03/14/a02f9325-e911-4892-8be5-475ae043552e_jpg.jpg)
“Untuk menghadirkan neraca perdagangan yang lebih berimbang kepada Amerika Serikat, Indonesia bisa Indonesia memulai pembahasan kemungkinan impor gas alam cair dari Amerika Serikat di mana saat ini Industri keramik nasional mengalami gangguan supply gas dan mahalnya harga regasifikasi gas sebesar 16,77 dollar AS per MMBTU. Ini saatnya Indonesia membuka keran impor gas,” kata Eddy.
Hal penting yang perlu diperhatikan serius oleh pemerintah terkait harga regasifikasi gas sebesar 16,77 dollar AS per metrik british thermal unit (MMBTU) itu adalah pelemahan rupiah pasca pengumuman tarif oleh Trump. Pelaku industri harus membayar harga gas menggunakan dollar AS sehingga akan menambah beban.
“Selama ini industri keramik ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula karena selain dikenakan harga teramat mahal 16,77 dollar AS per MMBTU, juga harus membayar biaya gas dalam bentuk dollar AS,” katanya.
Eddy tidak keberatan jika di dalam negosiasi dengan AS, bea masuk impor keramik dari AS yang saat ini 5 persen dinolkan selama tidak melakukan praktek kecurangan seperti dumping. Ia yakin produk keramik nasional tidak kalah berdaya saing terhadap produk keramik buatan AS.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/24/7627d8ee-b1ce-4f5b-a1f7-cf3b5d9bae11.jpg)
Mitigasi risiko lain, Eddy mengingatkan adanya potensi banjir produk keramik dari India yang selama ini menjadi exportir keramik terbesar ke AS setelah keramik China dikenakan tarif antidumping 200 persen hingga 400 oleh AS.
“Asaki juga akan segera mempersiapkan pengajuan antidumping untuk keramik dari India yang naik signifikan dari tahun ke tahun sebesar ratusan persen,” jelas Eddy.
Asaki saat ini juga sedang mengamati volume impor keramik dari China pasca PMK BMAD (Peraturan Menteri Keuangan Bea Masuk Anti Dumping) sejak Oktober 2024. Ia khawatir skema itu kurang efektif karena besar BMAD untuk mayoritas tipe produk keramik impor hanya berkisar 25 persen hingga 30 persen
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/12/7c882a19-154e-4466-8e6d-a2f48eb44904.jpg)
Di saat semua negara menerapkan praktik proteksionisme, Asaki juga mengharapkan pemerintah konsisten mendorong program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) melalui sertifikasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Kebijakan ini terbukti efektif membantu penyerapan produk dalam negeri atau menciptakan permintaan bagi Industri keramik nasional.
Asaki juga mendorong Pemerintah Prabowo segera menjalankan Program 3 juta rumah yang akan memberikan banyak dampak berganda bagi industri bahan bangunan. Misalnya adalah ubin keramik, sanitary ware, genteng keramik, serta tableware keramik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/6ccb8f5a90d2dfc0e507b60de7c851c9-1e7f116c_048d_4232_8cab_7cc54499c543_png.png)
Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel dalam keterangan tertulisnya mengajak semua pihak, khususnya kepada pemerintah untuk menjaga dan menyelamatkan Indonesia dari dampak kebijakan Trump.
“Langkah Trump ini akan memiliki dampak yang besar bagi Indonesia. Hanya ada satu kalimat,mari kita jaga dan kita selamatkan Indonesia dari bahaya di depan mata kita,” katanya, Kamis, (3/4/2025).
Menurut Gobel, sebelum ada perang dagang, ekonomi Indonesia mengalami deindustrialisasi dengan tutupnya sejumlah pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK). “Ada kemungkinan hal itu akan berlanjut semakin dalam,” katanya.
Dampaknya, ia melanjutkan, pengangguran bisa semakin meningkat. Pada sisi lain, ada kecenderung nilai rupiah terus melemah terhadap sejumlah mata uang asing.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/03/04bdedf3ed587705439104b1689223d8-000_38W44KF.jpg)
Gobel menyarankan agar pemerintah memberikan kemudahan dan deregulasi perizinan bagi yang akan berinvestasi di Indonesia. Kedua, memberikan insentif pajak dan tarif bagi dunia usaha.
Ketiga, jaga pintu-pintu masuk Indonesia dari barang selundupan. Keempat, melarang secara permanen impor tekstil dan produk tekstil bermotif kain tradisional Indonesia seperti batik, tenun, maupun sulam.
Kelima, melarang secara permanen impor pakaian bekas. Keenam, pemerintah membantu mencarikan pasar ekspor baru. Ketujuh, pemerintah harus melakukan perundingan dengan pemerintah Amerika Serikat untuk menurunkan tarif. Kedelapan, lindungi dan jaga pasar dalam negeri dari serbuan produk impor.
Menurut Gobel, kebijakan tarif Trump akan membuat semua negara berlomba-lomba memberikan insentif bagi eksportirnya untuk mencari pasar baru.
“Barang-barang dari China dan Vietnam bisa banjir ke Indonesia. Ini yang harus dicegah. Kita harus melindungi pasar dalam negeri dari serbuan impor, salah satunya melalui penegakan aturan TKDN,” katanya.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari