Guru yang Terus Belajar, Kunci Meningkatkan Kualitas SDM

Sebagai teladan, guru harus terus belajar mengembangkan kompetensinya agar bisa memberikan contoh yang baik bagi para peserta didik.

03 Des 2024 14:27 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

Pengembangan kompetensi guru dinilai menjadi salah satu faktor kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Guru yang menghadapi peserta didik dengan karakter berbeda dan berkembang harus terus beradaptasi agar pembelajaran efektif dan relevan.

Kompetensi itu bisa didapat dari bangku kuliah saat guru menempuh pendidikan atau dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang disediakan pemerintah melalui Pendidikan Profesi Guru. Selain itu, guru perlu memperkaya ilmu pedagoginya melalui beragam pelatihan lain.

Rachmi Ramdhini (30), guru SDN Melong Asih 4, Kota Cimahi, Jawa Barat, menyadari dirinya harus beradaptasi dengan anak zaman sekarang.

Pembelajaran semasa ia kuliah atau pelatihan cukup berbeda dengan kebutuhan anak zaman sekarang yang lebih melek teknologi tapi tetap butuh bimbingan.

Quote

Kalau guru tidak terbiasa membaca dan menulis bagaimana anak-anak kita bisa mengikuti.

Merasa tak cukup dengan hanya berbekal ilmu semasa kuliah dan mengikuti pelatihan dari Dinas Pendidikan, Rachmi mencoba berbagai pelatihan dari Tanoto Foundation melalui program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran).

Rachmi Ramdhini (30) tengah mengajar siswanya di SDN Melong Asih 4, Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (27/11/2024).

Selama seharian penuh pada 12 November 2024, dia mengikuti materi literasi media agar bisa berbagi pengalaman sebagai guru melalui media massa. Dalam pelatihan itu, Rachmi dan guru-guru lain diajak menuliskan metode ajarnya untuk menginspirasi guru-guru lain dengan format lebih mudah dibaca khalayak umum.

"Guru sudah bisa menulis, tapi tak semua guru bisa menulis untuk berbagi pada masyarakat melalui media, jadi saya ikut karena saya butuh untuk menambah ilmu," kata Rachmi.

Menurut dia, guru harus menjadi seorang pembelajar juga, tidak hanya mengajar kepada anak. Ini juga sebagai tanggung jawab guru untuk permasalahan literasi dan numerasi di dunia pendidikan Indonesia.

Dalam pelatihan tersebut, guru dituntut untuk tak berhenti atau lebih sering membaca lalu menulis. Setelah terbiasa membaca dan menulis, guru secara tidak langsung memberikan keteladanan bagi peserta didik untuk menguatkan literasi dan numerasi mereka.

"Jadi masalah ini harus diatasi dari gurunya dulu. Kalau guru tidak terbiasa membaca dan menulis bagaimana anak-anak kita bisa mengikuti, budaya menulis tidak terlepas dari kebiasaan membaca," ucapnya.

Selain mengikuti pelatihan menulis, Rachmi dilatih mengenai metode mengajar. Dia diajak memahami karakter anak-anak zaman sekarang yang lebih melek informasi sehingga tidak bisa hanya didikte, guru harus mampu menjadi teman belajar yang membimbing.

Metode pembelajaran melalui internet dan buku harus seimbang sehingga literasi anak-anak makin tumbuh. Peran guru dalam membimbing anak-anak sangat diperlukan agar mereka melek digital.

"Kalau zaman dulu sama guru itu ada segannya, tapi sekarang harus jadi sahabat, kalau didikte malah dia tak mau belajar. Perkembangan teknologi bukan berarti buruk, justru membuat mereka lebih cerdas. Saya sering bilang ke mereka, boleh bermedia sosial, tapi jangan jadikan standar hidup," tutur Rachmi.

Basic Education Specialist Lead Tanoto Foundation, Golda Simatupang menjelaskan, program PINTAR sejak 2018 ingin meningkatkan pendidikan dasar di Indonesia dengan memperbaiki kualitas pembelajaran dan kepemimpinan sekolah.

Dengan melatih kepala sekolah dan guru, pembelajaran di sekolah bisa meningkatkan kualitas pembelajaran, membuat pelajaran lebih menarik bagi murid, dan meningkatkan manajemen sekolah secara keseluruhan.

Infografik-Persentase Guru Layak Mengajar* Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2021 *** Local Caption *** Infografik-RISET-Persentase Guru Layak Mengajar* Menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2021

Program ini berangkat dari keresahan skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang menurun. Skor PISA Indonesia merosot dari 397 pada 2015 menjadi 359 pada 2022. Pada bidang matematika turun dari 386 menjadi 366 pada periode sama, sedangkan sains turun dari 403 menjadi 383.

"Kami fokus pada peningkatan literasi dan numerasi siswa, dari data PISA dan sebagainya kalau dua kemampuan ini sudah bisa dicapai maka mereka bisa menggapai materi yang lebih dalam di sekolahnya dengan lebih mudah, untuk itu semua harus dimulai dari guru," kata Golda.

Program PINTAR telah melatih lebih dari 20.000 guru dan 10.00 tenaga pendidik yang mengajar di 3.851 sekolah di 34 kabupaten/kota di 5 provinsi. Materi pelatihan yang diberikan kepada mereka bisa menjangkau lebih dari 600.000 siswa.

Konsep pembelajaran yang dilatih yakni berbasis proyek (project-based learning) yang memungkinkan siswa lebih terlibat dalam proses belajar dan mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam kondisi nyata. Hal ini amat penting untuk membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan untuk memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif.

Golda menambahkan, pengembangan kompetensi guru di Indonesia perlu distandardisasi agar semua lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) memiliki metode pelatihan sama. Oleh karena itu, dibutuhkan peta jalan pendidikan jangka panjang yang berkualitas.

Tak hanya bagi guru yang sudah mengajar, standar ini harus diterapkan dalam kurikulum di perguruan tinggi keguruan. Hal tersebut demi mencetak para guru berkualitas yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Permasalahan dalam membuat standar ini kompleks sekali, LPTK punya tantangan masing-masing, terutama di daerah-daerah, sementara PPG sendiri hanya bisa menyaring dari berbagai lulusan," ucapnya.  

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menyempatkan diri untuk menjadi guru mengajar para siswa SDN 59 Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (1/11/2024)

Sementara itu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti mendorong semua pihak terlibat membangun pendidikan di Indonesia. Dalam peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2024, dia minta guru terus mengembangkan diri agar bisa menjadi agen pembelajaran dan juga agen peradaban.

"Guru menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM), generasi bangsa yang melanjutkan perjuangan serta memajukan bangsa dan negara," kata Abdul Mu'ti.

Tiga program prioritas Kemendikdasmen pada pengembangan mutu guru yakni pemenuhan kualifikasi guru dengan memberi kesempatan guru melanjutkan studi ke jenjang diploma 4 (D-4) atau strata 1 (S-1). Kemendikdasmen mencatat, 295.000 guru belum mencapai jenjang itu.

Kedua, meningkatkan kompetensi guru tak terbatas pada kompetensi akademik, pedagogik, moral, dan sosial, tapi juga melalui pelatihan kewirausahaan dan kepemimpinan. Para guru akan dilatih bimbingan konseling dan pendidikan nilai bagi guru kelas dan guru bidang studi.

Ketiga, meningkatkan kesejahteraan guru lewat sertifikasi, bagi guru ASN-PNS (Aparatur Sipil Negara Pegawai Negeri Sipil) dan PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) maupun guru non-ASN. Jadi para guru bisa meningkatkan dedikasi dan mutu pembelajaran.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .